Soliloqui

Aku dan Perjalanan

Pertemuan manusia tiada yang terencanakan. Ini bukan takdir yang terjadi secara absolut. Kita yang menentukan segala yang berjalan pada kehidupan ini, tanpa pernah menyadarinya.

Segala yang terlihat adalah kisah, sedang yang terasa dalam diri setiap makhluk adalah kasih. Aku percaya dengan pesan yang disampaikan perasaan yang begitu sulit terungkap dalam diri ini. Aku pun tak bisa menjelaskan bagaimana, tubuh ini enggan berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada yang mampu aku lihat, kecuali para malaikat yang seolah memberi selamat pada seorang gadis kecil, yang baru tahu tentang makna kebahagiaan.

Ada kata yang tidak bisa dilepas dari kehidupan ini. Ia yang memiliki arti luas dalam segala sudut pengertian di dalamnya. Kali ini, aku melihat kata itu dalam sudut pandang yang tidak masuk akal, dalam logika manusia. Tanpa penjelasan. Semua yang kemudian berubah menjadi kata, yang menyusun bait-bait puisi. Mengisi kembali kertas-kertas yang sempat kosong. Sebelum ini, apa yang ada hanyalah ketidakberdayaanku menghadapi kenyataan hidup, atau mengutuk hidup dengan kebencian yang menjalar hingga hati kecil yang paling dalam.

Kebahagiaan kali ini mungkin hanya sebuah awal dan pasti akan berakhir. Awal yang indah. Tentu, karena segala yang baru bersemi memang begitu memabukkan. Pada akhirnya kita akan lupa, tentang kemungkinan yang akan terjadi. Ketika kita mulai bertemu pada satu titik bernama membosankan, ketidaksetiaan, atau alasan-alasan tidak masuk akal lainnya. Itu biasa terjadi dalam kehidupan yang omong kosong ini. Bagaimana dengan aku? Kadang aku berpikir, bahwa aku bisa mencintai, melampaui batas pengertian cinta itu sendiri. Hingga kadang membuat aku benci karenannya.

Apa yang pernah terjadi membuat aku tidak bisa memahami segala yang ada. Apakah kebahagiaan hanya akan terasa saat terlahir? Atau akan hadir saat melihat saja? Aku teringat kembali dengan bagaimana saat pertama merasakan cinta. Pada akhirnya, semua itu tetap berakhir dan menghancurkan kesetiaan. Hanya alasan yang sederhana untuk mengakhiri semua. Selanjutnya aku menghancurkan diriku sendiri. Ada banyak yang datang mengulurkan tangan, namun aku telah menutup rapat tangan ini, bahkan untuk sekadar menjabat mereka. Nyatanya mereka menganggap semua ini hanya sebuah permulaan.

Aku hanya ingin menikmati setiap hembusan nafas ini tanpa harus memikirkan apa yang akan terjadi. Segala kekurangan yang ada, biarlah aku sendiri yang merasakannya. Semua kelebihan, akan kunikmati sendiri. Tanpa perlu berharap penerimaan dari orang lain, aku akan melukiskan separuh rembulan di langit malam, untuk mereka yang membuatku merasakan kebahagiaan. Meski hanya akan ada di sebagian malam, biar aku menatapnya pada setiap aku menjelang terlelap. Aku akan terjaga pada malam yang menenangkan. Biarkan dari malam ke malam aku memandang rembulan dengan perasaan yang semakin lama memendam rindu, damai, dan tentram. Aku berterimakasih telah diberikan sepotong kesenangan hidup. Aku menyadari masih ada banyak yang indah dalam hidup ini ketika menatap rembulan di atas sana.

Apa yang tertulis kali ini adalah pemahaman seorang gadis kecil dengan segala yang ia pahami. Tentang kebahagiaannya, tentang memilikinya, tentang mengadu kesetiaan, tentang melepaskan, dan tentang bagaimana merelakannya perlahan untuk kemudian menutup hati. Seperti ranting yang kuat, pada akhirnya akan mengering. Juga hari yang terang tidak mampu menahan diri, dari kabut yang menyelimut ketika malam. Seperti itulah, hidupku akan terus berjalan. Biarkan takdir menyimpan rahasia dari perasaan ini untuk seorang yang mampu mempercayainya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Terpopuler

To Top