Bahasa

Anasir Anomali Penggunaan Bahasa Indonesia

http://lppmkreativa.com/wp-content/uploads/2017/10/8239_1-500-Orang-Deklarasi-Penggunaan-Bahasa-Indonesia-di-Ruang-Publik.jpg

Bahasa Indonesia  sebagai alat komunikasi yang menyatukan seluruh bangsa dan suku di Indonesia tidak lepas dari peran para pemuda Indonesia pada zaman pergerakan. Para pemuda yang berasal dari berbagai suku bersatu mengikrarkan diri pada tanggal 28 Oktober 1928 dan menghasilkan apa yang dikenal sebagai Sumpah Pemuda.

Salah satu poin yang dihasilakan yaitu “menjunjung tinggi bahasa Indonesia”. Oleh karena itu, wajar jika, demi menjaga keutuhan bahasa Indonesia, pemerintah membuat UU No. 24 tahun 2009. UU ini mengatur tentang bendera, bahasa, dan lambang negara serta lagu kebangsaan Indonesia.

Wajar juga jika dikatakan bahasa Indonesia wajib digunakan dalam berbagai aspek kehidupan di negara ini. Tapi, harus diingat penggunaan bahasa Indonesia biasanya disesuaikan dengan konteks tertentu, apakah formal atau nonformal.

Sayangnya, sekarang penggunaan bahasa Indonesia justru terancam dengan banyak penggunaan istilah bahasa asing, bahasa daerah, dan bahasa gaul. Istilah ruwet, mbledug, round down, sharing, cool, schedule, event, update, download, dan lain-lain yang pastilah tidak asing di telinga kita.

Meskipun awalnya digunakan untuk membuat suasana tidak tegang, namun penggunaan bahasa asing atau bahasa daerah ini menjadi terbiasa. Bahkan, hal ini seperti turun-temurun diwariskan anatrgenerasi. Padahal, kata-kata di atas bisa saja diganti dengan padanan kata dalam bahasa Indonesia. Mengapa bisa terjadi demikian?

Penggunaan bahasa Indonesia yang kacau tidak begitu saja terjadi. Hal ini bisa terjadi faktor dari dalam diri individu. Pertama, orang mungkin tidak merasa bangga dengan bahasa Indonesia dan lebih mencintai bahasa asing. Orang tersebut lebih mengenal bahasa lain terlebih dahulu sebelum bahasa Indonesia.

Selain itu, ada juga orang yang tidak lahir di Indonesia, tetapi memiliki orang tua yang lahir di Indonesia. Orang tuanya cenderung mengenalkannya dengan bahasa negara setempat agar anak dapat bergaul dengan masyarakat negara tersebut.

Kedua, orang lebih banyak mempelajari bahasa asing daripada bahasa Indonesia karena uniknya budaya luar. Ketiga, individu terlalu meremehkan bahasa Indonesia sehingga menggunakannya dengan asal-asalan. Orang tersebut mungkin merasa mengenal bahasa Indonesia sejak lahir sehingga dia tidak perlu mempelajari dan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik.

Terakhir, ada penilaian individu terkait kurang populernya bahasa Indonesia di kalangan internasional. Padahal, bahasa Indonesia telah diajarkan di 46 negara di seluruh dunia, dan seharusnya kita berbangga bahasa kita dapat dikenal dunia. Jangan sampai negara lain lebih membanggakan bahasa Indonesia dan mengklaim kepemilikannya.

Penggunaan bahasa Indonesia yang kurang di ruang publik bisa juga terjadi karena faktor luar individu. Pertama, individu tersebut tidak mendapat pendidikan bahasa dari keluarganya. Orang tua dan anak lebih sering menggunakan bahasa daerah untuk alat komunikasi di rumah daripada bahasa Indonesia.

Kedua, anak juga kurang mendapat pendidikan bahasa di sekolah. Data dari UNICEF tahun 2016 mengungkapkan sebanyak 2,5 juta anak Indonesia putus sekolah. Anak menjadi minim pengetahuan bahasa Indonesia sehingga anak masih terbatas dalam menggunakannya  dan mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa daerahnya.

Ketiga, lingkungan pergaulan dengan teman sebaya juga memengaruhi munculnya penggunaan bahasa gaul. Bahasa gaul tercipta karena anak muda merasa bahasa Indonesia baku terlalu sulit dan kaku. Bahasa gaul dianggap lucu dan mudah dipahami untuk proses komunikasi. Karena itulah bahasa gaul sering dijumpai pada saat mengakses media sosial dan situs internet sehingga orang tersebut cenderung menggunakannya.

Lalu terakhir, minat baca orang Indonesia yang masih rendah. UNESCO mengungkapkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Angka yang memprihatinkan tersebut memengaruhi pemahaman orang Indonesia terhadap kosakata sehingga perbendaharaan mereka terbatas dan kurang variatif. Penggunaan bahasa Indonesia di hadapan publik terkesan monoton dan membosankan.

Cobalah kita berkaca pada Jepang, Prancis, Tiongkok  dan negara-negara lain yang merasa bangga menggunakan bahasanya sendiri. Mereka tetap menjaga dan bahkan menggunakan bahasa mereka untuk berkomunikasi dengan turis yang datang. Meskipun demikian, mereka juga mempelajari bahasa asing untuk menghimpun pengetahuan untuk menghadapi  globalisasi.

Selain itu, kita sebaiknya menanamkan rasa bangga dan percaya diri dalam menggunakan bahasa Indonesia. Kita memulai kebiasaan berbahasa Indonesia dari lingkungan keluarga.

Kemudian, kita sebaiknya membangun bersemangat dalam menuntut pendidikan dan minat baca bangsa Indonesia. Selanjutnya, kita lebih menyaring penggunaan kata untuk berkomunikasi di depan umum. Terakhir, kita membiasakan diri untuk menggunakan padanan kata bahasa Indonesia sesuai konteks tanpa perlu menggunakan kata asing, terutama di tempat umum.

Harapannya, masyarakat Indonesia minimal mencintai bahasa Indonesia dan dengan bangga mau mempelajarinya. Kemudian, penggunaan bahasa Indonesia secara intensif bisa memengaruhi alam bawah sadar secara halus. Sehingga, selanjutnya masyarakat Indonesia bisa menggunakan bahasa tercinta ini bahkan tanpa perlu disadari.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Terpopuler

To Top