Klenengan

Angkringan Surga

Batin saya gemetar kalau suatu waktu makan di sebuah angkringan dan ketika membayar, ternyata mahal. Mahal di sini adalah mahal ukuran angkringan. Jangan disamakan dengan warung makan apalagi restoran. Tentu saja terbentang perbedaan yang sangat jauh.

Saya gemetar karena membayangkan kondisi kantong yang begitu mudah kritis. Selain itu, saya tidak terbiasa makan di angkringan yang harga makanannya mahal. Angkringan langganan saya adalah angkringan surga. Di sana, harga makanannya murah-murah sekali.

Sebaiknya saya paparkan secara lebih rinci agar jelas. Ini mungkin bukan masalah yang penting dan besar, tapi hanya sekadar keresahan saya belaka. Saya tidak akan lega sebelum mengutarakan semua keresahan ini.

Sekitar dua tahun yang lalu, saya lupa bagaimananya, tiba-tiba saya sudah duduk manis di sebuah angkringan di pelosok Pleret, di Bantul. Saya perhatikan nasi yang dibungkus di sana.

Foto: M. Fajar R.

Orang sering menyebutnya nasi kucing. Tapi nasi kucing ini aneh. Umumnya nasi kucing pada dua tahun lalu, berarti tahun 2016, ukurannya sudah kecil. Makin lama makin ciut. Anehnya, bungkusan nasi yang saya hadapi justru besar–lambang bahwa isi di balik bungkusan itu pastilah banyak.

Lalu saya menduga-duga kalau harganya pasti lain dari yang lain. Lebih mahal? Jelas saya menduga begitu. Tapi ternyata, wah, saya salah besar. Harganya hanya 1.000 saja. Itu ketika tahun 2016 ya. Catat! Ingat-ingat!

Dan, ketahuilah, hal yang lebih mengherankan lagi adalah, harganya masih sama tahun 2018 ini. Masih tetap 1.000. Dulu, selain harga nasi yang hanya 1.000, disediakan juga sambal tomat yang enak sekali rasanya. Sambal boleh diambil secara bebas, untuk pendamping makan nasi. Cuma inilah yang sekarang tidak ada lagi.

Foto: M. Fajar R.

Tapi belum! Belum selesai keheranan saya. Di sana, es susu atau susu panas, harganya 2.000. Es teh harganya 1.500. Tidak menyediakan es jeruk. Entah kenapa. Ketika saya tanya, jawabannya kurang terdengar jelas oleh telinga saya. Sebab suasananya sangat ramai.

Lalu, es marimas semua rasa, harganya 1.000. Kopi hitam harganya 1.500. Sedangkan mendoan harganya 500, dan bakwan harganya 500, padahal ukurannya bagiku lebih besar dari umumnya mendoan dan bakwan. Lalu, untuk ‘klethik-klethik’, harganya 500 juga.

Dan, masih belum, sungguh masih belum. Di sana boleh tidak bayar cash. Dalam kata lain, berhutang. Tapi yang dibolehkan berhutang adalah orang-orang yang sudah dapat cap ‘baik’ dari penjualnya. Jadi, untuk menguji cap apa yang diberikan kepada kita, bisa kita lihat dengan mencoba berhutang di sana. Boleh atau tidak. Hasilnya membuat kita mengerti, seperti apa kita di mata penjual.

Foto: M. Fajar R.

Suatu hari saya mencoba merenung. “Dari mana penjual angkringan itu mendapat untung? Yang dijual semuanya murah. Menyediakan sambal tomat. Boleh berhutang. Kok tidak masuk akal ya kalau dipikir-pikir?”

Saya merasa mendapat sedikit gambaran setelah mendengar jawaban penjual angkringan ketika saya tanya soal keuntungan berjualan. “Kita di sini semua saudara. Saudara seiman setaqwa. Jadi kalau bisa, ya, saling memberi manfaat satu sama lain. Biar tentrem!”

Itulah angkringan surga!!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

To Top