Sastra

Batasan Waktu?

Bukan untuk kurenungi sendiri. Tapi, aku ingin bertanya dan memaksamu untuk ikut memikirkan. Ketika aku berjalan dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, mengapa mereka justru berlari dalam mencapai tujuan? Haruskah secepat itu? Sedang mereka harus rela terjatuh dan bertabrakan dengan alasan tergesa-gesa. Mereka seperti tidak menikmati setiap langkah yang mereka lakukan. Bahkan, mungkin tidak peduli dengan tanah yang mereka pijak. Mereka hanya perlu berlari. Berlari saja. Agar tujuan itu cepat mereka dapat. Tidak peduli dengan proses yang mereka lewati.

Kini, apakah yang menjadi ukuran sebuah kesuksesan? Sebagian besar orang pasti akan berkata bahwa orang sukses adalah orang yang berhasil. Ya, mereka menyebut kata hasil. Dan sukses tidak akan jauh dari hasil akhir. Akhir dari apa yang ingin dicapai. Capaian dari apa yang telah mereka lakukan. Tunggu dulu. Lantas apa yang telah mereka lakukan? Apakah semua itu turut diperhitungkan dalam mengukur kesuksesan? Atau justru lebih banyak orang yang menutup mata dan terpaku pada hasil akhir?

Saatnya aku dipaksa berbicara tentang proses. Nampaknya, sebagian orang bijak di dunia ini sudah mulai menghargai proses. Tapi hanya sebagian saja. Hanya sebagian pula yang mengakui bahwa kesuksesan masih merupakan sebuah proses. Proses untuk mempertahankan kesuksesan itu dan menuju sukses berikutnya yang lebih besar. Positif memang. Dan akan sangat bagus ketika kata-kata itu benar-benar berguna dan dipertimbangkan. Kenyataannya? Duniaku tidak begitu.

Setiap kali aku memandang dunia di sekelilingku, sebagian besar yang kulihat adalah mereka yang berlari cepat. Bahkan tangga yang seharusnya didaki satu per satu, dengan bangga mereka lompati. Yang penting sampai atas paling cepat. Yang penting tujuan lekas didapat. Resiko dan dampak buruk sudah bukan pertimbangan besar. Kata mereka, takut kalau-kalau terlambat, nanti sasarannya dimakan waktu.

Sekarang, aku mulai sedikit paham. Mungkinkah mereka berlari cepat karena mereka terlalu takut dengan waktu? Waktu yang mereka anggap bencana besar yang harus dihindari. Jangan sampai dekat. Jangan sampai menghimpit. Itulah sebabnya mereka ingin semuanya cepat selasai. Inikah budaya cepat yang mereka harapkan? Kemudian, dengan bangga mereka akan merasa menang atas waktu yang mengejar dan menghantui.

Akan tetapi, kenapa justru waktu yang disalahkan? Mengapa tidak kemalasan? Malas untuk memijakkan kaki dengan penuh kehati-hatian. Malas untuk menaiki tangga satu per satu. Malas untuk meniti setiap proses. Dan malas untuk berjuang dengan lebih sabar. Mengapa tidak kemalasan yang disalahkan? Jika waktu ini kita hentikan, lalu kita dipersilakan untuk melakukan apa yang kita inginkan, mungkinkah kita akan dengan sabar meniti setiap prosesnya? Atau lagi-lagi kita memilih opsi yang lebih cepat? Sedang waktu sudah dihentikan. Tidak akan mengejar. Namun cara singkat masih tetap jadi pilihan.

Pertanyaanku kali ini bukan mengapa mereka ingin cepat lagi, tapi lebih dari itu. Ini masalah kesabaran dalam hidup dan kata cepat yang kutanyakan dari tadi erat hubungannya dengan kemudahan. Pertanyaannya sekarang, masih adakah orang sabar di duniaku? Apakah semua orang adalah pecinta kemudahan? Ketika kecepatan dan kemudahan dalam mencapai tujuan sudah didapat, lalu apa lagi yang kurang? Ini adalah angin segar bagi para pendamba hasil akhir dan orang-orang yang takut dengan waktu. Tapi tidak untuk orang-orang yang mempertimbangkan ketepatan serta menghargai proses dan perjuangan.

Tidak akan berakhir jika akau masih terus bertanya kepadamu dan diriku sendiri. Karena ini bukan soal kita berdua saja. Dunia yang membisu dan merasa benar dengan apa yang ia lakukan seharusnya angkat bicara. Sadar bahwa kesabaran adalah bagian dari budaya kita. Bukan budaya cepat itu. Kita hanya perlu menikmati setiap proses yang kita lakukan. Mencapai hasil akhir dengan cara yang seharusnya. Bisakah?pocket-305733_960_720

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Terpopuler

To Top