Cerita Pendek

BATU YANG HILANG

– Anita Nurrohmah

          Kota yang tenang. Sangat tenang hingga kau tak akan menyangka ada kehidupan di dalam sana. Sebuah kota mungil pinggiran yang dikelilingi barisan pegunungan tinggi menjulang. Aman dan nyaman, tak pernah ada keributan. Semua hidup dengan tenang, setenang cemara yang bisa kau pandang dari kejauhan. Penduduknya rukun dan menyenangkan, jarang ada yang berselisih atau bersalah paham. Seharusnya kau senang hidup di kota seperti itu. Namun, tidak dengan seorang polisi yang duduk gelisah di meja kerjanya.
Ia sudah bertahun-tahun bekerja menjadi seorang polisi. Tak pernah satu kasus pun ia tangani. Hanya melamun dan melamun di ruangannya. Polisi itu merasa hanya makan gaji buta. Tak ada kebanggan yang bisa ia ceritakan pada anaknya. Tak ada kasus yang bisa ia diskusikan dengan istrinya. Ia merasa tak ada bedanya dengan pengangguran. Ia merasa kota ini tak butuh polisi, kota ini lebih membutuhkan badut untuk hiburan. Lalu apakah ia harus beralih profesi menjadi badut? Atau pemain drama saja? Ia rasa wajahnya cukup tampan.
Di tengah lamunannya, datanglah orang bawahannya membawa sebuah kasus yang selama ini ia rindukan. Maka berseri-serilah wajah kusutnya. Ia sambut opsir itu dengan senyum merekah.
“Kasus apa yang kamu bawa itu, Opsir?” tanya Si Polisi.
“Bukan kasus yang besar, Pak. Hanya kasus pencurian ringan.” Jawabnya.
“Ah apapun itu, hargailah pekerjaanmu, Opsir. Sudah lama kita tidak bergerak. Apa kamu tak malu pada anak istrimu?”
“Iya, Pak.” Opsir itu tersenyum sambil undur diri. Sepeninggalannya, Si Polisi mulai membaca kasus pertamanya dengan antusias. Ia agak mengerutkan kening.
“Kasus pencurian batu? Kenapa ada orang yang mau-maunya mencuri batu? Dan kenapa pula ada orang yang melaporkan kehilangan batu?” Si Polisi tak habis pikir. Untuk menghilangkan rasa penasarannya sekaligus mempertajam kejelasan kasus ini, maka Si Polisi memanggil si pelapor keesokan harinya.
Ternyata si korban adalah Pak Kumis, tetangganya sendiri. Maka ia tanyakan perihal laporan Pak Kumis mengenai batunya.
“Betulkah Pak Kumis kehilangan sebuah batu?”
“Betul, Pak.” Jawab Pak Kumis dengan tenang.
“Betulkah Pak Kumis yakin kalau batu itu hilang karena dicuri?”
“Betul, Pak.”
Polisi menghela nafas sejenak. Agak memberi jeda untuk pertanyaan selanjutnya.
“Betulkah itu hanya sebuah batu? Kenapa sampai Anda laporkan ke polisi? Toh cari lagi di sungai juga banyak.”
Bukannya menjawab, Pak Kumis malah berang. Ia melonjak sambil menggebrak meja.
“HANYA SEBUAH BATU? ANDA TIDAK TAHU ITU BUKAN HANYA SEBUAH BATU. BATU ITU SANGAT PENTING UNTUK KELUARGA SAYA. ANDA TIDAK MENGERTI PAK POLISI!” Jantung Si Polisi berdegub kencang. Baru kali ini ia dibentak. Penduduk kotanya bisa jug membentak. Pikirnya.
“Tenang, Pak Kumis. Maafkan kekeliruan saya. Sebaiknya anda ceritakan kronologisnya agar saya mengerti dan tidak terjadi kesalahpahaman.” Jawab Si Polisi menenangkan.
“Batu itu saya dapatkan dari kota sebelah. Anda tahu kan untuk sampai di kota sebelah, kita harus melewati gunung dan sungai dulu.” Pak Polisi manggut-manggut. “Di Kota sebelah, batu semacam itu sedang banyak digandrungi orang. Baik laki maupun perempuan banyak yang memakainya ke mana pun. Saya diberi oleh kenalan saya, siapa tahu laku mahal. Maka saya bawa pulang untuk dijual ke pasar esok paginya. Tapi diluar dugaan, batu itu malah hilang. Batu itu hendak saya jual untuk membeli ayam. Ayam-ayam itu hendak saya ternakkan. Dari hasil ternak ayam bisa buat beli beras. Buat makan anak-anak saya. Jika anak-anak saya tidak makan, anak saya bisa mati, Pak. Bapak mau tanggung jawab kalau anak-anak saya mati?” Pak Polisi agak terkejut dengan kembalinya emosi Pak Kumis. Ia mencoba tersenyum untuk menenangkan. Pak Kumis melanjutkan cerita panjangnya. “Pencuri ini tidak bisa dibiarkan, Pak. Harus segera ditangkap! Bukan hanya mencuri, Pak. Ia mencoba membunuh anak-anak saya. Karena ia mencuri batu itu, maka anak saya bisa mati kelaparan.” Pak Polisi tersentak dengan akhir cerita Pak Kumis. Maka kasus pencurian tersebut naik pangkat menjadi kasus Rencana Pembunuhan.
            Tak ingin membuang waktu, Pak Polisi langsung mencari jejak si pelaku keesokan harinya. Mula-mula ia mendatangi rumah Pak Kumis. Hari itu ia amat sibuknya, jika biasanya ia hanya duduk-duduk saja di ruang kerjanya, maka ini hari yang istimewa.
“Kapan terakhir kalinya bapak melihat batumu?” tanyanya pada Pak Kumis.
“Dua hari yang lalu, Pak. Dua hari yang lalu batu itu digosok anak sulung saya.” jawab Pak Kumis sejujurnya. Pak Polisipun menanyai anak Pak Kumis.
“Apa benar kamu menggosok batu ayahmu dua hari yang lalu, Nak?” tanyanya dengan ramah.
“I-iya, Pak. Siang itu s-saya menggosoknya agar mengkilap. Tapi sumpah, Pak! Bukan saya pencurinya.” Anak itu buru-buru menambahkan dengan ketakutan.
“Tidak, Nak. Tidak ada yang menuduhmu mencurinya, tapi di mana kau letakan setelah kau gosok?”
“Saya menjemurnya di atas jerami, Pak. Batu itu bersinar-sinar di bawah matahari, Pak. Tapi setelah itu saya bermain ke padang rumput dengan teman-teman.”
“Lalu di mana jerami itu sekarang?”
“Setiap sore jerami itu diambil oleh Pak Jenggot untuk makan ternak, Pak.”
“Jadi Pak Jenggot yang mencuri batuku?” Sela Pak Kumis dengan lantangnya.
“Sabar, Pak. Tenang dulu, belum tentu ia pelakunya. Sebaiknya kita tanyakan langsung pada Pak Jenggot.”
Maka berangkatlah Pak Polisi dan Pak Kumis ke rumah Pak Jenggot.
 
***
 
“Yang saya ambil itu jerami bukan batu! Apa Pak Polisi tidak mengerti bahasa saya? kenapa bapak menuduh saya sebagai pencuri?”
“Maaf, Pak. Saya tidak menuduh bapak. Saya hanya bertanya, sebaiknya bapak jawab saja di mana jerami itu sekarang.” Lagi-lagi Pak Polisi dikejutkan oleh bentakan penduduk kotanya.
“Yaa sudah dimakan kambing saya. Jerami itu kan memang buat makan kambing saya.”
“Lalu di mana kambing bapak sekarang?”
“Sudah saya jual ke Nyonya Gemuk yang tinggal di atas bukit.”
            Maka bergegaslah mereka ke rumah Nyonya Gemuk. Dan seperti yang sudah ditebak Pak Polisi, Nyonya Gemuk marah-marah.
“Jadi kambing yang saya beli itu memiliki barang curian? Dan anda kemari karena merasa barang curian itu kini ada pada saya? Anda merendahkan harga diri saya Pak Polisi.”
“Saya tidak menuduh anda mencuri. Baiknya anda katakan saja dimana kambing itu sekarang.” Jawab Pak Polisi tenang karena mulai terbiasa dengan perangai pendudukya yang baru saja ia ketahui belangnya.
“Sudah saya giling dagingnya di tempat Kakek Bertopi.” Jawab Nyonya Gemuk sama angkuhnya sejak semula.
            Maka penyelidikan berlanjut ke rumah Kakek Bertopi. Tidak seperti lainnya yang menjawab dengan marah atau ketakutan, Kakek Bertopi menjawabnya dengan biasa.
“Iya benar, Pak. Nyonya Gemuk menggilingkan daging kambingnya di tempat saya. dan seperti biasa, penggiling itu saya cuci di sungai setelah digunakan.”
            Maka sudah bisa ditebak, mereka kini menuju sungai. Sebenarnya Pak polisi sedikit bingung untuk memulai pencarian di sungai. Apakah ia akan menyusuri sepanjang sungai atau mennyelam ke dalammnya? Beruntung di situ ada seorang pemuda mabuk yang sedang memancing.
“Hei, Pemuda Mabuk! Apakah kamu melihat batu Pak Kumis di sekitar sini?”
“Benar, Pak. Saya menemukan batu menarik saat memancing. Bentuknya indah dan bersinar-sinar” jawab pemuda itu dengan riangnya. Berserilah wajah Pak Polisi dan Pak Kumis. Penyelidikan melelahkan mereka akan segera berakhir.
“Di mana batu itu sekarang hei, Pemuda Mabuk?”
“Sebentar, Pak Polisi.” Pemuda Mabuk mengais-ais kantung kumalnya. Mengeluarkan sebuah batu… Bukan, itu batu karang.
“Bukan itu batu saya, Pak Polisi. Batu saya kecil dan hijau warnanya. Batu kecil untuk dibuat cincin. Bukan batu berlubang-lubang untuk rumah ikan.” Pak Polisi bingung dan kecewa. Ternyata mereka salah dan penyelidikan ini masih harus di lanjutkan.
“Apa batu anda berbentuk bulat seperti bisul dan mengkilat licin sebesar kelereng Pak Kumis?” Tanya Pemuda Mabuk.
“Ahh benar, benar. Apa kamu sekiranya pernah melihatnya?”
“Pernah, Pak. Saya melihat batu itu diambil orang di atas jerami.” Mata Pak Polisi dan Pak Kumis membelalak. Sontak mereka melontarkan pertanyaan yang sama.
“SIAPA YANG MENCURINYA, PEMUDA MABUK?”
“I-ibu anda Pak Polisi”
“IBUKU?”
 
***
 
Pak Polisi telah sampai di rumah ibunya. Kini ia bersimpuh dan menangis di depan ibunya.
“Oh, Ibu. Kenapa kau lakukan ini, Ibu? Tidakkah Ibu tahu berat hukumannya untuk sebuah rencana pembunuhan?”
“Ibu tidak pernah menyangka, Anakku. Air yang tenang akan keruh setelah dilempari batu. Ibu tak tahu, Anaku. Ikan akan terlihat belang setelah di kelupas sisiknya. Tapi satu yang Ibu tahu. Seorang Ibu akan melakukan apa saja untuk anaknya. Agar kau mendapat pekerjaan, Ibu rela selamanya membusuk di penjara asal kau bahagia bersama keluargamu. Maafkan Ibu, Anakku.” Sang Ibu membelai lembut kepala putranya. Buliran bening menggenang di sudut mata rentanya. Namun, ia tersenyum lega.
 
END
 
 


Yogyakarta, 27 April 2015
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Terpopuler

To Top