Buku

Bibliofil Atau Bibliomania?

Resensi Buku Rumah Kertas Bibliofil atau Bibliomania featured image

Kecintaan terhadap buku, sebagaimana terhadap banyak hal lain, bisa mencapai taraf ekstrem. Di kalangan penggemar buku, orang yang sangat mencintai buku biasa disebut kutu buku, atau, yang mungkin lebih mentereng: bibliofil.

Secara harfiah, istilah bibliofil (bibliophile) bisa diterjemahkan menjadi “pencinta buku”. Istilah ini hampir bersinggungan dengan istilah lain yang peyoratif, yaitu bibliomania. Istilah yang terakhir merujuk pada penyakit jiwa yang muncul karena kecintaan yang tak normal pada buku.

Nah, kendati Carlos Brauer dalam jagat novel tipis Rumah Kertas ini diakui sebagai bibliofil, tetapi perilakunya mungkin memancing kita untuk melekatkan gelar bibliomania kepadanya. Setidaknya, cara berkisah Carlos Maria Dominguez dalam buku ini mendorong kita untuk bersikap demikian.

Pasalnya, perilaku Brauer itu disingkapkan sedikit demi sedikit dengan memikat, dimulai dengan kematian seorang profesor sastra Amerika Latin di sebuah universitas terkemuka di Inggris lantaran tertabrak mobil saat membaca buku karya Emily Dickinson, pengarang soliter Amerika itu.

Lalu sebuah buku dikirimkan ke alamat si aku – yang tak disebutkan namanya – dari Uruguay – tetapi tanpa alamat pengirim yang jelas. Buku itu tampak unik karena ternoda ceceran semen. Awalnya, meski penasaran, si aku tak ingin menelusuri asal buku misterius itu.

Namun, rasa penasarannya lebih besar sehingga ia terbang melintasi Atlantik dan kembali ke Argentina, kampung halamannya, sembari membawa buku maut itu, lantas menyeberang ke Uruguay.

Ketika ia bertemu orang yang kompeten, orang itu justru bergidik ngeri melihat buku itu dan memberikan keterangan yang semakin memancing rasa penasaran. Di antaranya adalah bahwa Brauer pernah memiliki affair singkat dengan profesor sastra yang tewas tertabrak mobil itu.

Hal menarik lainnya adalah bahwa Brauer diketahui memiliki koleksi puluhan ribu buku yang kemudian dipindahkannya ke sebuah daerah terpencil di tepi laut. Uniknya, buku-buku itulah yang digunakannya untuk membangun rumah – dalam arti denotatif – di sana.

Seorang kutu buku tentu mencintai dan merawat buku-bukunya sedemikian rupa. Tetapi, menjadikan buku-bukunya sebagai batu bata yang direkatkan dengan semen sehingga menjadi dinding rumah tinggal tentu membuat alis kita terangkat.

Alasan di balik pembangunan rumah dari bahan kertas – buku terbuat dari kertas, bukan? – agaknya juga cukup romantis. Kita bisa menduga bahwa ia melakukan itu karena begitu mencintai si profesor sastra yang tewas itu, sehingga ketika si profesor mati, Brauer kehilangan orientasi hidup.

Jadi, apakah Brauer seorang bibliofil atau bibliomania?

Resensi Buku Rumah Kertas Bibliofil atau Bibliomania

Rumah Kertas terasa menyenangkan untuk dibaca karena, selain keunikan peristiwa dan tokoh-tokohnya, buku ini juga mendedahkan berbagai segi yang terkait dengan buku, baik sebagai karya peradaban maupun sebagai komoditi industri.

Misalnya, Dominguez mengeksplorasi bagaimana para penulis buku seperti terlibat dalam sebuah pertempuran untuk memenangi perhatian khalayak sehingga harus menerapkan “taktik militer” untuk mencapai tujuan itu.

Tentu saja, ada juga eksplorasi tentang berbagai perilaku yang lebih “wajar” terkait dengan kecintaan terhadap buku. Misalnya, tentang cara seorang bibliofil merawat buku-bukunya: disimpan dalam rak atau lemari yang dipelitur agar tahan hewan pengerat.

Cerita Rumah Kertas sebenarnya sederhana, tetapi menjadi memikat lantaran kepiawaian Dominguez menyisipkan eksplorasi tentang perbukuan dan, tentu saja, perilaku bibliofil/bibliomania Carlos Brauer itu.***

Judul: Rumah Kertas
Penulis: Carlos Maria Dominguez
Penerbit: Marjin Kiri
Cetakan: Kedua, Oktober 2016
Tebal: 76 halaman

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Terpopuler

To Top