AKSARA

Buktikan Impian yang Bukan Sekedar Angan-Angan

Hidup bukan sekadar menerima, bukan pula sekadar menjalani, tetapi juga harus mampu menentukan. Hidup bukan seperti sehelai daun yang hanya bisa pasrah menerima takdir. Ia tak akan pernah tahu kapan ia harus gugur mengikuti hembusan angin. Aku, kamu, bahkan kita hidup bukan hanya untuk berdiam diri. Bukan seperti batu yang hanya bisa berdiam dan terus mematung. Bukan pula seperti alang-alang yang hanya bisa bergoyang saat angin mulai menyapanya.

Setiap khitah tidak akan pernah terwujud jika kita hanya terus-menerus termenung tanpa sedikitpun melakukan tindakan. Kita harus tahu, kemana kaki ini harus melangkah, kemana langkah kaki ini akan terus menapak. Apakah harus terhenti di tengah jalan, yang hanya menyisakan jejak ataukah harus terus melangkah hingga garis finish. Tentu bukan hal mudah untuk bisa sampai garis finish. Pasti kita akan menjumpai batu sandungan yang akan menghambat perjalanan. Tinggal kita mampu atau tidak menghadapi semua obstuksi itu. Jika ingin sampai garis finish, tentu langkah itu harus terus berjalan tanpa harus kembali menoleh ke belakang, walaupun harus dengan cara tertatih-tatih bahkan terpincang-pincang.

Setiap kesuksesan tentu akan membutuhkan perjuangan serta pengorbanan. Kita harus berani bertarung meski akhirnya harus berdarah-darah. Memang bukan hal yang mudah, tidak seperti membalikkan telapak tangan untuk meraih kesuksesan itu. Semua orang bercita-cita ingin sukses, namun belum tentu semua orang mau berjuang. Sukses itu pilihan, hanya dirimu sendirilah yang mampu menentukannya. Kita harus selalu ingat, tidak ada orang sukses yang memperoleh kesuksesannya secara tiba-tiba. Pastilah ada pil pahit yang pernah mereka telan sebelum kesuksesan itu mereka dapatkan. Semua orang memiliki keinginan untuk sukses, tapi belum tentu semua orang tahu bagaimana cara untuk bisa sukses.

Kita bukan lagi bocah ingusan yang hidup hanya untuk sekedar bermain. Bukan pula anak SMP yang masih berseragam putih biru, juga bukan lagi anak SMA yang berseragam putih abu. Sadarlah, kini aku, kamu dan kita adalah sosok mahasiswa. Mahasiswa emas yang akan menjadi tonggak untuk kehidupan bangsa. Seorang mahasiswa tentu memiliki pemikiran yang jauh lebih matang dibandingkan dengan pelajar lainnya. Matang serta dewasa dalam berpikir, bertindak serta melangkah. Seperti halnya padi, semakin tua akan terlihat semakin menunduk karena memikul beban semakin berat. Tinggal kita yang menentukan, apakah kita berniat untuk meringankan beban itu atau justru akan menambah berat beban itu. Sama seperti halnya jarum jam, roda kehidupan akan terus berputar . Tetap ingatlah bahwa hidup itu pilihan!

Langkah kakimu sudah terlanjur menapak sampai sejauh ini. Setidaknya khitah sebagai seorang mahasiswa telah ada di dalam genggaman. Ubahlah pola pikirmu, ubahlah cara pandangmu. Tinggalkan masa lalumu yang kamu anggap akan berdampak pada masa depanmu. Jika kamu memiliki pandangan bahwa hidup sebagai mahasiswa sama seperti halnya apa yang digambarkan skenario dalam sinetron, buanglah jauh-jauh angan-angan itu. Ingatlah, apa tujuanmu sebenarnya. Untuk apa memilih menjadi seorang mahasiswa? Apakah hanya ingin membuang gengsi? Apakah hanya ingin dicap pandai? Atau hanya ingin mengisi waktu senggang? Sadarlah, menjadi mahasiswa bukan hanya sekedar piknik di kampus. Bukan sekadar hadir, presensi, lalu tidur hingga mata kuliah berakhir. Bukan pula menjadi seorang aktivis yang lupa akan tugas-tugas kuliahnya. Juga bukan pula hanya untuk menemukan pujaan hati.

Mulai sekarang, ubahlah pola pikirmu! Mulailah berpikir secara dewasa! Tentukan tujuan hidupmu yang sebenarnya!  Tentukan kemana kakimu harus melangkah. Jangan biarkan langkah itu terhenti di tengah jalan, bahkan berjalan mundur. Teruslah berjalan bahkan berlari lurus ke depan untuk mengejar impian. Tunjukkan kepada orang-orang yang kalian sayangi terlebih untuk kedua orangtua kalian. Buktikan kepada orang-orang yang telah meremehkan kalian. Berilah mereka bukti bahwa kalian bisa meraih kesuksesan itu.

Bermimpilah selagi kau masih bisa! Namun, jangan jadikan mimpi itu hanya sebagai angan-angan yang hanya menggantung di awang-awang. Kejarlah dan wujudkanlah khitah itu. Meski harus dengan cara tertatih-tatih bahkan berdarah-darah. Teruslah berjuang. Kobarkan bendera kemenangan, bukan malah bendera putih tanda kekalahan. Ingatlah, bahwa hidup ini pilihan! Tetaplah pupuk semangat itu. Semangat yang membuatmu melangkah sampai sejauh ini. Jangan biarkan semangat itu layu, berguguran hingga akhirnya mati.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

To Top