Home ResensiBuku Catatan Juang: Representasi Perjuangan Wanita

Catatan Juang: Representasi Perjuangan Wanita

by Deya Reni Aprilla
312 views

“Seseorang yang akan menemani setiap langkahmu dengan satu kebaikan kecil setiap harinya,” tertanda Juang.

Kasuarina, seorang perempuan yang akrab disapa Suar. Ia telah menggandrungi dunia perfilman sejak SMA. Bahkan, ia menjadi director of photography yang andal semasa kuliah. Sayangnya, kondisi yang teruk memaksa ia bekerja menjadi sales asuransi di Jakarta. Seperti wanita pada umumnya, Suar pernah merasakan manis dan pahit dimabuk asmara. Mulai dari diselingkuhi Ricky hingga resign dari kantor. Hidup Suar perlahan mulai berubah setelah ia menemukan buku bersampul merah yang bertuliskan “Catatan Juang”. Ia mencoba menggali kembali kuburan mimpinya menjadi seorang sineas bersama kedua sahabatnya, Fajar dan Eli. Mereka menggarap sebuah film dokumenter. Penggarapan film ini mengantarkan Suar bertemu dengan Dude, seorang lelaki pecinta alam. Tak disangka-sangka bahwa Dude adalah sahabat dari pemilik buku bersampul merah itu. Roda kehidupan Suar berputar, ia berkali-kali mendapat penolakan dari orang-orang di sekitarnya. Akan tetapi, hal tersebut tidak menyurutkan semangatnya. Tekad dan keberhasilan Suar dibentuk dari lika-liku kehidupan yang dijalaninya.

Novel Catatan Juang menghadirkan tema perjuangan dan perjalanan hidup. Tema ini dipahami melalui tokoh Suar. Ia menunjukkan tanggung jawab seorang anak terhadap ayahnya yang sakit strok. Suar menjalani semuanya dengan penuh perjuangan dan rasa ikhlas. Selain itu, terdapat beberapa sub-tema tentang percintaan dan kritik sosial terhadap pemerintah. Cinta tidak selamanya manis seperti madu. Suar merasakan sakitnya diselingkuhi oleh kekasihnya. Hal ini menyebabkan ia mengalami berbagai masalah di tempat kerjanya. Suar menjadi pribadi yang murung dan kurang motivasi. Namun, semua berubah setelah ia menemukan buku milik Juang. Bersamaan dengan mencari pemilik buku tersebut, Suar bertemu dan jatuh cinta kepada Dude. Selanjutnya, kritik sosial terhadap pemerintah dikemas dalam dokumentasi film pembangunan pabrik semen di Desa Utara. Pembangunan tersebut dapat membunuh ekosistem di sekitar desa tersebut. Suar dan dua rekannya menguak fakta secara gamblang. Setelah film dokumenternya sukses, pemerintah melirik dan membekukan proses pembangunan pabrik semen di Desa Utara.

Baca juga: Resensi Novel Kubah: Sastra Mencatatan Sejarah 

Fiersa Besari memunculkan beberapa tokoh yang memiliki perbedaan karakter. Penghadiran tokoh dihadirkan secara nyata layaknya kehidupan manusia pada umumnya yang mempunyai wujud fisik, pikiran, serta perasaan. Tokoh-tokoh yang dihadirkan dalam novel ini yaitu Kasuarina, Dude, Ricky, Fajar, Eli, serta beberapa tokoh lainnya yang menunjang keestetisan novel. Menariknya, seseorang yang telah meninggal (dibaca: Juang) mampu disisipkan dalam setiap peristiwa novel ini meskipun tidak dapat dianggap sebagai seorang tokoh. Juang justru menjadi kunci utama terbentuknya unsur-unsur keindahan (kepaduan, keselarasan, keseimbangan, kekontrasan, dan variasi) dalam novel tersebut.

Latar terdiri atas latar tempat, waktu, dan sosial-budaya. Fiersa menghadirkan latar tempat di Hutan Soemah, kafe, dan sebagainya. Selanjutnya, latar waktu menunjukkan pada malam hari, sore hari, dan sebagainya. Kemudian, latar sosial-budaya menunjukkan perbedaan kehidupdan antara di desa dan di kota. Ketiga unsur latar yang disebutkan hanya sebagian kecil, tetapi sudah mewakili secara keseluruhan rangkaian alur cerita. Selain sebagai landas tumpu terjadinya suatu peristiwa, latar juga berfungsi untuk menggambarkan kesan realistis dan menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah terjadi. Pembaca dapat memberoleh informasi baru yang berguna untuk menambah pengalaman hidup. Misalnya, pembaca yang belum mengetahui suasana di Kota A akan merasakan kota tersebut melalui pendeskripsian latar.

Novel Catatan Juang menggunakan alur awal, tengah, dan akhir untuk mengisahkan setiap kejadian peristiwa. Rangkaian alur didukung oleh unsur-unsur pembangun fiksi, seperti latar, tokoh, tema, sudut pandang, dan lain-lain. Secara sederhana, Fiersa menggunakan sudut pandang persona ketiga “dia” mahatahu yang ditandai dengan penyebutan nama tokoh atau kata ganti orang. Selanjutnya, penulis nyentrik asal Bandung ini berhasil mengemas novel Catatan Juang dengan bahasa yang sangat indah. Pembaca dapat menemukan berbagai macam gaya bahasa yang digunakan untuk menambah kesan estetis dalam penuturan kebahasaan. Menariknya, pembaca akan sulit mencari kekurangan novel ini. Sebab, seluruh cerita disajikan secara selaras dan sederhana.

Related Articles