Harmoni Estetika Sastra dan Kritik Sosial dalam Novel Gadis Pantai

Gadis Pantai adalah sebuah novel karya Pramoedya Ananta Toer yang menggambarkan kehidupan seorang gadis remaja yang tidak disebutkan namanya. Dalam novel tersebut, Pramoedya menyebutnya Gadis Pantai. Ia gadis yang tumbuh besar di sebuah kampung nelayan di Lesem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, pada akhir abad ke-19 ketika masa kolonial. Gadis Pantai yang masih berusia 14 tahun hidup dalam kesederhanaan.

Resensi Novel “Re dan PeRempuan”

Rere, (tertulis Re:) terlahir dari seorang ibu tanpa ayah. Takdir itulah yang membuatnya begitu dibenci oleh neneknya, terlebih saat kakek tercintanya tiada, dan disusul ibunya yang meninggal dalam pelukannya. Tak jarang ia mendengar ucapan “anak haram” keluar dari bibir neneknya. Keterpurukan Re membuatnya sering bolos sekolah dan berbuat onar. Re: yang beranjak remaja mulai haus akan kasih sayang dan mudah terbuai oleh sentuhan laki-laki. Ia sempat dekat dengan teman sekelasnya, hingga dekat dengan guru lesnya sendiri. Nahasnya hal itu justru membuatnya mengulang apa yang telah terjadi pada ibunya dulu.

Resensi Novel Gadis Kretek

Kisah Gadis Kretek dibuka oleh Lebas yang bercerita bahwa romonya sedang sekarat, dan alih-alih menyebut nama ibunya, sang romo justru memanggil sebuah nama: Jeng Yah. Demi nama yang terus berulang disebut, akhirnya Lebas dan kedua kakaknya, Karim dan Tegar, mencari nama itu ke Kudus. Dalam pencarian tersebut, cerita berkilas balik tentang sosok Soedjagad dan Idroes Moeria.