Buku

Damarwulan: Retaknya Mahkota Majapahit

Sejarah adalah perjalanan masa lalu yang di dalamnya melibatkan tokoh, peristiwa, dan waktu. Setiap manusia diberi hak untuk menapaki sejarahnya sendiri. Sejarah bukan saja berlaku pada lingkaran yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan, melainkan juga kekuasaan.

Ironisnya, sejarah mencatat bahwa sebuah kekuasaan selalu melahirkan konflik, intrik, dan tragedi. Dan sepanjang sejarah, tidak ada kekuasaan yang langgeng. Ia akan tergerus pergolakan zaman akibat ambisi pribadi, pertikaian keluarga, sahabat, perbedaan politik, atau atas kehendak rakyat.

Sejarah juga mencatat, kekuasaan selalu menghadirkan sosok hebat, sosok legendaris, sekaligus sosok pengkhianat pada zamannya. Ia merupakan perhelatan yang relah ditakar oleh langit untuk menjadi bahan renungan dan pembelajaran bagi generasi sesudahnya.

Majapahit mengalami zaman keemasan di bawah Dyah Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada. Akan tetapi kekuasaan adalah batu licin. Dan seorang Mahapatih Gajah Mada harus terpeleset dalam mengemban Sumpah Palapa-nya ketika bersentuhan dengan Sunda Galuh.

Tenggelamnya pamor Gajah Mada perlahan menyurutkan langkah-langkah Majapahit. Bahkan Majapahit harus terpecah menjadi dua bagian: Kedaton Barat dan Kedaton Timur. Konflik menurun hingga anak cucu Dyah Hayam Wuruk: Dyah Kencana Wungu dan Wirabhumi.

Di tengah gemuruh perebutan kekuasaan, sosok Damarwulan hadir membawa misi pribadi. Perasaannya terhadap Dyah Kencana Wungu harus berbenturan dengan silsilahnya yang dekat dengan Wirabhumi. Pun, kehadiran Raden Gajah yang juga memendam rasa terhadap Kencana Wungu turut menghalangi niat Damarwulan.

Dua belas tahun setelah mangkatnya Mahapatih Gajah Mada, terjadi peristiwa yang mengejutkan. Sri Wijayarajasa, suami Maharajasa Dyah Wiyat, bibi Dyah Hayam Wuruk, memisahkan diri dari Majapahit dan mendirikan keraton baru. Kerajaan lama dikenal dengan Kedaton Barat yang dikuasai Dyah Hayam Wuruk dan kerajaan baru Kedaton Timur yang dikuasai Sri Wijayarajasa.

Keberadaan Kedaton Timur menciptakan kekisruhan dalam pemerintahan dan meletakkan keluarga kerajaan dalam kubu-kubu yang berseberangan. Pengganti Mahapatih Gajah Mada, Mahapatih Gajah Enggon, tidak berani bertindak tegas.

Dyah Hayam Wuruk tidak dapat berbuat banyak untuk menghentikan Sri Wijayarajasa. Sebab, selain merupakan suami dari bibinya, Sri Wijayarajasa juga ayah mertuanya.

Dyah Hayam Wuruk menginginkan agar pendirian Kedaton Timur dihentikan dan menyatu kembali ke dalam wilayah Majapahit. Keberadaan Wirabhumi, putranya dari selir Rabihaji, yang diambil anak angkat oleh Sri Wijayarajasa dan Maharajasa Dyah Wiyat, juga membuat Dyah Hayam Wuruk menghendaki urusan dua kedaton ini selesai secara baik-baik. Bahkan untuk merekatkan hubungan, putri satu-satunya, Dyah Kusumawardhani dinikahkan dengan Bhre Mataram, Wikramawardhana.

Mangkatnya Sri Wijayarajasa membuat Wirabhumi berkuasa di Kedaton Timur. Tetapi Wirabhumi tampak enggan menanggapi uluran tangan Dyah Hayam Wuruk dan seperti mengulur waktu. Bahkan Wirabhumi bermaksud memindahkan pusat Kedaton Timur dari Pamotan ke Blambangan yang berarti akan semakin memperlebar jarak.

Di tengah suasana yang semakin memanas, rupanya Mahapatih Gajah Enggon, tanpa sepengetahuan Dyah Hayam Wuruk, memerintahkan sebagian prajurit Kedaton Barat untuk menyerang Kedaton Timur yang berada di Blambangan. Hal tersebut membuat Wirabhumi marah besar.

Arya Damarwulan merupakan salah satu sosok yang selalu merasa khawatir dengan suasana kerajaan. Ibunya adalah adik dari Wikramawardhana, menantu Dyah Hayam Wuruk. Sementara kakak dari ibunya, Nagarawardhani, adalah istri Wirabhumi.

Kenyataan tersebut membuat ia berada dalam posisi sulit. Namun ia memutuskan berpihak pada Kedaton Barat karena beranggapan Kedaton Timur tidak punya niat baik untuk menyudahi pertikaian. Rupanya diam-diam Damarwulan juga memiliki perasaan khusus terhadap Stri Dyah Rani Suhita Kencana Wungu, putri Dyah Kusumawardhani.

Majapahit berduka ketika Dyah Hayam Wuruk mangkat akibat sakit yang dideritanya. Setelah melalui perundingan panjang bersama petinggi kerajaan, Sri Wikramawardhana dinobatkan sebagai Raja Majapahit. Wirabhumi marah setelah kabar tersebut sampai di telinganya. Ia merasa lebih berhak atas tahta Majapahit.

Petaka kepada Mahapatih Gajah Enggon. Tindakan ceroboh yang ia lakukan terhadap Wirabhumi diketahui oleh orang-orang di Kedaton Barat. Hal itu membuatnya harus mundur dari jabatan Mahapatih. Untuk sementara waktu Gajah Enggon digantikan oleh Gajah Manguri.

Dyah Kusumawardhani, dengan bantuan Damarwulan, meminta Gajah Enggon menjelaskan kejadian sebenarnya kepada Wirabhumi. Dyah Hayam Wuruk tidak ada hubungannya dengan penyerangan dan percobaan pembunuhan kepada Wirabhumi yang pernah dilakukan Gajah Enggon.

Tetapi kekacauan telah terjadi di beberapa wilayah Majapahit. Penyebabnya tidak lain adalah pihak Kedaton Timur. Gajah Manguri tampak kewalahan mengatasi hal tersebut. Maka genderang perang segera dibunyikan oleh Sri Wikramawardhana.

Kesalahan Gajah Manguri dalam menyusun siasat perang membuat istana berhasil dimasuki oleh prajurit Kedaton Timur. Beruntung, Damarwulan berhasil menyelamatkan Sri Wikramawardhana, Dyah Kusumawardhani, dan Stri Dyah Kencana Wungu. Setelah peristiwa itu, Damarwulan kemudian diangkat menjadi kepala keamanan istana.

Sementara itu, posisi prajurit Kedaton Barat semakin terdesak. Gajah Manguri diminta oleh Sri Wikramawardhana untuk mempertanggungjawabkan kecerobohannya. Pasukan kemudian ditarik ke Tumapel di mana terdapat istana utama tempat kediaman putra mahkota Rajasa Kusuma, putra dari Sri Wikramawardhana.

Ketika pasukan Wirabhumi berhasil memasuki istana, perang harus dihentikan karena Rajasa Kusuma mangkat akibat sakit yang dideritanya. Dengan sikap ksatrianya, Wirabhumi memerintahkan pasukannya untuk menghentikan penyerbuan.

Akibat kesalahan yang terus dilakukan oleh Gajah Manguri, ia harus rela melepaskan gelar Mahapatih. Sri Wikramawardhana mengangkat Gajah Lembana, seorang prajurit yang berpengalaman, sebagai Mahapatih yang baru.

Perang kembali pecah di Tumampel. Pasukan Kedaton Barat yang lebih terorganisasi semakin mudah memukul mundur Pasukan Kedaton Timur. Damarwulan yang mengikuti perang, berkali-kali memberikan nasihat kepada Gajah Lembana sehingga membuat pasukan Kedaton Barat semakin mendekati kemenangan.

Keberadaan Raden Gajah, seorang ratu angabhaya yang juga memiliki perasaan khusus kepada Stri Dyah Kencana Wungu, sempat membuat suasana memanas karena timbul perdebatan yang didasari rasa tidak suka dan keinginan bersaing siapa yang lebih layak mendapatkan Dyah Kencana Wungu.

Setelah pasukan Kedaton Barat memperoleh kemenangan, untuk menandai kemenangan itu, Sri Wikramawardhana menyemati Dyah Kusumawardhani dengan gelar Brhe Lasem. Sebenarnya Dyah Kusumawardhani keberatan, ia khawatir jika saudara tirinya, Wirabhumi, tersinggung.

Sebab, gelar Brhe Lasem telah lebih dulu disematkan kepada Nagarawardhani, istri Wirabhumi yang juga adik kandung Wikrawawardhana. Wirabhumi menganggap ini merupakan sebuah penghinaan. Sehingga ia memerintahkan pasukannya untuk bersiap menyerbu Kedaton Barat.

Nagarawardhani memaklumi kemarahan Wirabhumi. Sebab ia semakin jarang mendengar suaminya membicarakan soal tahta Majapahit. Tapi tiba-tiba, bibit perdamaian itu kembali meredup serupa anak-anak rumput yang terinjak rombongan ladam kaki-kaki kuda.

Ketika Wirabhumi sedang menyiapkan pasukan terbaiknya, ia mendengar kabar bahwa Dyah Kusumawardhani mangkat. Untuk menghormati hari perkabungan saudara tirinya, ia memutuskan menunda keberangkatan pasukan ke Kedaton Barat.

Dyah Kencana Wungu adalah sosok yang paling terpukul dengan mangkatnya Dyah Kusumawardhani. Ia ingat betul pesan ibundanya sebelum mangkat. “Apa pun yang terjadi, Wirabhumi adalah pamanmu. Hormati pamanmu seperti dia menghormati kakakmu.”

Di sisi lain Wirabhumi semakin merasa menjadi orang yang paling berhak atas tahta Majapahit. Tak beselang lama, Nagarawardhani mangkat akibat sakit karena merasa tertekan dengan keadaan.

Sejak Dyah Kusumawardhani mangkat, Dyah Kencana Wungu mendapatkan perhatian lebih dari Damarwulan dan Raden Gajah. Namun ia tak menanggapi perhatian itu sebagai sesuatu yang mengandung maksud terselubung.

Beberapa waktu kemudian Dyah Kencana Wungu diangkat menjadi putra mahkota Majapahit. Sebab Rajasa Kusuma, calon putra makota Majapahit telah lebih dulu tiada. Ketika kabar pengangkatan itu terdengar di Kedaton Timur, Wirabhumi langsung naik pitam. Baginya, penobatan itu secara tidak langsung telah meniadakan dirinya sebagai sosok yang berhak atas tahta Majapahit.

Untuk kedua kalinya ia merasa disingkirkan dari silsilah Dyah Hayam Wuruk. Setelah bekerja keras mengatur siasat terbaik menaklukkan Kedaton Barat, Wirabhumi memberangkatkan pasukannya.

Untuk kesekian kalinya langit di atas Majapahit meredup menyaksikan suara teriakan, suara beradunya senjata, dan tumpahnya darah di atas bumi yang pernah mengangkat Majapahit menjadi kerajaan besar paling disegani.

Kemenangan berhasil diperoleh pasukan Kedaton Barat. Wirabhumi dan prajutitnya kembali ke Blambangan membawa kekalahan.

Di tengah semarak pesta kemenangan, diam-diam Raden Gajah memacu kudanya menerobos malam. Sementara itu Wirabhumi terus berderap sendirian tanpa peduli ke mana arah tujuannya.

Rupanya Raden Gajah sengaja mengikuti Wirabhumi. Ia bermaksud menghabisi Wirabhumi agar menarik perhatian Dyah Kencana Wungu. Raden Gajah berhasil memenggal kepala Wirabhumi dari tubuhnya.

Ketika Raden Gajah membawa kepala itu ke hadapan Sri Wikramawardhana, semua yang menyaksikan tampak sangat terkejut. Damarwulan marah karena tak menduga Raden Gajah melakukan hal sekeji itu. Dyah Kencana Wungu terhenyak. Seketika terngiang ucapan ibunya sebelum meninggal.

Sebenarnya mereka menyayangi Wirabhumi. Apa pun yang telah dilakukan oleh Wirabhumi, semua mengakui, Wirabhumi adalah putra mendiang Dyah Hayam Wuruk. Kesatria Blambangan yang dikenal dengan Menak Jingga itu telah mangkat di atas kehormatannya.

Novel yang memuat 29 subjudul ini menceritakan tetang konflik internal perebutan kekuasaan di Kerajaan Majapahit. Semenjak ditinggal oleh para petingginya, Majapahit yang pernah menjadi kerajaan besar dan disegani seolah kehilangan pamornya. Perpecahan Majapahit membuat rakyat merasa tidak lagi diperhatikan. Sebab para pemimpin mereka sibuk dengan urusannya masing-masing. Genangan darah seolah menjadi saksi bisu bagaimana para tokoh mempertaruhkan nasib mereka.

Novel ini ditulis oleh Zhaenal Fanani  pada tahun 2013 dan diterbitkan oleh DIVA Press pada Agustus 2014. Zhaenal Fanani yang menyukai hal-hal berbau sejarah hanya membutuhkan waktu kurang lebih 1,5 bulan untuk menyelesaikannya. Menurutnya, tujuan penulisan novel Damarwulan adalah untuk referensi sejarah. Meskipun di beberapa bagian terdapat hal-hal yang berbeda dengan novel lain karena perbedaan penafsiran.

Menurut saya novel ini menarik untuk dibaca, sebab cara Zhaenal Fanani dalam bercerita tidaklah membuat pembaca lekas bosan. Walaupun merupakan karya fiksi, Zhaenal Fanani tidak pernah mengabaikan riset sehingga  apa yang ia tulis dapat dipertanggungjawabkan.

Walaupun tidak menutup kemungkinan, seorang penulis melakukan anakronisme atau penempatan unsur-unsur cerita yang tidak sesuai dengan sejarah. Menurutnya hal tersebut sah-sah saja, asalkan penulis tersebut memiliki riset yang valid. Sebab, tentu ia bertujuan untuk menghadirkan tokoh dalam perspektif yang berbeda.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Terpopuler

To Top