Soliloqui

DAN AKU PUN PERGI

Oleh : Ruhil Yumna
 
Gadis kecil ini datang bersama kepergian. Mungkin karena itu hidupnya dipenuhi oleh orang-orang yang datang dan pergi, namun lebih banyak ia mendapati punggung orang lain yang menjauh dari pandangan matanya. Mungkin ia tak pernah menganggap berarti perpisahan-perpisahan tersebut. Tapi, tidak bagi beberapa orang yang ada disekitarnya, tak terkecuali aku. Aku benci mengingat hari itu. Sebuah episode paling buruk dalam hidupku. Aku menangis tanpa tahu apa yang kutangisi, mati rasa.

Sebuah kepergian yang tak pernah terlintas di pikiranku, bagai mimpi buruk. Hingga hati, raga, dan pikiran ikut merasakan luka menganga yang meninggalkan lubang kelam itu. Lubang itu kelak sering sekali menimbulkan ngilu di hati, membuat orang yang merasakannya menangis pilu. Aku pernah merasakannya, dan saat itulah aku tahu kalau rasa sakit itu bernama rindu. Berkali-kali aku mengingatkan diriku bahwa kepergian itu benar-benar nyata, dan dengan terpaksa aku selalu berkata pada diriku sendiri “Dia benar-benar telah pergi.” Jangan pernah bertanya ramuan apa yang paling mujarab untuk menyembuhkan sakit itu, karena kata orang sakit itu hanya bisa sembuh oleh kerelaan dan waktu.

Waktu? Seperti apa rupanya, hingga dia dapat menyembuhkan rasa rindu? Apa dua jarum yang berputar di jam tangan ku ini disebut waktu? Jika waktu tak berwujud, apa hubungan waktu dengan angka? Semulia itukah angka hingga dia dapat menjadi perwujudan waktu? Jadi sebenarnya bukan waktu yang menyembuhkan rindu tapi bilangan atau angka, begitukah? Lalu bagaimana angka dapat menyembuhkannya? Apakah perasaan berhubungan dengan rumus-rumus matematika hingga angka ikut muncul?
Kalau waktu adalah penyembuh kenapa orang yang akan pergi sering berkata “

…,waktuku telah habis.” Bukankah perkataan itu menyiratkan bahwa penyebab kepergian orang itu adalah waktu? Karena waktunya telah habis maka ia memutuskan untuk pergi. Membingungkan. Jujur aku paling benci membicarakan hal mengenai kepergian sejak hari itu. Tapi kali ini secara tiba-tiba aku mulai mencoba memandang kepergian itu dari sisi lain, karena kali ini aku yang pergi. Sama halnya yang ditinggalkan, meninggalkan suatu hal juga sulit. Selalu saja setiap kaki ini mulai melangkah pergi tiba-tiba di otakku seperti ada sebuah film acak yang berputar secara otomatis. Gambaran hal-hal yang telah terjadi di kehidupankupun muncul dan tentunya hal yang kutinggalkan itu termasuk di dalamnya.  Lalu tiba-tiba aku ragu untuk melanjutkan langkahku, aku seolah-olah ingin berlari untuk kembali. Namun aku harus terus saja berjalan ke depan, menoleh ke belakangpun aku mulai takut. Aku takut jika aku melakukannya maka aku akan berhenti berjalan. Menunda kepergianku.

Kereta yang kunaiki mulai berjalan pelan, meninggalkan kotaku. Kota kecil yang bahkan terkadang orang tak tahu itu di provinsi mana. Kota yang meski luasnya tak seberapa sering membuatku tersesat. Kota dimana kenangan masa kecil hingga remajaku tersimpan. Kota dimana rumahku berada. Kota yang akan selalu membuatku ingin kembali pulang.

Dan untuk pertama kalinya aku menjadi aktor dalam sebuah kepergian. Kepergianku menuju masa depan. Dari jendela tempatku duduk tampak pohon-pohon yang berjalan, bukan lebih tepatnya pohon itu tetap di tempatnya dan keretakulah yang berjalan. Memang kadang apa yang tampak di mata tak sesuai. Tapi bukan itu yang penting, sekarang aku harus mempersiapkan yang lain. Kota yang baru dan tentunya asing bagiku. Inilah, jika kita meninggalkan suatu hal maka kita akan menemui suatu hal yang baru pula. Kurasa itu aturannya, ada yang pergi tentu adapula yang datang. Mungkin dengan perginya aku dari kotaku, akan ada orang lain yang juga datang ke kotaku.

Memang sebagian besar orang akan berpikir bahwa kepergian adalah suatu hal yang menyedihkan. Sayangnya seberapapun kita benci terhadap kepergian itu sendiri, kehidupan tetap takkan pernah mau berbaik hati pada kita. Toh, dia-Kehidupan akan terus berjalan sesuai skenario yang telah ada. Kepergian dan kedatangan yang mewarnai hidup akan terus terjadi selama kita masih punya kontrak di dunia ini. Semua itu adalah sebuah siklus kehidupan yang wajar terjadi, yang mau tak mau harus kita hadapi. Bukankah jika kita ingin melihat pelangi kita harus menghadapi sebuah hujan?
 
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Terpopuler

To Top