Home KolomSastraSajak Dandelion dan Puisi-puisi Lainnya

Dandelion dan Puisi-puisi Lainnya

by Syamsul Bahri
86 views

Rinai puisi
Tak ada yang kuwariskan disini
Selain luka dan puisi-puisi kesedihan
Dipenghujung malam,
Ku baca puisi itu
Seolah menyelami kelamnya masa lalu yang silam
Elegi renjana memahat jendela-jendela
Dengan air mata
Melimbur mengalir kearah muara
Gelap telah menutup semua peristiwa
Tiada lagi gemercik air
Tiada lagi basah ditepi bibir
(2020)

Kecupan pertama purnama
Malam ini, purnama mengecup mesra keningmu
Mengecap senyum dalam dinding-dinding wakru
Terpancar segala ingar di setiap kedipnya
menjabat erat sepasang mataku
Tuk tetap singgah dan bermalam di matamu

Barangkali, pertemuan kali ini adalah perpisahan esok
Aku lebih baik tiada bersama langkah yang tak ada jejaknya
Kutunggu derai deras air matamu
Melihatku dipangkuan penuh nista
dengan seluruh pandangan
yang terpaku yang terpaut di hari-hari kepedihan

Subang, 08 April 2020.

Pagar- pagar tinggi

Diantara pagar-pagar yang tinggi
Dijerat renung
Tak terungkap
Digurat oleh rasi-rasi gemintang
Menghampiri jiwa yang terlampir dari hati sanubari

Di rumah tempat berlomba dahaga
Patahnya wajah-wajah tanpa laga
Menimba rasa sunyi dalam hati
Patuh pada yang sedang menepi

Diatas bumi meratap
Antara pergi dan menetap
Ada yang harus mati ketika aku terlelap
Ketika aku keluar dari selembar atap
Terlindung dari dirundung pilu
Tetap berkemah
Menunggu wabah ini pergi dari rumah

Subang, 08 April 2020

Seringai Bulan

Meramu kembali aksara
Meneguknya dengan samsara
Mabuk
Mabuk
Mabuk
Menjalar kedalam tubuh
Menjadi
Abu
Menjadi
Abu
Seringai bulan selalu berpaling kedalam palung
Barangkali, aku adalah riwayat Panjang
Yang kau kerkau pada bunga-bunga kesedihan
(2020)

Silsilah luka

Kesedihan mengintipku dari balik jendela
Seperti seringai serigala yang siap mengerkau
Lalu melahapnya tanpa sisa
Kaulah raungan itu
Merapal doa silsilah luka
dari derai sampai melerai segala duka

kecupan terakhirmu seperti api
selalu menyala meski dibabat sepi
mencoba pulih dari catatan pilu
merapal doa silsilah duka
meneguk asa
ribang dikala purna
mengetuk-ngetuk pintu kesdihan

malam ini, lamunan air berakhir
mengalir hingga ke hilir
berhenti pada pertemuan terkabulkan
menjemput air mata
selepas kedipan bintang
nyalang terjaga
menutup seribu pintu di segala pinta

(2020)

Dandelion I
Jika ibu kita tak lagi tidur malam ini,
Akankah cemas menggrogoti jemala
was-was anak-anaknya
seorang musafir dzikir seperti air
mengalir dan hanyut ke tepi estuari
kau, mudah patah dan rapuh
diterpa angin dingin
serpihan bungamu akan tumbuh
melahirkan rahim-rahim ibu

kita melupakan yang semestinya kita lupa:
telaga malahayu
membuka telinga, menutup mata
sejenak rindu terjepit diantara kau dan aku
menyalang tanpa jeda
menyulam segala aksara
(2020)

Dandelion II
Siapa kirannya yang pantas disebut sebagai batu berlumut?
Saat jalanan terjal lalu terpelanting jauh kedalam ngarai
Kubenamkan jemalaku didasar dadamu

Hujan berlalu-lalang didepan lamunanku
Memesan ilalang ditengah-tengah perjalanan
Bukan hanya memiuhkan pedih di relung hati
Apa batu berlumut itu merasa bungah?

Petang belum seranum rona bibirmu. Dibawah atap
Kita menciptakan air mata. Kau bertanya,
Apa ibu kita akan segera pergi?

Sepasang burung berpelukan dibawah pendar purnama
Katamu, ibu kita menanak rindu anak-anaknya.

(2020)

Dandelion III

Kita tanggalkan bunga-bunga mimpi di telaga tandus
Bersumber air mata dari pulupuk mata ibu
Bukankah impian kita adalah mati
Dalam dekap orang yang dicinta

Ibu kita sedang menanak rindu, katamu.
Sepasang burung membawa pergi jemawa
tembok labirin tak pernah menyeka keringatnya
seekor capung hinggap di ranting-ranting pohon akasia
rindu kita telah ranum. Tapi tak bisaku merasakannya.
Ayahku, bisakah kau rasakan ketiadaannya?

Cahaya menjelma cinta yang tak pernah selesai
Telah datang dan merasuk kedalam sukmaku
Meninggalkan rumah kecil dalam jemalamu

(2020)

 

Related Articles