Home Resensi Dhorothea dalam Puisi “Tembang di atas Perahu”

Dhorothea dalam Puisi “Tembang di atas Perahu”

by Dyah Ayu Noor Afifah
166 views

Dhorothea merupakan sastrawan perempuan yang memiliki banyak penghargaan dalam bidang sastra. Pada penulisan puisinya, ia menggunakan tipe penulisan yang unik. Puisinya ditulis menggunakan dengan diksi yang serasa padat dan dingin. Selain itu, Dhorothea juga memilih menggunakan gaya bahasa berjenis prosa. Karya-karyanya cenderung berisi tentang kritik atau seputar gambaran mengenai kesunyian dan kesepian.

Puisi “Tembang di atas Perahu” menggunakan gaya penulisan berbentuk lirik prosa yang setiap kalimatnya terdapat penyimpangan bahasa. Hal ini dapat dilihat dari penulisan kalimatnya yang nyentrik.

“Tembang di atas Perahu” membahas kesunyian yang menyimpan kekalutan seseorang dalam menghadapi penantian. Penyair menggambarkan perasaan cemas dan rindu yang menjadi satu. Sebuah dilema romansa tercipta karena penantian yang tak berujung. Pada zaman sekarang mungkin lebih mudah dipahami dengan istilah LDR (Long Distance Relationship) atau hubungan jarak jauh.

Puisi “Tembang di atas Perahu” karya Dhorothea menggunakan penyimpangan semantik dalam beberapa lariknya. Deviasi semantis sendiri adalah sebuah bentuk penyimpangan bahasa yang disebabkan oleh perbedaan makna konvensional atau aktual menjadi makna intensional (konotatif).

Pada kutipan “aku terombang ambing ombak kecil dalam tubuhku” ini, terdapat frasa “ombak kecil”. Frasa tersebut dikaitkan dengan frasa berikutnya yaitu “tubuhku” yang membangun sebuah makna lain. Arti sebenernya dari ombak ialah gerak air laut yang menggulung-gulung menuju tepi pantai. Selain itu, larik ini memiliki arti pemikiran yang kacau karena kecemasan atau kekhawatiran.

aku terombang ambing ombak kecil dalam tubuhku

jika aku terlelap, ku mimpikan pangeran dengan jubah berderai

dan rambut mengurai beribu kalimat dengusnya yang dusta.

Potongan bait di atas merupakan sebuah ungkapan yang ditulis menggunakan bahasa yang sederhana. Frasa “pangeran dengan jubah berderai” secara harafiah berarti pangeran yang berbaju jubah. Kemudian, makna konotatifnya yaitu berupa imaji bahwa dia ingin menemukan pangeran.

Selanjutnya, “dan Rambutnya mengurangi beribu kalimat”. Bukan rambutnya digunakan untuk mengurangi kalimat, tetapi lebih menjelaskan tentang jarak dan kesetiaan. Rambut mengurangi berarti penanda waktu. Hal ini dikarenakan rambut akan selalu tumbuh dan penulis hendak mengutarakan perjalanan waktu dengan rambut.

Baca juga: Titik Koma

Terdapat pula penyimpangan yang terjadi pada unsur ejaan dan tanda baca. Pada puisi ini ada kata yang masih ambigu. Pada kalimat “dan alamt. dalam berjuta situs dan bermiliar virus. Berbaris” terjadi penyimpangan pada penulisan tanda baca yang benar dan ada kata yang bermaksud ambigu. Kata “alamt” bisa saja merupakan pilihan penyair atau adanya kesalahan menulis. Seharusnya setelah titik diberi huruf kapital. Akan tetapi, pada puisi ini cenderung tidak berhuruf kapital setelah titik. Tentunya ini merupakan salah satu ciri khas.

Dhorothea memiliki ciri khusus yang membuat puisinya lebih mudah dipahami, namun memiliki nilai keindahan tersendiri.

Related Articles