Teras

Diguyur Hujan Berkali-kali, Semangat Peserta Mural tidak Luntur

Yogyakarta — Ratusan orang mulai memadati kawasan panggung Realiano, Universitas Sanata Dharma (USD/Sadhar), untuk berteduh dari guyuran hujan yang cukup lebat.

Mereka adalah peserta Lomba Mural (melukis pada dinding atau tembok) dalam rangka memperingati Dies Natalis Sadhar, Minggu (26/11).

Dari pantauan Lppmkreativa.com, lokasi mural sudah berkali-kali diguyur hujan sejak siang, yang mengakibatkan tembok tempat peserta melukis jadi basah. Sebagian lukisan yang dibuat oleh peserta luntur.

Setelah cukup reda, peserta kembali melanjutkan melukis. Panitia membagikan serbet kepada para peserta untuk digantungkan pada tali di atas dinding agar air hujan tidak langsung menetesi hasil karya peserta.

Foto: Apriliasa

Awalnya, lomba ini dijadwalkan berlangsung dari pukul 09.00 hingga 14.00 WIB (26/11). Tapi, karena hujan turun, peserta diberi perpanjangan waktu untuk menyelesaikan karya pada hari minggu (3/11).

“Hujan lagi, cukup deras, dan memang tidak bisa diatasi. Terpaksa dilanjutkan minggu depan, dari pukul 08.00 hingga selesai,” kata Innosensius Hageng, selaku ketua panitia saat ditemui di Gedung Pusat Sadhar.

Salah satu peserta lomba, Subki, bahkan menjereng terpal di atas lukisannya untuk berteduh sekaligus melindungi karyanya.

“Karena hujan, karyanya jadi tidak maksimal ya, tapi kehendak Tuhan ya kita nggak boleh nggresulo, sesuatu itu memang kita lakukan aja,” katanya.

Menurut seniman yang puluhan kali menjuarai lomba mural itu, kondisi yang terjadi saat ini sangat cocok dengan tema yang diangkat dalam lomba mural ini kali, yaitu Menolak Pasrah, Kaum Muda X Milenium.

Semangat ya mereka, walaupun hujan kayak gini, tetep semangat, tetep balik lagi untuk melanjutkan karyanya. Berkali-kali hujan tapi diperbaiki terus, sesuai seperti temanya ‘kan itu, menolak pasrah ‘kan, menolak menyerahlah,” jelasnya.

Foto: Apriliasa

Innosensius juga menuturkan bahwa tema ini merupakan bagian dari usaha pendidikan moral kepada pemuda supaya tidak menerima begitu saja segala pengaruh budaya yang masuk ke Indonesia.

“Untuk mengingatkan masyarakat, khususnya pemuda, agar tidak pasrah dalam menghadapi perubahan zaman, supaya bisa dikontrol, dan pengaruh buruk dari kaum elite juga,” katanya.

Sebanyak 128 tim peserta kegiatan yang diselenggarakan di Lapangan Realino ini terdiri dari pelajar SMA, mahasiswa, dan masyarakat umum.

“Kami menyediakan tembok khusus mural, daripada lombanya untuk mahasiswa Sadhar sendiri, kami memikirkan kenapa tidak dari luar saja. Ini juga bagian dari wujud kampus yang membuka diri terhadap orang lain,” tutur Inno.

Salah satu peserta asal Magelang, Rahmadani Saputro, mengatakan bahwa lomba ini mampu mewadahi para seniman untuk belajar bersama dan menyampaikan aspirasinya. Seorang seniman, katanya, memang berbicara dengan karya seni.

“Seniman-seniman muda bisa ikut berkarya, yang tua bisa memberi contoh yang baik untuk yang muda, saling mengajari dan mengayomi, belajar bersama,” katanya.

Ia juga mengakui bahwa meskipun banyak lukisan yang luntur, namun semangat para peserta tidak ikut luntur. “Teman-teman ketika hujan reda dilanjut, reda dilanjut, pantang menyerah. Kami malah jadi stronger,” tutupnya.***

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Terpopuler

To Top