OPINI

Dilema Antara Momong Atau Meningkatkan Kualitas

lppmkreativa- Dilema Antara Momong Atau Meningkatkan Kualitas

Organisasi seharusnya dapat meningkatkan kualitas anggotanya. Akan tetapi, pada kenyataanya, organisasi “harus momong” anggotanya. Masalahnya, untuk meningkatkan kualitas, organisasi harus keras dan disiplin.

Dalam organisasi kampus (sebut saja kampus FBS UNY), banyak ketua ormawa mengalami dilema. Mereka harus memilih antara momong atau meningkatkan kualitas anggotanya itu.

Tapi, ketua di kampus tidak bisa asal memarahi anggotanya. Bahkan, sebenarnya dia hanya bisa menjadi tokoh penengah saja. Kalau ketua marah, anggotanya pada lari tidak mengikuti kegiatan lagi atau bahkan keluar dari organisasi.

Dari sudut pandang saya, mahasiswa sekarang ini tampaknya pada malas-malasan. Ini saya lihat pada sebuah persiapan acara di salah satu himpunan mahasiswa (Hima) di FBS UNY.

Panitia yang menggagas acara melakukan rapat. Akan tetapi yang datang hanya beberapa anggota saja, tidak utuh semua sie berangkat.

Padahal, saat rapat tersebut ketua perlu mengetahui perkembangan setiap masing-masing sie, agar ketua tahu masih ada kekurangan apa saja sehingga bisa dipecahkan bersama saat rapat. Kalau salah satu sie itu tidak berangkat dan anggota lain tidak mengetahui laporan salah satu sie, itu bisa menghambat proses acara.

Di situlah salah satu dilema ketua. Dia harus membujuk anggotanya berangkat rapat atau dihabisi saat kumpul bersama teman-teman yang lain. Sebab, kelakuannya itu sangat mengganggu proses kreatif teman-teman lain saat berkerja.

Memang mental-mental seperti itu yang seharusnya kita hilangkan. Menurut saya, mental-mental pemalas dan mental yang lembek itu sangat mengganggu proses kreatif dalam berorganisasi. Kalau salah satu anggota malas, bisa jadi virus malas itu akan menular ke anggota yang lainnya.

Begitu pula dengan mental yang lembek. Kalau ada yang melakukan kesalahan tidak mau dikritik. Kalau dikritik malah balik marah. Kalau dimarahi tidak mau mengakui kesalahan. Kalau dihakimi di depan anggota lain tidak kuat dan memutuskan untuk tidak ikut organisasi lagi. Bahasa kerennya: “mutung”.

Kalau terus-terusan seperti ini, saya jadi berpikir bagaimana kualitas organisasi kampus di masa mendatang. Saya sering miris melihat kejadian yang seperti ini. Mahasiswa seperti itu tidak ada semangatnya sama sekali. Rasa saling memiliki kurang. Hubungan antarteman saling berjarak. Hal seperti ini bisa membuat citra organisasi mahasiswa jadi jelek dan diremehkan.

Mungkin pengurus organisasi di kampus FBS UNY ini sudah berusaha membuat titik ternyaman, yaitu dengan tidak membuat kebijakan yang memberatkan anggotanya. Akan tetapi hal itu  tidak disadari anggotanya sama sekali. Mereka tetap saja bermalas-malasan.

Memang, dampak dari aktif atau mengikuti sebuah organisasi kampus tidak akan terasa secara langsung. Bahkan, kadang (atau justru sering?) ada mahasiswa yang beranggapan bahwa ikut organisasi itu cuma dapat capek. Tidak ada untungnya bagi diri mereka. Ada lagi yang beranggapan ikut organisasi kan tidak dibayar, jadi, mengapa harus bercapek-capek segala?

Kalau semua mahasiswa berpikiran seperti itu, lebih baik mereka di rumah saja dan membantu pekerjaan orangtua. Itu lebih bermanfaat.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Terpopuler

To Top