Soliloqui

Gilotin*

lppmkreativa- gilotin
Pengrobohan patung Saddam Hussein

Pagi itu, orang-orang berkumpul di alun-alun kota. Mereka sudah tak sabar untuk melihat peristiwa bersejarah yang pernah ia jumpai dalam hidupnya. Seorang penjahat yang telah membunuh banyak orang akan diadili.

Barangkali, penjahat itu adalah orang yang telah membunuh salah seorang keluarga seorang yang datang ke alun-alun pagi itu. Bisa jadi dua diantaranya, atau lebih banyak lagi.

Sejak pagi-pagi sekali, alun-alun yang biasanya sepi itu mulai didatangi banyak orang. Barangkali, mereka ingin lihat secara langsung dan berdiri di baris terdepan, bagaimana kematian akan menjemput orang jahat. Mereka ingin membuat cerita buat anak cucunya di rumah. Agar mereka tak jadi penjahat, tapi jadi orang yang baik.

Pukul sembilan pagi, seorang bertubuh besar datang dengan dikawal puluhan tentara berjalan menuju ke tengah alun-alun. Orang-orang memandangnya dengan amarah yang tak dapat disembunyikan. Sekalipun antara mereka tak punya urusan samasekali dengan penjahat itu. Bahkan tak pernah mengenalnya sebagai penjahat, atau mendengar namanya pun tidak pernah.

Akan tetapi orang-orang merasa perlu untuk marah pada penjahat itu. Sebab ia telah sebabkan penderitaan dialami orang lain. Barangkali, kalau penjahat macam orang berbadan besar itu terus hidup, bukan tidak mungkin ia akan mengganggu seorang yang menyaksikannya.

Orang-orang pada mengumpat dan ingin mencakar penjahat yang terus berjalan menuju tiang pancang. Setiap dari yang hadir sepertinya ingin turut menghakimi penjahat. Semua orang ingin jadi algojo yang menghilangkan kejahatan di atas muka bumi.

Manakala penjahat itu telah sampai di bawah tiang pancang yang akan menghukum dirinya, orang-orang yang hadir di alun-alun langsung bersorak. Begitu senang bukan main.

Tak ada yang mengindahkan wajah penjahat itu. Ia menitihkan air mata pada saat-saat terakhir hidupnya. Ia akan segera menjemput ajal, dengan kebahagiaan di dapat orang-orang yang menyaksikan kematiannya.

Tali telah dikalungkan pada lehernya. Ia berdiri di atas meja kayu yang akan mengakhiri hidupnya. Sebelum kursi itu di tarik, penjahat itu sudah menendangnya. Barangkali, ia tak sanggup lagi menghadap ke muka. Menyaksikan amarah yang ada di setiap wajah orang-orang yang menyaksikannya.

Tapi, ketika kursi itu terjatuh, badannya ikut jatuh pula. Lehernya yang pendek itu tak dapat menahan badannya yang gemuk. Darah muncrat. Kepalanya masih terikat pada tali, tapi badannya sudah tersungkur di tanah.

Seketika itu pula, amarah yang meluap-luap itu berhenti. Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu jadi pucat. Ada pula yang muntah-muntah. Ada yang tiba-tiba menitihkan air mata dan membuang muka. Ada terhenyak dan diam. Alun-alun itu jadi sunyi.

Seorang yang datang untuk membuat cerita pada anak cucunya jadi diam. Wajahnya murung. Barangkali, ia sudah tak sanggup lagi untuk mengenang peristiwa yang baru saja ia saksikan, apalagi menceritakannya.

Tapi ia sudah terlanjur menyaksikan. Barangkali, ia tak akan mampu lagi melihat jasad orang mati. Barangkali, kematian akan terus mengingatkannya dengan penjahat yang mati di tiang gantungan. Penjahat yang kematiannya ingin ia ceritakan pada anak cucunya.

 

*Gilotin:  alat yang digunakan untuk membunuh seorang yang dijatuhi hukuman mati.

Sumber gambar: kun.uz

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Terpopuler

To Top