Film

Gundala: Memporak-Porandakan Komik, Setia Pada Nilai

lppmkreativa--gundala

“Setiap karya sastra yang dialihwahanakan menjadi film, selalu mengalami reduksi. Tapi, kenapa dia harus tetap hadir ke dalam bentuk film, agar pesannya itu tetap harus tersampaikan–ke mata orang banyak [khusunya yang tidak membaca buku], karena ide-ide mulia, ide-ide kemanusiaan tetap harus sampai [kepada semua orang],” kata Budiman Sudjatmiko, dalam wawancara dengan asumsi.co.

Namun, Joko Anwar, dalam fim terbarunya, Gundala: Negeri Ini Butuh Patriot (selanjutnya Gundala) tak hanya mereduksi komik yang ditulis oleh Harya Suryaminata (Hasmi) tersebut. Dia memporak-porandakan alur, plot, dan latar cerita Gundala versi komik, ke dalam cerita versi film yang ia garap. Namun, ia tetap setia pada nilai-nilai yang ingin disampaikan oleh Hasmi.

Jika di dalam Gundala versi komik, tokoh utama Sancaka, digambarkan sebagai ilmuan yang jenius dan ambisius. Sancaka dalam versi film, adalah orang biasa dengan kisah hidup tragis. Lahir dari keluarga kelas bawah, ayahnya meninggal ditikam rekannya sendiri dalam sebuah demonstrasi pekerja pabrik yang menuntut kenaikan upah layak. Sementara ibunya pergi untuk bekerja setelah ayahnya meninggal, namun tak pernah kembali.

Semua itu disaksikan langsung oleh Sancaka, dengan mata sendiri yang memupuk kemarahan terhadap orang-orang di sekitarnya. Pada akhirnya, ia memilih pergi meninggalkan rumah dan lingkungan yang tak bersahabat dengannya dan hidup di jalanan.

Laiknya kehidupan jalanan dalam kaca mata masyarakat umum, dunia jalanan dalam semesta Gundala, juga dipenuhi kekerasan dan kurang bersahabat dengan anak-anak. Singkatnya, ke mana pun Sancaka pergi, yang ia temui adalah kehidupan yang penuh penderitaan.

Peristiwa-peristiwa tersebut berhasil membentuk Sancaka sebagai pribadi yang acuh terhadap sekitar. Kendati begitu, bukan berarti ia abai terhadap kekerasan yang hampir ia lihat setiap hari. Sancaka kerap tergerak untuk menolong, saat melihat kekerasan menimpa orang lain, namun selalu terbentur pernyataan, “Mengapa harus aku?”

Mendekonstruksi Moralitas

Jika Sancaka terlahir di dalam kehidupan yang penuh penderitaan dan rasa nelangsa, tokoh antagonis di dalam Gundala, yakni Pengkor, terlahir sebagai anak yang diliputi kebahagiaan dari harta orangtua. Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Ayah Pengkor yang berseteru dengan pekerjanya, difitnah sebagai pembunuh. Rumahnya dibakar, dan Pengkor, yang masih anak-anak terperangkap di dalamnya. Separuh wajahnya terbakar dan tubuhnya menjadi cacat.

Namun, bukan berarti penderitaannya berhenti sampai di situ. Pamannya Pengkor, yang ingin menguasai harta sang Ayah, menitipkan Pengkor ke panti asuhan yang dikenal kejam karena kerap menyiksa anak-anak hingga mati. Alih-alih takut dan mati, Pengkor justru memobilisasi anak-anak panti untuk memberontak.

Pengkor berhasil keluar dari Panti Asuhan dan mengambil harta warisan sang Ayah dari keluarnganya. Dengan harta warisan itu, ia menyekolahkan anak-anak panti sesuai dengan keinginan dan meraih cita-cita. Semua itu dilakukan demi satu tujuan: ‘menciptakan dunia baru dengan tatanan yang mereka inginkan’.

“Orang-orang bermoral itu tak pernah mempedulikannya [anak dari hubungan haram, yang diasuh dan dibesarkan oleh Pengkor, hingga menjadi seorang musisi],” begitu nukilan kalimat yang diutarakan oleh Pengkor, saat melihat salah satu anak yang dibesarkannya dari Panti Asuhan tewas.

Dalam hal ini, sejak dimulainya film, Joko Anwar, telah telah mempora-porandakan–tak hanya cerita, tetapi juga tatanan di dalam masyarakat. Bagaimana baik dan buruk melebur jadi satu dan acapkali membuat penontonnya perlu menilai ulang realitas yang ada disekitarnya.

Kedua tokoh utama dalam cerita Gundala tersebut menghadirkan sebuah paradoks, yang barangkali tak akan terfikirkan oleh orang awam, sehingga menunjukkan kualitas seorang Joko Anwar. Tak hanya sutradara, ia adalah seorang jenius yang menyampaikan pesan-pesan moral di luar doktrin baik-buruk yang serba hitam-putih.

Menggabungkan Kemarin, Kini dan Esok dalam Satu Waktu

Tak hanya memunculkan paradoks-paradoks yang ada di masyarakat, Joko Anwar dalam hemat saya juga berhasil menggabungkan 3 dimensi waktu, yakni menarik kemarin dan esok, ke dalam hari ini. Menyaksikan Gundala, seperti melihat Indonesia dalam narasi politik Orde Baru (Orba), kendati hal ini tak sepenuhnya dapat dibenarkan.

Dalam ulasannya  Gundala: Workig Class Superhero Is Something To Be! yang dimuat tirto.id, Faisal Irfani menulis Gundala berhasil memasukan narasi oligarki politik lewat tokoh Pengkor.

“Sepanjang film, Pengkor membajak amarah masyarakat miskin, memelihara ribuan anak yatim untuk dijadikan tukang pukul. Pengkor bahkan sukses membeli mayoritas anggota DPR. Karakter lord of misrule ini juga terus mendestabilisasi tatanan sosial demi kepentingannya sendiri—menciptakan tatanan dunia baru tanpa moral.”

Dalam semesta yang lebih real, apa yang dilakukan Pengkor mirip dengan rezim militer, yang sempat menguasai Indonesia. Namun, jika dalam semesta Indonesia, yang terjadi adalah dekadensi dengan memotong sejarah pada satu generasi, Pengkor berupaya menciptakan satu generasi tanpa moral lewat serum amoral, yang diberikan kepada perempuan hamil–dalam hal ini, Pengkor gagal merealisasikan ambisinya itu karena digagalkan oleh Gundala.

Kendati begitu, Pengkor tak sepenuhnya gagal. Terdapat sebagian kecil perempuan hamil yang sudah diberi serum amoral. Dalam prosesnya, Joko Anwar berhasil menyelipkan praktik kolusi, sebelum memungkasi filmnya. Ia seperti menyampaikan pesan bahwa hal buruk memiliki akibat yang buruk, tetapi tanpa ada tendensi baik buruk.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Terbaru

To Top