OPINI

Hal Dasar tentang Penyakit Mental

Foto: shutterstock.com

Pernah merasa ada yang aneh dengan dirimu? Semacam, tidak lagi berminat pada hal yang kamu suka, terlampau lelah untuk bangkit dari tempat tidur kala bangun di pagi hari, atau bahkan menangis tiba-tiba saat sedang melakukan sesuatu? Hati-hati, bisa jadi, penyakit mental sedang menduduki pundakmu kini. Amat wajar jika jiwamu lelah di tengah tuntutan hidup sekeras ini, belum lagi bila membicarakan masa lalu. Eits, kesehatan mental itu tidak sesederhana “capek” hidup. Salah-salah, self-diagnose (mendiagnosa diri sendiri) seperti membaca artikel kesehatan mental lalu membatin, “Wah, aku banget nih,” bisa membahayakan juga, lho.

Mari kita mulai dari mengenal kesehatan mental itu sendiri. Pertama-tama, pandanglah kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Berolahraga, mengonsumsi makanan sehat, minum vitamin; raga yang kita rawat ini diisi oleh seonggok jiwa yang memiliki rasa, tergores saat terluka, melayang saat senang. Nah, demikianlah jiwa kita bekerja. Lalu bagaimana bila jiwa kepalang rapuh? Jiwa pun dapat terkena penyakit, penyakit mental namanya. Pun, penyakit mental punya beragam bentuk, sama seperti penyakit yang menggerogoti fisik.

Sebutlah beberapa: Skizofrenia, bipolar, eating disorder—juga jangan lupakan yang paling umum diketahui: anxiety (kecemasan) dan depresi. Skizofrenia misalnya, bayangkan kamu menghabiskan hari dengan beragam ilusi yang muncul, terasa amat nyata, bahkan hingga tidak dapat dibedakan. Melelahkan, tentu saja. Juga anoreksia dan bulimia yang masuk dalam kategori eating disorder, di mana penderitanya selalu merasa kelebihan berat badan. Jangan diremehkan lho, karena hal itu membuat mereka melakukan hal menyakitkan seperti memuntahkan kembali makanan yang sudah ditelan, membatasi asupan makan secara ekstrem, hingga minum obat pencahar (pencuci perut). Berawal dari sakitnya jiwa, fisik pun kena dampaknya.

Tunggu, sakit jiwa? Apa mungkin orang-orang dengan penyakit mental harus masuk Rumah Sakit Jiwa? Hei, jangan bayangkan RSJ berisi orang-orang yang berteriak tanpa sebab, atau orang gila yang sering kali kita lihat terlunta-lunta di jalan. Di Rumah Sakit Jiwa, para pasien akan ditangani dengan diberi terapi sesuai kebutuhan hingga diberi obat untuk menyokong proses kesembuhan mereka. Asumsikan penyakit mental sebagai lubang pada jiwa, maka terapi dan obat itulah yang menambalnya. Lagi, marilah kita pandang kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

Lalu, apakah kita perlu mendatangi RSJ ketika merasa terkena penyakit mental? Tentu tidak. Beruntungnya, Yogyakarta menjadi provinsi pelopor yang “merakyatkan” kesehatan mental dengan menghadirkan poli-kesehatan jiwa di puskesmas. Dalam lembaga pendidikan pun selalu dihadirkan pusat konseling. Pernah curhat dengan guru BK kala SMA? Hayo, tugas guru BK tidak hanya mencatat kenakalan dan pelanggaran saja, ya. Di UNY sendiri, hadir UPT Layanan Bimbingan Konseling yang siap memberi uluran tangan.

Bila sudah berhadapan dengan psikolog, ceritakan saja masalahmu, apa yang terjadi padamu hingga membuatmu merasa terganggu. Usahakan sedetail mungkin tanpa kebohongan. Jawab pertanyaan yang dilontarkan, karena hal itu memudahkan mereka untuk membantumu sembuh. Jangan khawatir bila tidak menerima diagnosa saat itu juga, sebab untuk sembuh pun perlu waktu. Psikolog akan mengulik hal yang membuatmu terganggu, lalu sebisa mungkin hindari pemicunya. Tentu saja, psikolog bukan peramal yang dapat mengetahui masalahmu dalam sekejap, ‘kan?

Terlampau takut untuk bertatap muka dengan psikolog? Tenang, sebab sudah banyak lembaga psikologi yang menyediakan jasa konsultasi online. Mereka juga menyuarakan pentingnya kesehatan mental guna mengedukasi, hal itu pun akan memudahkan kita untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi pada kita. Sebutlah Ibunda.id, Riliv, dan HaloDoc yang sering kali membuat konten di media sosial mengenai kesehatan mental. Mereka merilis aplikasi guna memudahkan kita berkonsultasi.

Lalu bagaimana jika penyakit mental menghinggapi orang di sekitar kita? Pertama-tama, mari terapkan hukum: jadilah pendengar yang baik! Jangan sekalipun meremehkan orang yang curhat kepada kita, apalagi menyebutnya tidak bersyukur atau kurang iman, bahkan membandingkan masalahnya yang bagimu tidak lebih berat dari masalahmu. Cukup menjadi pendengar yang baik dengan memperhatikan apa yang mereka ceritakan, hentikan aktifitas yang mengganggu obrolan, turunkan ponselmu dan lihat mata lawan bicara—percayalah, hal kecil seperti itu akan membuat mereka yang punya gangguan mental merasa lebih berharga. Bila perlu, berilah pelukan yang tulus. Pada akhirnya, tawarkan bantuan kepada mereka seperti, “Kalau butuh teman, aku bakal selalu ada, kok.”

Bagaimana, sudah tidak lagi meraba-raba perihal penyakit mental? Sudah saatnya penyakit mental mendapat perhatian seperti halnya penyakit fisik. Mengutip salah satu konten Ibunda.id di Instagram: penyakit mental bukanlah sugesti negatif yang bersarang dalam kepala, tidak pula penyakit yang dapat sembuh hanya dengan positive thinking. Peyakit mental terjadi bukan karena kurang iman, tetapi kondisi kompleks yang terjadi dan bukanlah suatu pilihan.

Sekarang, lihatlah pantulan diri pada cermin dan rawatlah ia agar senantiasa damai dalam hidupnya. Tebarkan cinta dan empati pada siapapun juga, ya! *

— — — — — —

baca OPINI di lppmkreativa.com atau tulisan Glorizna (Kontributor) lainnya

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Terbaru

To Top