Home OPINI Indonesia Bergoyang, Indonesia Sempoyongan

Indonesia Bergoyang, Indonesia Sempoyongan

by Rizky Wahyu Arya Hutama
123 views

Panggung milik siapa? Mau ngapain?

Yakin? Di Panggung kamu ngajak bergoyang? Atau butuh digoyang?

Tersiar kabar, pada tanggal 19 Desember 2020 dilangsungkan pentas kolaborasi berjudul “Dang-Dor (Indonesia Bergoyang)” dari Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta. Dengan medium internet, panggung ditayangkan melalui kanal Youtube Fakultas Bahasa dan Seni UNY, pukul 19.00. Kira-kira, bagaimana sih mereka menggoyang Indonesia?

 

Apakah masih menjadi hal yang menarik ketika sekelompak mahasiswa entah dengan latar ekosistem apapun, membicarakan negaranya?

Atau memang sudah menjadi hal usang ketika dialektika coba dijalankan, termasuk dengan medium panggung seni. Atau ada cara-cara lain? Strategi teranyar, mungkin?

Menggabungkan kata ‘Indonesia’, dengan kata kerja ‘Bergoyang’ tentu akan mengundang banyak komentar, perspektif pemikiran, bahkan hingga pelisanan pengetahuan.

Kemudian jika memang bergoyang, pada panggung apa?

Karena mungkin saat ini, panggung tidak hanya milik seni pertunjukan saja. Dan memang sudah sejak lama berkembang. Cuma, momen-momen saat ini lebih menegaskan bahwa panggung tidak hanya milik seni pertunjukkan saja. Beberapa yang berkembang pada kehidupan, termasuk bahasa mengalami perluasan serta pengembangan.

Panggung menjadi sebuah medium, pada modus tertentu, gagasan hingga materi dipertahankan, sekaligus menjadi bahan taruhan.

Ah, masa gitu sih!

Jika pada sebuah panggung tersemat pemahaman hal demikian, tentu menjadi luas.

Ketika panggung teater (masih) memilih penontonnya, mungkin yang terjadi pada panggung lainnya akan memilih aktor berikut karakter serta perannya, artikulasi bahasa, dialektika, sekaligus menegaskan pada sebuah agenda.

Barangkali demikian, jika memang itu terjadi pada beberapa panggung, seperti: Panggung Politik, Panggung Agama, Panggung Budaya, Panggung Seni, Panggung Teater, Panggung Sosial, Panggung Hiburan, dan mungkin ada lainnya.

***

Jika pada sebuah teater, dramaturgi menjadi beberapa langkah cara untuk menanggapi panggung, untuk merumuskan sistem komunikasi yang baik terhadap teater dengan penontonnya. Kehadiran konflik biasanya menjadi khas teater menghadirkan alur, bersambut penyelesaiannya.

Kemudian bagaimana dengan panggung-panggung lainnya ya.

Butuh digoyang? Atau, justru diganyang? Pilih mana, Sayang?!

Dhony Hawk
Blokosutho.Farm
(Art, Nature, Culture)

Related Articles