Bahasa

Intervensi Penutur Asing: Bentuk Eksistensi atau Kolonialisme Masa Kini?

http://lppmkreativa.com/wp-content/uploads/2017/10/gambar-berita-online.png

Apa jadinya jika bahasa yang menempati peringkat ke-11 sebagai bahasa yang memiliki penutur terbanyak diklaim oleh negara lain? Belum terjadi, tapi tanda-tandanya sudah terlihat.

Mari berandai-andai. Penutur terbanyak Bahasa Jawa pada tahun 2123 bukanlah dari Indonesia, melainkan mereka yang antusias mempelajarinya sejak sekarang. Prancis, Suriname, Belanda, dan Australia pada tahun yang akan datang itu menjadi pengguna terbesar Bahasa Jawa.

Sementara itu, Indonesia yang tadinya merupakan pemilik Bahasa Jawa berubah menjadi pengguna minoritas saja. Apakah itu mungkin menjadi kenyataan? Wallahu alam.

Tapi, mari kita bahas dari segi lain. Kaum oksidentalis berpendapat bahwa masalah studi ilmiah Barat mengenai Timur tidaklah semata-mata didorong oleh kepentingan pengetahuan, tetapi juga oleh kepentingan kolonialisme. Pengetahuan bagi kaum orientalis memang ilmiah tetapi mengandung visi dan misi politis-ideologis.

Pengetahuan tiap negara yang kita asumsikan paling banyak menggunakan Bahasa Jawa (negara-negara imajiner di atas) membuat kita lupa untuk mempelajari bahasa jawa dengan baik dan benar. Apakah pengetahuan itu merupakan bentuk apresiasi dan eksistensi dari negara-negara itu? Atau, kepentingan masing-masing negara itu demi kekuasaan politis-ideologis yang semata-mata merupakan bentuk lain dari kolonialisme?

Nyoman Kutha Ratna, dalam Poskolonialisme Indonesia Relevansi Sastra, mengemukakan  pokok pengertian poskolonial. Di antaranya, memiliki kaitan erat dengan nasionalisme, menggalang kekuatan dari bawah, belajar dari masa lampau untuk menuju masa depan, dan membangkitkan kesadaran bahwa penjajahan bukan semata-mata dalam bentuk fisik melainkan juga psikis.

 

Negara imajiner yang antusias mempelajari Bahasa Jawa merampas bahasa itu dengan dalih mempelajari budaya Indonesia. Mereka hendak merebut budaya dan kesenian bukan secara fisik melainkan psikis tanpa disadari oleh penutur Bahasa Jawa sekarang ini. Seperti yang telah terjadi sebelumnya pada kesenian reog dan batik.

 

Di sisi lain, eksistensi Bahasa Jawa mungkin bisa digambarkan layaknya selebgram maupun konten viral yang ada di media sosial. Hadir dengan porsinya sendiri untuk dikenal dalam ranah lebih luas. Eksistensi tersebut kemudian timbul dari keunikannya. Hal-hal menarik tersebut dapat kita lihat dari beberapa bukti ini.

Pertama, Bahasa Jawa ditulis dengan berbagai aksara. Selain bisa ditulis dalam huruf alfabet, bahasa jawa dapat ditulis dalam bentuk aksara Jawa. Aksara Jawa merupakan huruf yang diturunkan dari aksara Byang berkembang pada masa Hindu-Budha yang dikenal sebagai huruf Hanacaraka.

Kedua, Bahasa Jawa memiliki kekayaan kata turunan. Misalnya, kelapa dalam Bahasa Jawa bisa memiliki banyak sebutan. Mulai dari buluk, cengkir, degan, hingga kambil. Selain itu, padi juga memiliki turunan kata mulai dari pari, beras, menir, aking, upo, hingga gabah.

Penerjemahan Bahasa Jawa sudah tersedia di Google Translate. Layanan ini dirilis Google sejak 24 Mei 2013 untuk 85 juta masyarakat Indonesia yang menggunakannya. Ketika layanan ini dirilis, Google Translate Bahasa Jawa masih berstatus “alpa” atau masih dalam tahap pengembangan. Artinya, kualitas terjemahan Bahasa Jawa di Google Translate belum setara dengan kualitas terjemahan bahasa lainnya

Menilik kolonialisme psikis dan eksistensi Bahasa Jawa yang hadir di era modern, ada dua kemungkinan yang dapat ditimbulkan. Kemungkinan pertama, semakin banyak penutur Bahasa Jawa maka semakin eksis bahasa tersebut di ranah dunia. Kedua, eksistensi Bahasa Jawa justru bisa saja sewaktu-waktu menjadi bumerang, yang menyebabkan kelengahan masyarakat yang seharusnya melestarikannya.

Eksistensi Bahasa Jawa yang semakin hari kian meningkat patut untuk dibanggakan tiap lapisan masyarakat. Masyarakat beranggapan bahwa semakin banyaknya penutur asing yang mempelajari Bahasa Jawa merupakan wujud diakuinya eksistensi bahasa ini. Bahayanya adalah: semakin bertambah kuat eksistensinya, penutur aslinya mungkin akan cenderung malas melestarikan Bahasa Jawa.

Padahal, Bahasa Jawa adalah salah satu kekayaan budaya kita. Jangan sampai Bahasa Jawa direbut bangsa lain!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Terpopuler

To Top