Jurnalis Kritis: Prestasi atau Kontroversi?

“Saya tidak akan mematikan mic Anda berdua karena Anda berdua tetap berhak untuk ngomong karena saya juga mengundang Anda,” ungkapan Najwa Shihab kepada narasumber Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR RI, Supratman Andi Atgas dan pendiri Lokataru, Haris Azhar sukses menyita banyak perhatian warganet.

Sosok jurnalis sekaligus pembawa acara televisi, Najwa Shihab, semakin hari semakin menjadi sorotan publik. Pendapat-pendapatnya yang kontrovesional dinilai merepresentasikan suara dari masyarakat Indonesia.

Putri kedua dari mantan Menteri Agama Republik Indonesia, Quraish Shihab ini lahir di Makassar, Sulawesi Selatan pada 16 September 1977 lalu. Pekerjaannya sebagai pembawa berita semakin cemerlang semenjak membawakan sebuah program di salah satu stasiun televisi pada tahun 2009. Hingga akhirnya, seiring dengan prestasi yang diperoleh oleh Najwa, ia pun sampai pada puncak karirnya dalam talkshow “Mata Najwa” yang berhasil mengundang tamu dari berbagai golongan masyarakat.

Berbagai isu pemerintahan yang kontroversi hingga yang tak terjangkau oleh rakyat kecil kemudian dibahas tuntas oleh tokoh perempuan tersebut dalam “Mata Najwa”. tentunya bukan sebuah langkah yang mudah untuk menjembatani pendapat rakyat dan pemerintah secara global dan transparan, namun ia mampu menjadi salah satu perempuan yang dipercayai oleh orang-orang.

Sebagai jurnalis yang dikenal dengan pemikiran kritis dan logisnya, Najwa Shihab adalah sosok yang suka berproses dan terus belajar. Hal ini diakui Najwa dalam sebuah wawancara, “Nah, dalam pekerjaan saya sebagai jurnalis, kemampuan untuk bisa menganalisa sesuatu, mengembangkan, beradu argumen dengan orang terutama sebagai talkshow host, apalagi politik, itu sangat membantu saya,” tuturnya.

Baca Juga : Bukan Negara Agraris, tapi Sekadar Desanya yang Agraris

Najwa Shihab bukan sekedar role model bagi tiap orang Indonesia dalam menyampaikan pendapat dengan benar di hadapan publik namun ia juga menjadi tokoh feminis yang dikagumi.

Opini-opininya yang kritis mampu “menembus” tiap lapisan masyarakat sehingga wajar saja apabila banyak orang yang mengidolakannya. Namun, yang menjadi pertanyaan apakah yang dilakukan oleh Najwa ini mampu merubah pandangan sistem yang telah mengakar di Indonesia?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Previous post Media Sosial di Era Globalisasi
Next post The Gifted: Setiap Sekolah Memiliki Rahasia