Bahasa

Karya Besar dan Peristiwa di Belakangnya

Albert Camus, Doc. google image

Sebuah karya, di mana pun ia diciptakan akan membawa gambaran dari zamannya. Itulah yang saya tangkap dari sebuah wawancara yang dilakukan kepada Albert Camus. Dalam naskah wawancara yang kemudian turut dibukukan dalam Krisis Kebebasan, yang berisi karya-karya terjemahannya, Camus menyadari sebuah zaman akan turut mempengaruhi karya yang ditulis oleh pengarang. Seorang pengarang yang mampu menciptakan karya besar adalah mereka yang mampu melihat keadaan masyarakatnya. Kemudian menjadikan keadaan tersebut untuk melihat mata rantai yang kemudian berusaha bicara tentang kebenaran.

Pun demikian, seorang yang mampu melihat keadaan sekelilingnya, justru menginginkan dirinya yang dahulu. Dia akan merindukan masa dimana ia menjadi seorang yang tidak tahu apa-apa. Sebab menjadi “tahu” keadaan, akan membuatnya memiliki beban moral untuk menyelamatkan generasinya dari keadaan yang ia ketahui. Ada sebuah masalah yang tidak disadari banyak orang dan harus diselesaikan sendiri, karena tidak semua orang tahu akan masalah tersebut.

Seorang bijak dari Timur dalam doanya senantiasa meminta kepada yang Mahakuasa agar ia tidak ditakdirkan hidup di suatu masa yang memiliki arti penting. Karena kita bukan orang bijak, yang Mahakuasa tidak mengindahkan kita dan kita pun hidup di masa yang memiliki arti penting. (Albert Camus). ˡ

Bila kita sepakat dengan ungkapan Albert Camus di atas dan kita meyakini bahwa sebuah karya besar selalu mencerminkan semangat zamannya, maka sebenarnya kita semua sedang menghindar untuk menjadi pengarang besar. Tidak ada zaman yang tidak memiliki arti. Pun demikian antara masa satu dengan yang lain, tidak ada masa yang sangat penting dan masa yang kurang penting dalam sejarah peradaban umat manusia. Ungkapan Albert Camus di atas, memperlihatkan ketidakmampuan nurani untuk melihat kenyataan dalam dunia ini. Bahwa penindasan yang sekali pun diupayakan untuk dienyahkan dari muka bumi, kenyataannya masih tetap ada. Dari penindasan paling kecil yang tak terlihat, sampai yang terang-terangan dilakukan di hadapan semua orang.

Kita tidak dapat memungkiri bahwa karya besar selalu memiliki latar belakang peristiwa yang besar pula dalam diri pengarang (oleh Albert Camus di sebut masa yang memiliki arti penting). Saya sangat sepakat dengan ini. Akan tetapi, bukankah kita juga hidup dalam satu masa yang memiliki arti penting? Ya, kita hidup pada masa yang suatu saat akan di catat sebagai peristiwa penting. Hanya saja, mungkin di antara kita belum menemukan kesadaran akan hal itu.

Bukankah peristiwa-peristiwa di masa lalu, yang oleh generasi kita sekarang di sebut sebagai peristiwa penting, pada saat peristiwa tersebut terjadi oleh generasi masa itu juga di anggap biasa saja. Mereka melakukan tindakan yang kita anggap luar biasa, karena kesadaran yang lahir dalam diri mereka untuk bertindak demikian. Bila kita menunggu peristiwa besar untuk menjadikan diri ini sebagai bagian penting dalam sejarah, hal ini tidak akan pernah terjadi. Pun dengan mereka yang kita kagumi sebagai orang hebat, jika menunggu peristiwa besar untuk melibatkan diri di dalamnya, maka tidak akan pernah ada satu peristiwa besar di muka bumi ini.

Kita harus menyadari, bahwasannya kita sedang hidup dalam satu masa yang memiliki arti penting. Hanya seberapa penting zaman kita dan seberapa besar pengaruhnya untuk generasi yang akan datang, masih menjadi tanda tanya. Para pendahulu yang hidup di masa sebelum kita pun mungkin tidak tahu bahwa yang mereka lakukan adalah hal yang penting untuk generasi kita. Karenanya, dalam setiap hal yang kita lakukan hendaknya menyadari semangat zaman yang kita wakili. (Permadi Suntama)

__________

ˡ di kutip dari buku ”Krisis Kebebasan” naskah asli merupakan materi kuliah umum di Universitas Upsala, Desember 1957.

Sumber bacaan: Camus, Albert. 2013. Krisis Kebebasa. Diterjemahkan oleh: Edhi Martono. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

To Top