AKSARA

Komunikasi Dua Sisi

Hidup layaknya aliran air terus saja mengalir entah itu lurus, berkelok, atau bahkan pada saatnya nanti kering. Air. Aku selalu menyukai hadirnya hanya saja secara pas tak berlebih. Aku menyukai hujan, laut, suara ombak, juga gemericik aliran sungai karena mereka membuat semua rasa yang berkecamuk itu perlahan memudar. Namun ada kalanya arus dari air itu tak berarah ketika persimpangan mulai muncul mengaburkan keselarasan. Pikiran dan hati yang sering membuat seseorang seolah digamblingkan dengan keselarasan itu sendiri. Mereka tak pernah mau bertemu di suatu titik bernama kesepakatan. Sesekali saja hati dan pikiran sejalan untuk sementara namun lebih sering berpencar ke sembarang arah. Ketiadaan pengertian dan komunikasi menjadi penyebab kita diombang-ambingkan oleh pemikiran dan spekulasi kita itu sendiri.

Manusia selalu punya caranya sendiri dalam melangkah, menuruti egonya berjalan sesuai arahan, juga ada yang sebagian dari mereka berjalan beriringan. Kesepakatan yang jarang kita temukan dalam kehidupan kita sendiri. Sejatinya layaknya angin yang berarak dari berbagai arah, menerbangkan daun ataupun debu adalah pemandangan lumrah bagi kita. Mereka berpencar lalu hilang, tak lagi bisa kita lihat seperti sediakala adapun bisa pasti tak lagi sama entah karena wujud atau dikarenakan perputaran waktu. Angin pun terkadang tak tahu ke mana tujuan mereka untuk pulang.

Tak pernah kita tahu ke mana angin akan membawa daun ataupun debu. Ketika itu pun kedua hal itu seakan menyadarkan kita akan arah yang sering membuat diri kita sendiri bingung dalam menentukan tujuan. Angin dan air yang memiliki komponen berbeda selalu mengingatkan kita akan jutaan manusia yang tak pernah selaras dalam mengambil keputusan. Walaupun ada masanya perbedaan itu bukanlah masalah namun di suatu waktu perbedaan itu malah menjadi bumerang bagi seseorang. Yang paling penting ialah bagaimana kita merangkai perbedaan itu menjadi alat yang menguatkan bukan melemahkan.

Angin membawa kabar kepada burung bahwa senja mulai nampak di langit petang. Walaupun senja berkilah menampik langit malam, sungguhpun malam benar-benar datang. Layaknya malam ada kalanya langit juga bisa berubah, entah bertabur bintang atau tanpa sapuan bulan sekalipun. Perubahan, perbedaan, dan komunikasi adalah hal yang sangat riskan dalam membentuk diri di lingkungan. Atap langit yang mulai merona membuat siapapun terpesona akan megahnya karya sang Esa. Sebuah pesan berwarna jingga yang bisa membuat pribadi kita berintrospeksi akan segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita masing-masing.

Rangkaian fragmen yang membuat kita sadar dan lalu tahu bahwa hidup tidak hanya tertuju ke satu arah. Karena di setiap jalan kita pasti menemukan cabang yang akan menuntun kita ke tujuan yang kita tentukan sendiri. Walaupun pada akhirnya cabang itu pun ada kalanya bertemu di satu titik tertentu. Begitu halnya perbedaan paham seringkali manusia hanya terfokus akan tujuannya sendiri dan tidak memedulikan orang di sekitarnya. Harus dirinya sendiri yang menang dan keperluan orang lain tidaklah terlalu penting. Suatu hal yang sering memuncakkan amarah kita padahal sejatinya tidak adanya komunikasi adalah faktor yang mendorong perpecahan itu terjadi.

Dinding rumah kita rupanya bersekat namun tak terlihat. Entah kita berpura-pura tak melihat ataukah memang kita tertipu oleh ruang pandang yang hanya sekedip untuk sempat ditatap. Rasanya kita acuh bahwa rumah kita sama seperti lainnya, saling berbicara saling bertegur sapa namun juga sempat berhenti berbicara. Ketiadaan rasa untuk bertegur sapa atau berbicara itu membuat kita menjadi apatis, tidak peduli dengan lingkugan sekitar kita sendiri. Hal itu menjadikan kita berubah menjadi pribadi yang seakan-akan terlihat egois karena ketidak pedulian kita terhadap orang lain. Hingga akhirnya masalah kecil bahkan besar timbul karenanya. Manusia adalah makhluk yang mudah terpantik oleh permasalahan baik dari hal yang sepele dan pasti hal yang lebih besar lainnya. Akan tetapi, sejatinya kita juga punya sisi yang menekan ego kita, suatu hal yang bernama pengendalian diri. Yang mana perlu cara dari diri kita sendiri, bagaimana mengendalikan ego itu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Terpopuler

To Top