Klenengan

Kuliah Online, Kangen Titip Absen

ilustrasi: Kirana

Kapan lagi kita bisa kuliah dalam keadaan setengah telanjang sambil sesekali garuk pikang. Cukup dengan buka WhatsApp menggunakan ponsel yang tersambung internet, kita langsung ikut kuliah daring.

“titip absen” sukar dilakukan semenjak kebijakan presensi online ditetapkan. Sekarang bukan hanya presensinya, melainkan juga kuliahnya yang daring.

Kuliah daring Ini mengingatkan saya kepada futurelearn.com, website online course setara internasional (bagus tuh buat yang maniak kuliah). Saya merasa bahwa Future Learn adalah website dengan inovasi yang tiada tara, sebab kita bisa mengakses perkuliahan secara gratis tanpa memandang dari rahim yang mana kita lahir.

Gila! Mulai Senin lalu UNY melakukan hal yang sama.

Bagi saya, Surat Edaran rektor tentang peniadaan tatap muka, baik perkuliahan maupun kegiatan mahasiswa, merupakan langkah konkrit guna menghalau penyebaran Covid-19. Walau demikian, ada hal yang membuat saya resah (kalau tidak bisa dikatakan menolak) tentang perkuliahan daring ini.

Lagi pula, tidak keluar kamar seharian sambil memanfaatkan WiFi “SD MUH MILIRAN” adalah hal biasa bagi saya. Sayang, duh sayang. Kuliah yang harusnya daring malah jadi ajang serah terima tugas.

(mari kita sedikit bergunjing) Mereka yang kolot barangkali hanya mengenal online sebatas penggunaan E-Mail dan Google Classroom. Di mana dua hal itu dikenal sebagai wadah pengumpulan tugas mahasiswa. Oleh karenanya, pada minggu pertama kuliah daring mahasiswa selalu kedapatan tugas dari tiap-tiap mata kuliah.

Ini hanya anggapan saya, rasanya tidak bijak jika tugas diberikan tanpa ada arahan dari pengampu. Walau banyak jurnal rujukan yang dapat diakses secara daring, belum tentu konten di dalamnya sesuai dengan apa yang diinginkan pemberi tugas.

Masih bagus kalau tugas itu memang diberikan atas dasar penugasan, bagaimana jika ternyata tugas-tugas itu diberikan atas dasar presensi? Dalam artian, mereka yang tidak mengumpulkan tugas akan dianggap tidak hadir. Waduh!

Sekarang marilah sedikit berpikiran baik, Dik. Barangkali tugas-tugas itu diberikan karena memang sudah waktunya mahasiswa menerima tugas. Semoga tidak ada penugasan yang mensyaratkan pencarian data melalui interaksi sosial tatap muka lanngsung.

Keluhan yang (kadangkala) tidak tahu diri akhirnya terdengar (sekaligus didengarkan) birokrasi. Pada 18 Maret muncul surat edaran yang berisi evaluasi pelaksanaan kuliah daring di FBS. Di mana pada poin 3 disebutkan bahwa perkuliahan daring tidak sama dengan pemberian tugas. Duar! Apa lagi sampai membebani mahasiswa.

Tidak adil jika saya hanya menuliskan kebaikan yang ditawarkan birokrasi seperti apa yang tertera pada poin 3. Mata kuliah dengan tugas akhir seperti pentas drama, tari, dan musik harus dilakukan dengan cara daring pula! Lebih tepatnya dilakukan dalam bentuk audio, visual, atau keduanya.

Pementasan akhir dilakukan melalui rekam suara maupun video, katanya. Gila saja kalo pentas drama dilakukan dengan cara rekam dari adegan ke adegan, dari aktor ke aktor. Bisa-bisa mata kuliah Pentas Drama berganti nama menjadi mata kuliah Multimedia karena berurusan dengan penyuntingan video dan suara.

Bukankah euforia pementasan itu berada di atas panggung seusai pentas? Dengan meniadakan pementasan, saya rasa FBS telah kehilangan wujud apresiasi terhadap seni pertunjukan panggung.

Semoga saja tidak ada anggapan bahwa pementasan seni dalam kampus hanyalah pemenuhan tugas kuliah semata. Semoga ada tawaran baik dari mahasiswa maupun birokrasi.

Pelaksanaan kuliah daring sekaligus menunda seluruh kegiatan mahasiswa tatap muka seperti diskusi, rapat, sosialisasi, dan lainnya. Menunda hanyalah diksi saja, Bung. Program kerja anual ormawa di tahun ini kemungkinan tidak akan dilaksanakan.

Lagi-lagi, tawaran, sekaligus keluhan, yang kita layangkan hanya akan kembali kepada pernyataan tentang penghentian penyebaran wabah Covid-19. Benar bahwa tidak ada hal yang lebih baik daripada mencegah hal buruk terjadi.

Kebijakan darurat, seperti pelaksanaan kuliah daring ini, tentu akan menimbulkan pro kontra dalam tubuh “masyarakat” kampus. Apapun reaksi kita terhadap kebijakan kuliah daring, sebenarnya kita sudah tahu mana yang baik dan yang buruk untuk dilakukan. [redaksi/Pandan]

– – – – –

baca Klenengan di lppmkreativa.com atau tulisan Nursaid lainnya

Click to comment

Terbaru

To Top