Teras

Lakon “Guru” Menyoal Pendidikan

Yogyakarta — Mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) semester lima membuka rangkaian Parade Teater di Lab. Karawitan Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UNY pada Selasa (12/12/2017).

Kelompok mahasiswa PBSI J dengan nama Teater Juang ini mengangkat tema pendidikan dengan lakon berjudul “Guru”, yang merupakan adaptasi dari naskah “Zetan” karya Putu Wijaya.

Foto: Wahyu Ami

Pemilihan tema pendidikan didasarkan oleh keselarasan isi dari pementasan teater tersebut dengan jurusan mereka.

“Naskah Zetan ini ‘kan membicarakan tentang moral pendidikan dan jadi seorang guru itu bagaimana. Itu ‘kan sejalan dengan jurusan kami, PBSI, yang mahasiswanya nanti akan menjadi seorang guru,” ujar Hakim selaku asisten sutradara.

Foto: Yesi amalia

Pemilihan aktor dalam pementasan teater ini dilakukan melalui sistem casting.

Temen-temen bisa jadi apa pun. Nanti sutradara kasih penawaran, gimana kalau kamu jadi ini aja. Oh, ternyata cocok. Ya, seperti casting biasanya gitulah,” terang Hakim.

Untuk persiapan, Hakim mengatakan bahwa pementasan teater ini memerlukan waktu latihan kurang-lebih tiga bulan. Tapi untuk kepanitiaan sudah terbentuk jauh-jauh hari sebelumnya. Kesiapan panitia sendiri dikatakan oleh Hakim kira-kira 90 persen.

Terkait suka duka dalam proses pementasan teater ini, Hakim mengutarakan, “Kalau suka dukanya, ya, kalau ada yang mengeluh, itu kita harus bisa menjaga mood mereka. Kita maklum aja, ‘kan belum pernah melakukan proses ini.”

Pementasan yang disutradarai oleh Rizki Ahmad Baehaqi ini bisa dikatakan sukses.

“Temanya sangat menarik bagi saya,” tutur Lutfi, mahasiswa UGM yang merupakan salah satu tamu undangan pada pementasan ini. Lutfi mengatakan bahwa penyampaian aspirasi dan perjuangan melalui teater merupakan suatu hal yang langka.

Foto: Yesi Amalia

“Penyampaiannya itu bisa diterima secara langsung, bagaimana entry point dan nilai-nilai yang ingin disampaikan kepada audiens,” lanjut Lutfi. Lutfi mengaku bahwa inilah kali pertamanya ia menyaksikan pementasan teater secara langsung.

Kalau dari segi artistik, menurut Lutfi, pementasan ini sudah sangat bagus.

“Kalau saya lihat sih para aktor dalam pementasan teater ini adalah aktor profesional semua. Tapi, ada beberapa hal yang menurut saya perlu disensor. Ini ‘kan temanya berbicara tentang moral dan kemanusiaan, ya,” terang Lutfi.

Foto: Fajar Uye

Terlepas dari beberapa hal yang perlu disensor itu, Lutfi mengungkapkan bahwa secara keseluruhan konsep pentas teater ini sempurna.

“Menurut saya konsepnya sempurna., sangat-sangat menarik dan gampang dicerna juga,” aku Lutfi.

Lutfi mengharapkan agar pementasan teater seperti ini dipertahankan karena langka. Ia mengaku sangat terkesan saat melihat pementasan secara langsung. Baginya, pementasan ini benar-benar berisi.

“Saya sih lebih terkesan dengan pemain-pemainnya, terutama yang berperan jadi Bapak Guru itu, sangat-sangat profesional memainkan perannya,” lanjut Lutfi.

Foto: Wahyu  Ami

“Satu kata untuk pementasan tadi: amazing!” pungkas Lutfi.*** (M. Fajar Riyadi/Wahyu Ami/Yesi Amalia)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Terpopuler

To Top