AKSARA

Lipatan Kertas untuk Mimpi

kreativa.com- lipatan kertas untuk mimipi

Senbazuru, origami seribu bangau selalu membawa sebuah rasa percaya, bahwa mimpi akan terkabulkan. Perjalanan hidup yang panjang, akan menggiringku pada sebuah tempat ternyaman bernama rumah dan keluarga. Tempat awal mimpi-mimpiku tertanam untuk tumbuh. Ada bagian-bagian termanis dari jutaan manusia yang membuat senbazuru.

Sadako Sasaki, gadis yang melawan penyakitnya dengan melipat enam ratus empat puluh empat tsuru (bangau) sebelum akhirnya meninggal. Bilik dada dan nafasku tersengal hingga aku tahu bahwa seribu bangau Sasaki tuntas melalui tangan-tangan kerabatnya.

Aku kira, mimpi hanya soal aku dan harapan, tapi ternyata mimpi juga soal yang ada di sekitar. Siap menjadi tonggak agar manisnya buah dari mimpi bisa dinikmati. Memetik buah di atas pohon tidak hanya di pandang caranya. Kita perlu mencari galah atau memanjatnya. Pun  dengan menggapai impian. Kita harus mengenali dan memahami medan berlikunya.

Manusia memiliki latar dan caranya sendiri untuk menuntaskan keinginannya. Melakukan berbagai cara untuk menggapainya, atau hanya melakukan sedapatnya saja. Tak peduli apakah yang diraih sesuai kehendak atau tidak. Menuntaskan keinginan, seperti berjalan di bawah guyuran hujan. Entah akan tetap melangkah agar sampai tujuan dengan tubuh basah ataukah berhenti di persimpangan dengan tubuh kering, tak peduli kapan tujuannya lekas tercapai.

Seribu burung selalu bersahabat dengan langit. Sebagai altar dan sebagai penari dengan simfoni alam yang selalu diagungkan manusia.

Aku tersengal sekali lagi. Ketika aku tersadar bahwa manusia tak ada apa-apanya dengan cara burung-burung menari memuji keindahan alam semesta. Kita selalu mendongak, tersungkur pada gundukan tanah sambil terdiam.  Sembari menjalankan peran di bawah altar, burung-burung itu memijaki tangga yang bisa licin karena air, juga bisa lapuk karena waktu.

Pikiran akan terbuai ketika kita memijaki satu demi satu anak tangga yang disebut jalan kehidupan. Terjatuh itu bukanlah hal yang mengagetkan apalagi melakukan. Kita sama-sama pernah ada di masa kecil, belajar berjalan dan terjatuh secara bersamaan. Belajar sakit, mengenal luka, dan menangis. Tapi sekali lagi bukankah itu membuat manusia sadar, bahwa sakit tak selamanya sakit. Dari jatuh, kuat diajarkan dan dari luka belajar terbiasa guna diamalkan.

Kita saling tahu, bahwa terguyur air hujan hanyalah membuat tubuh menjadi dingin. Air hujan tak akan membuat tubuh langsung sakit. Semakin banyak tubuh merasakan dinginnya air hujan, semakin kebal pula kita menerima basah, dingin, dan perihnya mata terkena air. Sering merasakan pedih memang akan semakin terbiasa menghadapinya. Bukannya menjadikan lemah, namun akan semakin kuat.

Genggaman langit selalu erat kepada awan, seolah tak pernah mengizinkannya pergi dari angkasa tanpa dibiarkannya lari dari cakrawala. Awan menangis mengeluarkan air mata yang sering disapa hujan. Namun, hujan bukan lah gambaran sedih. Hujan adalah cara awan menyampaikan tegur di bumi yang selalu menjadi medan tersulit untuk manusia tanjaki. Awan tak pernah berkeluh kecewa kepada bumi. Melalui medan yang terjal terbentuklah manusia yang kuat, dan dari hadirnya pelangi awan mengucapkan rasa terima kasihnya untuk bumi.

Bumi memanglah medan yang terjal. Namun, medan itu hanya sekadar cara menguji kita soal arti dari ketangguhan. Menghadapi berbagai macam jalan dan cara diri-Nya yang siap menguji angan kita, harapan kita, dan mimpi kita. Gundukan batu bisa saja menjadi sandungan, pohon tumbang bisa saja menghadang, bahkan angin pun siap saling meniup untuk membuat manusia akhirnya jatuh tersungkur dan menyerah. Pada titik terbawahlah lagu-lagu keluhan dilontarkan dari mulut manusia.

Layaknya kupu-kupu, manusia takkan indah tanpa ditempa. Dia harus bermetamorfosis dari ulat menuju kepompong hingga mampu terbang dengan sayap indah layaknya kupu-kupu. Mengenali dunia baru yang awalnya merangkak, lalu berubah mengepakkan sayap dan siap mencoba terbang. Kupu-kupu tak berhenti sampai di sana, ia masih tetap harus hidup sembari memekarkan bunga tiada henti.

Mengenali dunia baru, layaknya ulat yang merangkak pelan-pelan. Memijaki dunia sambil memahami lingkungan di sekitarnya adalah langkah awal memerankan peran kita. Metamorfosis kepompong menjadi tahap terlama dalam lingkup yang terbatas. Peran kita tak ubahnya kepompong berada dalam suatu lingkungan. Siap ditempa dan mendapat segala ilmu melalui proses panjang dan melelahkan. Kemudian, dia akan mengelupas, mengubah kita menjadi kupu-kupu yang indah dan siap terbang menjelajah dunia.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Terpopuler

To Top