Literasi Tidak Akan Kehilangan Kutu Bukunya

“Aku takut suatu hari teknologi akan melampaui interaksi manusia. Dunia akan memiliki generasi idiot” Begitulah kata Albert Einstein. Tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya salah. Sebab, revolusi akan terus ada sekalipun kita menentangnya. Revolusi bahkan bisa dikatakan sebagai keperluan masif yang pastinya akan memengaruhi kehidupan.

Salah satu hal penting dari revolusi yang kini amat terasa di kehidupan adalah dalam bidang teknologi. Perkembangan teknologi mutakhir yang dihadapkan pada era revolusi industri 4.0 telah menjembatani pemikiran manusia sekaligus cara bijak memanfaatkannya. Media-media inovasi dimanfaatkan untuk menuangkan ide dan gagasan-gagasan segar agar dalam berbagai bentuk. Sayangnya, banyak dari inovasi yang dikembangkan saat ini cenderung bersifat disruptif. Suatu istilah yang berarti membantu menciptakan pasar baru, mengganggu atau merusak pasar yang sudah ada, dan pada akhirnya menggantikan teknologi terdahulu tersebut  (Rahmat, 2018).

Salah satu bidang yang ikut merasakan inovasi tersebut adalah dalam bidang literasi. Sebagai generasi yang berkecimpung di literasi saya merasakan betul bagaimana inovasi mengubah literasi menjadi lebih modern, lebih dikenal, dan lebih variatif. Berbagai inovasi tersebut berkembang mulai dari media baca, media tulis, bahkan pengubahan karya-karya literasi dalam bentuk yang lain seperti audio dan digital.

Sebagai contoh, beberapa inovasi tersebut adalah mudahnya menjangkau bahan bacaan berupa buku, artikel, esai dan berbagai macam karya tulis lain  dalam bentuk digital (E-book). Tidak hanya itu, penggiat literasi juga dapat membagikan karya-karyanya dengan amat mudah melalui berbagai platform digital.

Keberadaan media sosial sebagai salah satu platform digital membuat literasi kembali hidup dengan kemasan yang lebih energik dan adaptif bagi generasi masa kini. Semua kalangan dapat dengan mudah mengakses karya-karya yang bisa saja bersumber dari ketidaksengajaan karena mencantumkan “caption” pada selipan setiap postingan.

Apalagi kini para penulis lebih memilih media sosial sebagai media promosi terhadap karya-karya mereka agar lebih dikenal dan lebih dekat dengan para pembaca. Dukungan inovasi masa kini memberikan dampak besar untuk menikmati dan menghasilkan karya sastra. Wadah-wadah begitu meluas mulai dari sosial media, situs-situs sampai aplikasi-aplikasi yang dikhususkan bagi para penulis.

Baca juga: Sopan Santun Lemah: Malu dengan Penjajah

Berbicara tentang penulis di era sekarang sia pun bisa saja menjadi seorang penulis. Fitur-fitur dan aplikasi-aplikasi bagi para penulis membuka kesempatan bagi para penulis untuk menghasilkan karya-karya sastra. Banyak sekali penulis terkenal yang awalnya dikenal sebagai seorang yang rajin menulis di blog dan menulis di aplikasi-aplikasi khusus penulis.

Sebut saja Raditya Dika yang berhasil menghasilkan karya-karya unik yang awalnya ditulis di blog. Selain itu ada juga penulis muda Nadhifa Allya Tsana yang mampu menarik para pembaca muda lewat karyanya “ Geez dan Ann” yang awalnya ditulis dalam aplikasi komunitas online para penulis dan pembaca Wattpad. Kini karyanya tersebut telah berhasil dibukukan dan menjadi salah satu buku best seller di Indonesia serta mendapatkan kesempatan difilmkan. Tidak hanya itu, penulis dengan nama pena Rintik Sedu itu pun menunjukkan bahwa sastra dapat berjalan beriringan dengan generasi masa kini. Ia memanfaatkan fitur dan aplikasi sebagai media berkarya dan mempromosikan karya.

Sayang sekali jika kondisi yang amat menguntungkan tersebut hanya dimanfaatkan dengan berdiam diri. Layaknya kita sebagai bagian dari penggiat literasi memanfaatkan dengan baik wadah yang memberi keterbukaan bagi literasi lebih dikenal khalayak luas. Berjalan beriringan dengan berkembangnya media literasi menjadi solusi tepat untuk menyebarkan gerakan literasi. Sebab bagaimana pun teknologi memperbarui rupa literasi, literasi tidak akan pernah kehilangan kutu bukunya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Previous post Sopan Santun Lemah: Malu dengan Penjajah
Next post 1960