Film

Marlina Bukan Sekadar Feminisme

Foto: IMDB.com

Pertama kali menonton film ini, Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak, di salah satu ruangan di gedung kuliah C.13 Fakultas Bahasa dan Seni UNY. Saya dibuat penasaran akan judul film yang telah disepakati di grup Whatsapp kelas jurnalistik. Penyebutan “Empat Babak” pada sebuah judul juga menggugah rasa ingin tahu. Sebab, saya masih dalam euforia setelah melaksanakan pentas drama.

Adegan pertama sudah membuat saya berpikir tentang apa yang dilakukan Marlina ketika rumahnya dirampok. Jika rumah kita dirampok, apa yang baiknya dilakukan? Pasrah, melawan, atau berteriak? Pasrah mungkin hanya akan dilakukan ketika berteriak tidak membuahkan hasil dan kita tidak berani untuk melawan. Melawan? Tidak mungkin, perampok mesti sudah memperhitungkan hal itu supaya mereka memenangkan pertarungan.

Melihat posisi tempat Marlina yang tinggal di tengah-tengah Sumba, barangkali yang bisa saya lakukan adalah pasrah. Minta tolong jelas bukanlah solusi, tidak ada tetangga atau siapa pun di sana. Sebagai seorang lelaki, barangkali saya akan memilih jalan yang heroik: melawan. Itu juga yang dilakukan Marlina di babak pertama, akan tetapi ia menunggu dengan sabar timing perlawanannya.

Marlina, seorang perempuan yang hidup di tengah perbukitan Sumba tanpa anak dan suami. Ternak-ternak yang dirawat olehnya dibopong oleh tujuh perampok itu. Kewanitaan Marlina dieksploitasi, ia disuruh memasak sup ayam, menghidupi rumah, juga diperkosa di sela-sela waktu sibuknya.

Marlina membunuh para perampok itu dengan memasukkan racun ke dalam makanan yang ia hidangkan. Saya teringat adegan pada serial film Vikings, di mana ada seorang laki-laki (saya lupa nama tokohnya) meracuni sepupunya karena mengambil alih haknya untuk memimpin kerajaan.

Setelah meracuni makanan, Marlina memenggal kepala Markus saat sedang menunggangi tubuhnya. Kepala pria itu ditentengnya menuju kantor polisi. Marlinah menumpang di truk lalu menaiki kuda. Hal itulah yang menjadikan film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak begitu ikonik bagi para penontonnya. Marlina menenteng kepala, menunggang kuda sepanjang bukit yang tandus.

Marlina membunuh tanpa rasa bersalah setelah itu. Ia malah masih menyalahkan orang yang memperkosanya dengan melaporkan ke kantor polisi. Marlinah hadir sebagai orang yang menyalahkan orang lain yang membawa mati kedzolimannya. Cerita yang dibawakan pun begitu wild, liar.

Film ini menampilkan landscape Sumba yang begitu memukau mata. Bagi seorang yang hobi fotografi seperti saya, menonton marlina seperti menyaksikan foto landscape kolosal yang sangat epic nan cantik. Perbukitan sumba yang luas menjadi daya tarik sendiri bagi saya, mengiringi adegan-adegan Marlina selanjutnya.

Saya terpaksa membaca sedikit ulasan mengenai film ini, dan benar saja kata dosen saya, akhirnya saya terpengaruh untuk menuliskan hal-hal yang berbau feminis. Bisa dikatakan bahwa Marlina bias gender, secara fisik dan perlakuan oleh perampok kita bisa melihat bahwa marlina berjenis kelamin betina. Akan tetapi, sifatnya lebih mengerikan daripada kelompok lelaki yang merampok rumahnya

Ketika Marlina menodong parang ke sopir truk, ada sesuatu yang ganjil jika kita cermati. Laki-laki kebanyakan menunjukkan ekspresi ngerinya atas tindakan Marlina. Sedangkan perempuan yang penumpang truk dengan santainya bertanya kepada marlina, “tidak capek tanganmu, Nona?”. Dark Humor!

Marlina seorang perempuan bebas tanpa suami. Memiliki teman perjalanan bernama Novi yang sedang hamil tua. Novi tengah mencari suaminya yang kesal lantaran ia belum juga melahirkan anaknya. Novi terlihat masih memiliki harapan akan hubungan yang erat dengan suaminya. Meskipun lelakinya terus menyalahkan Novi dengan menuduhnya selingkuh.

Fim ini sedikit mengambarkan kehidupan wanita kebanyakan: Berusaha melawan dan berusaha mengikuti sistem. Penggambaran keduanya ada pada Marlina dan Novi. Novi berusaha mengikuti sistem yang ada bahwa perempuan harus mengikuti sistem laki-laki. Sedangkan Marlina digambarkan sebagai perempuan yang melawan sistem yang ciptakan laki-laki. Akhirnya dapat disimpulkan bahwa feminisme dalam film ini secara halus menginginkan adanya pengakuan akan hak-hak perempuan.

Baca KOLOM di lppmkreativa.com atau tulisan Nursaid lainnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Terpopuler

To Top