Home ResensiBuku Mendengar Perempuan Bicara dalam Larung

Mendengar Perempuan Bicara dalam Larung

by Annida Muthi'ah
190 views

Judul Buku: Larung

Jenis Buku: Novel

Genre: Fiksi

Penulis: Ayu Utami

Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Cetakan: 1, November 2001

Bahasa: Indonesia

Tebal Buku: vii + 264 Halaman

 

Larung merupakan novel kedua dari dwilogi Saman karya Ayu Utami. Kedua novel tersebut memiliki keterkaitan cerita pada isi yang dipaparkan. Penggunaan judul “Larung” diambil dari tokoh utama sama halnya dengan “Saman”. Isi dari kedua novel tersebut mengangkat permasalahan atau isu-isu yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Unsur feminisme pada kedua novel cukuplah kental. Sebab, tokoh-tokoh yang paling sering berbicara adalah tokoh perempuan. Mereka menyampaikan keresahan yang dirasakan tersirat dalam berbagai peristiwa. Kesamaan lainnya terlihat pada latar waktu yang digunakan yaitu pada masa kekusaan ordeba.

Pada awal novel ini mengisahkan seorang pemuda bernama Larung yang memperjuangkan kematian neneknya, Anjani. Simbah Anjani telah hidup selama 120 tahun, tetapi tidak kunjung meninggal meskipun seluruh raganya sudah tidak berfungsi. Larung adalah cucu tersayang simbah Anjani. Larung ingin simbahnya lekas meninggal  karena dirinya  sudah tidak kuasa melihat ketidakberdayaan yang dirasakan neneknya. Larung mencari tahu mengapa neneknya tidak kunjung mati. Hingga suatu hari, ia mengetahui bahwa di dalam tubuh neneknya terdapat unsur-unsur mistis yang menyebabkan dirinya tidak bisa meninggal seperti manusia normal. Unsur-unsur mistis yang diyakini neneknya sangat berbanding terbalik dengan pemikiran seorang Larung yang sangat rasional. Meskipun begitu, Larung tetap menyelesaikan misi tersebut hingga neneknya berhasil meninggal dengan tenang.

Melalui tokoh simbah Anjani, secara tersirat Ayu Utami ingin mematahkan  stigma  yang menganggap bahwa perempuan adalah manusia yang lemah, bodoh, dan rendahan. Simbah Anjani merupakan gambaran dari sosok perempuan yang kuat, tangguh,  dan berani menentukan jalan hidupnya. Ia mampu memilih bagaimana dirinya hidup tanpa harus terikat dengan budaya adat masyarakat yang seringkali memunculkan ketidakadilan pada perempuan.  Ketidakadilan gender seringkali menjadikan perempuan berada di posisi yang serba salah. Apapun yang mereka lakukan seringkali hanya dipandang sebelah mata. Perempuan salah apabila hanya memiliki sedikit pengetahuan dan perempuan pun salah apabila dapat melebihi seorang laki-laki. Simbah Anjani, perempuan yang berani menentukan jalan hidupnya meskipun bertentangan dengan adat dalam keluarganya. Ia adalah perempuan yang tangguh dengan berani mengahadapi risiko dari keputusan yang diambilnya.

Baca juga: Marlina Bukan Sekadar Feminisme

Pada cerita  selanjutnya, Ayu Utami memunculkan kembali persahabatan antara Yasmin, Shakuntala, Cok, dan Laila. Ayu Utami mengungkapkan pandangan feminisme melalui keempat tokoh tersebut. Selain itu, Ayu Utami juga menyampaikan beberapa kritik terhadap keadaan sosial masyarakat. Pendapat dan kritik sosial dikemas melalui pemikiran dan perbuatan tokoh-tokoh tersebut yang diimplementasikan dalam dialog ataupun monolog tokoh. Keempat sahabat tersebut digambarkan sebagai perempuan yang kuat, mandiri, tangguh, dan berani menentukan jalan hidupnya meskipun sering dianggap tidak sesuai dengan kebiasaan sosial masyarakat.

Cerita keempat sahabat tersebut berputar pada percintaan dan seksualitas. Pada novel Larung ini, kisah keempat sahabat berlatar di New York.  Ayu Utami menggambarkan masing-masing keempat tokoh ini melalui pendapat tokoh lain. Oleh karena itu, muncullah beberapa informasi yang tidak semua tokoh mengetahuinya. Mereka pergi bersama-sama ke New York dengan memiliki tujuan masing-masing. Yasmin ingin bertemu dengan selingkuhan, Saman. Kemudian, Laila ingin bertemu dengan pacarnya, Sihar. Lalu, Shakuntala akan mengadakan pertunjukkan dan Cok hanya ingin melihat pertunjukkan Shakuntala.

Berbagai pandangan mengenai  diskriminasi terhadap perempuan disampaikan melalui percakapan antar tokoh dan renungan terhadap diri mereka. Mereka adalah perempuan penuh dengan prinsip dan sangat menentang terhadap diskriminasi perempuan yang terus membudaya di masyarakat. Terutama  stigma-stigma buruk tentang perempuan yang melekat pada masyakarakat, seperti mempermasalahkan pakaian terbuka perempuan, tidak diperbolehkannya pulang malam bagi perempuan, dan selalu dianggap sebagai pihak yang salah apabila terjadi kekerasan seksual. Tidak hanya itu, mereka juga menentang anggapan bahwa perempuan hanya bisa menjadi objek dalam hal seksualitas. Menurut mereka, perempuan memiliki hak untuk memuaskan nafsu seksualnya,  tidak hanya menjadi pemuas nafsu seksual bagi laki-laki. Permasalahan gender seperti itu sangat sulit untuk dibahas karena masih dianggap sebagi hal yang tabu. Faktor budaya yang  sudah melekat menjadi salah satu penyebab utama ketidakadilan bagi perempuan masih belum benar-benar terwujud.

Selain berfokus pada kritik diskriminasi terhadap perempuan, pada novel ini Ayu Utami juga menyampaikan kritik terhadap pemerintah ordeba. Dapat terlihat pada penggunaan latar waktu dan peristiwa-peristiwa yang menjadi alur cerita pada bagian akhir. Hal itu ditujukkan pada plot di mana Saman berusaha menyelematkan Larung dan kedua temannya yang menjadi buron. Mereka menjadi incaran intel pemerintah karena dirinya berusaha membantu buruh yang mengalami ketidakadilan dalam dunia kerja. Ia dianggap sebagai penentang bagi pemerintah sehingga perlu untuk diamankan. Melalui plot terkahir ini, Ayu Utami ingin menunjukkan kepada pembaca bahwa pemerintahan ordeba tidak ramah kepada rakyat. Pendapat rakyat selalu dibungkam dan selalu dituntut untuk patuh. Akan tetapi, pemerintah sendiri melakukan kesewenang-wenangan. Apabila rakyat melawan, maka siksa yang kejam yang akan didapatnya.

Kelebihan dari novel ini terlihat dari bahasa yang digunakan. Penggunaan bahasa yang cukup jelas dan tidak berbelit-belit sehingga memudahkan dalam menyampaikan pesan yang terkandung pada novel kepada pembaca.  Pembahasan yang diambil dari kehidupan sehari-hari sehingga dapat dengan mudah  mengekorelasikan dalam kehidupan nyata.  Meskipun terdapat beberapa majas dan kata kiasan yang membutuhkan penafsiran dari pembaca untuk memahaminya. Kemudian, kekurangannya terdapat  pergantian sudut pandang “aku” yang tiba-tiba terjadi pada beberapa plot. Kurang adanya tanda dalam perpindahan  sudut pandangan tersebut,  memunculkan kebingungan pembaca dalam menentukan pembahasan pada plot tersebut.

Related Articles