Kolom

Mengunjungi “Garis Waktu” di Jogja Gallery

lppm kreativa- Mengunjungi “Garis Waktu” di Jogja Gallery

lppmkreativa.com – Jogja Galerry nampak ramai, saat berbagai karya-karya kerajinan dari sejumlah seniman muda  Yogyakarta, menghiasi ruangan gedung yang terletak di alun-alun Utara, Yogyakarta. Diprakarsai oleh komunitas “Babad Alas”, yang terdiri dari sejumlah mahasiswa di kampus dan sekolah seni yang berada di Yogyakarta, pameran tersebut mengusung tema “Garis Waktu”.

Dibuka sejak 16 Maret 2019, pameran yang menyuguhkan berbagai macam karya seni kriya  dari Sekolah Menengah Seni Rupa (SMK SMSR), Yogyakarta, serta mahasiswa seni Yogyakarta, seperti Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST), serta pegiat seni yang berdomisili di Yogyakarta dan sekitarnya.

Ditemui di sela-sela pameran yang berlangsung di Jogja Gallery, Ikmal Taji Abdul Kohar, yang menjadi penanggungjawab acara menyebut “Garis Waktu”, sebagai representasi dari proses yang dilalui oleh orang-orang yang terlibat di dalamnya. Dimulai pada 2016, yakni saat sejumlah pegiat seni yang masih hijau, berkumpul untuk memeringati hari batik nasional.

“Awalnya kami bertemu saat memeringati hari batik,” kata Ikmal, dan kemudian memutuskan untuk berproses bersama-sama, di bawah nama komunitas ‘Babad Alas’. Nama Babad Alas sendiri diambil dari pameran pertama komunitas yang mengusung tema serupa, yakni ‘Babad Alas’.

“Tapi, karena adanya sejumlah orang-orang baru yang masuk, akhirnya ‘Babad Alas’ tidak lagi dijadikan tema, melainkan nama komunitas,” jelas Ikmal, kepada reporter Kreativa di Jogja Gallery, pada Rabu (20/3/2019). Hal itu dilakukan untuk menghargai proses mereka yang dipertemukan dalam pameran tersebut.

Pemuda yang pernah mengenyam pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung tersebut berharap dengan adanya komunitas-komunitas seni, seperti ‘Babad Alas’, dapat memunculkan seniman-seniman atau kriyawan muda, agar dapat meneruskan pencapaian dari seniman pendahulu, atau bahkan melampauinya.

Menurutnya, sudah saatnya yang muda yang berkarya. Tidak lupa, Ikmal pun berpesan kepada pegiat seni, khususnya mahasiswa yang berdomisili di Yogyakarta, untuk tidak ragu menunjukkan bakat dan karyanya. “Teruslah berproses dalam berkarya, dan jangan tidur sebelum semua karya terselesaikan,” pesannya.

sumber video, Youtube Annisa Maharani.

Ucapan Ikmal pun seolah diamini oleh Rudan, mahasiswa seni rupa Universitas Negeri Yogyakarta itu  mengaku terlecut untuk lebih intens berkarya, setelah mengikuti pameran ‘Garis Waktu’. Ia pun tertarik untuk mengembangkan bakatnya di dunia seni dan menyebut belajar, khususnya di bidang seni, tidak harus di kampus seni.

“[misalnya] Mendatagi pameran atau [berkunjung] di komunitas seni,” sebut Rudan, dapat dijadikan alternatif untuk belajar. “[karena] Terkadang, materi yang kampus berikan kurang. Oleh sebab itulah kita [juga perlu] belajar di luar kampus,” tegasnya.

Kunjungannya ke Jogja Galerry pun  disebut Rudan, telah memberinya inspirasi baru dalam berkarya, setelah melihat karya-karya yang disuguhkan oleh komunitas ‘Babad Alas’. “Pameran seperti ‘Babad Alas’ ini harus dilestarikan,” sarannya. Menurutnya pameran-pameran seperti itu dapat membuat orang-orang yang berkecimpung di dunia seni, bisa mengetahui banyak hal yang sebelumnya tidak diketahui.

Belajar Membaca Pasar

Sementara itu, Ahmad Supriyono, yang mengkuratori karya-karya yang dipamerkan dari 16-20 Maret tersebut, menyebut pegiat seni jangan hanya berkarya dengan sembarangan. “Dalam membuat karya, seniman tidak boleh semaunya sendiri, tetapi mereka harus mengikuti selera pasar,” jelasnya.

Ia pun menyarankan agar kampus-kampus seni mulai mengajarkan kepada mahasiswanya untuk membranding karya, dan membaca keinginan pasar. Kendati kurang puas dengan karya-karya yang dihasilkan oleh pegiat seni, yang ambil bagian di pameran ‘Garis Waktu’ tersebut, Supriyono menyebiut mulai ada kemajuan dari peserta dalam berkarya, khusunya dalam upaya menyesuaikan tema yang diberikan.

Selain itu variasi karya yang dihasilkan cukup beragam, mulai dari gambar batik, ukiran dari kayu, keramik dan sebagainya. Kendati mengaku masih perlu banyak perbaikan, khususnya dalam mengikuti selera pasar. Ahmad Supriyono mengkritisi pembelajaran seni di institusi pendidikan yang dianggapnya jalan di tempat. Ia pun menyarankan kepada mahasiswa untuk tidak mengandalkan pembelajaran di kampus, dan mulai aktif di dunia luar kampus.

“Mahasiswa itu tidak hanya mengandalkan ilmu dari dalam kelas, karena ilmu dari sana itu hanya mengikuti kurikulum. Kurikulum kita stuck di pembelajaran batik saja, tidak ada pengaplikasian, sehingga mematikan kreativitas mahasiswa,” tandasnya.

Garis Waktu di Jogja Galerry pun telah berakhir pada Rabu (20/3/2019) setelah menggelar pameran selama 5 hari, terhitung mulai Sabtu (16/3/2019). Dalam kurun waktu tersebut, ratusan karya seni berhasil dipamerkan dan berhasil menyedot animo masyarakat pecinta seni di Yogyakarta.

Reporrter: Fitriani Setyo & Syah Dilana

Baca artikel terkait SENI, atau tulisan menarik lainnya dari Fitriani Setyo & Syah Dilana

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

To Top