Home ResensiFilm Money Heist: Mendobrak Tatanan, Merayakan Kejahatan

Money Heist: Mendobrak Tatanan, Merayakan Kejahatan

by Permadi Suntama
70 views
lppmkreativa- Money Heist

Fyodor Dostoyevsky dalam novel Kejahatan Dan Hukuman menggambarkan rasa bersalah seorang pencuri yang tidak sengaja membunuh korbannya.

Rasa bersalah yang membuatnya dengan sukarela mendatangi kantor polisi dan mengaku bahwa dia adalah pelaku pencurian dan pembunuhan.

Namun, polisi tidak menerima pengakuan si penjahat karena pihak berwenang telah menahan orang lain dan menjatuhkan hukuman.

Lebih dari itu, polisi menggunakan kekerasan untuk membuat orang tidak bersalah mengakui perbuatan yang tidak pernah dilakukannya.

Si penjahat tetap dibiarkan bebas meski telah mengakui kesalahannya. Namun, karena rasa bersalah yang dalam karena mencuri, membunuh, dan membuat orang tidak bersalah dipenjara, si pencuri kembali datang ke kantor polisi dan bersujud.

“Aku bersujud bukan untuk meminta ampunan atas kejahatan yang aku lakukan. Tapi, aku bersujud untuk kemanusiaan yang telah mati,” ujar Raskolnikov, Si Penjahat dalam buku Kejahatan Dan Hukuman karya Fyodor Dortoyevsky.

Lewat karyanya Dostoyevsky mampu menimbulkan rasa empati pembaca untuk si penjahat yang sebenarnya.

Memaklumi kejahatan yang telah dilakukan dan menganggap si penjahat telah mendapat hukuman yang setimpal lewat rasa bersalah yang ia derita seumur hidup.

Ide yang sama, yakni mengambil empati orang-orang yang menyaksikannya dilakukan oleh Alex Pina, sutradara serial La casa de papel (Money Heist), yang tayang di Netflix.

Namun, secara paradoksal, Pina menarik empati pemirsanya tidak dengan perasaan bersalah seperti Dostoyevsky.

Secara brutal, Alex Pina membalik logika penonton, membuat sekawanan perampok jadi protagonis, jadi pahlawan di mata pemirsa.

Membuat orang memertanyakan negara dengan pemerintahannya sebagai institusi paling jahat — lewat pelanggaran hukum yang ironisnya dibuat oleh negara itu sendiri.

Memasukkan lagu Bella Ciao yang merupakan lagu anti-fasis menjadi unsur pembangun cerita yang sangat penting dalam film. Ia bukan sekadar tempelan atau soundtrack belaka.

Lebih dari itu, Bella Ciao yang jadi simbol perlawanan rakyat Italia terhadap tirani di akhir Perang Dunia II, adalah bagian dari ide cerita itu sendiri.

Bella Ciao dilekatkan erat dengan kawanan perampok dalam Money Heist. Menjadikan mereka pahlawan, bagai kaum buruh di Italia yang melawan tirani Mussolini.

Kejelian Alex Pina memilih Berlin, tokoh yang di dalam dunia normal jelas jadi ancaman banyak orang sebagai tokoh yang lekat dengan Bella Ciao adalah keputusan tepat — seorang homo, narsistik, penderita Helmer Myopathy sekaligus lelaki yang memiliki prinsip.

Di tangan Berlin, Bella Ciao yang berarti “selamat tinggal sayangku” memiliki dua makna; perlawanan, dan perpisahan.

Sebagai simbol perlawanan, Bella Ciao dengan Berlin adalah dua sisi mata uang yang memiliki gambar sama.

Sebagai simbol perpisahan Bella Ciao tak diragukan dapat menyampaikan pesan tersebut. Bella Ciao yang berarti selamat tinggal sayangku — lebih kepada perasaan cinta tanah air — telah menjelaskan segalanya.

Ia seperti Mi Ultimo Aidios milik Jose Rizal, yang puitik. — surat perpisahan yang membakar semangat sekaligus menyedihkan.

Tapi, jika Mi Ultimo Aidios disampaikan oleh seorang pejuang pembebasan, Bella Ciao adalah pesan yang disampaikan seorang penjahat. Protagonis yang seharusnya dibenci banyak orang.

Dalam hal ini Alex Pina, sukses membawa penonton ke dalam logika film yang ciptakan. Dunia yang memiliki semesta dan aturannya tersendiri.

Karenanya, saat Berlin akhirnya mati secara heroik, laiknya pengikut Le Chang dalam serial Kingdom Season 2, yang harus mati untuk selamatkan negara. Ia adalah pahlawan.

Menariknya, Berlin tewas tetap dalam perannya sebagai penjahat, tanpa sempat bertobat, atau membuat pengakuan dosa. Namun, dia tetap seorang pahlawan dalam semesta film.

Persepsi Publik yang Berhasil Dimainkan Oleh El Professor

Dalang perampokan dalam Serial Money Heist, yaitu pria yang dijuluki El Professor benar-benar sukses menjalankan rencananya.

Idenya adalah mengambil uang dalam jumlah yang besar, namun tidak merampok. Itulah yang mereka percayai dan memang bisa diperdebatkan, apakah mereka benar-benar merampok.

Dalam prosesnya, komplotan perampok yang dipanggil berdasar nama kota oleh El Professor. Mereka tak memiliki hubungan pribadi, meski dibantah sejak awal.

Rencana perampokan yang disebut milik ayah El Professor telah dimatangkan oleh El Professor, selama bertahun-tahun.

Untuk memastikan idenya berjalan dengan sempurna, El Professor membuat kelas untuk menjelaskannya kepada anggotanya yang bakal jadi eksekutor di lapangan.

Para anggotanya harus bertahan di dalam pabrik percetakan uang selama beberapa hari supaya mendapat jumlah uang yang besar.

Memastikan para pekerja pabrik dalam kondisi sehat, supaya uang tetap bisa dicetak. Bagitu juga para sandera, dipastikan tetap hidup.

Sementara El Professor, mengawasi situasi dari luar dan mengacaukan penyelidikan dan upaya penyelamatan yang dilakukan oleh polisi.

Kesan yang ingin ditekankan bahwa kelompok mereka bukan penjahat, berhasil dilaksanakan oleh kelompotan perampok.

Tidak hanya untuk orang-orang dalam semesta film — kecuali bagi pejabat negara dan penegak hukum — mereka adalah pahlawan bagi pemirsanya.

Lewat rencana yang matang, El Professor berhasil menghancurkan aturan-aturan hukum, membuat semua orang sadar bahwa nyawa seseorang di mata negara memiliki nilai berbeda.

Dengan menunjukkan keburukan negara, El Professor berhasil mengambil simpati masyarakat.

Kendati dalam praktiknya, semua tak berjalan sesuai rencana. Ada hal-hal tak terduga yang memperburuk situasi atau kesalahan manusiawi.

Tiga anggotanya, Oslo, Moscow, dan Berlin akhirnya tewas — namun ia berhasil mengelola konflik di dalam kelompok dan mengendalikan pihak keamanan dengan sempurna.

Dan, yang paling penting adalah keberhasilan mengelola persepsi publik yang jadi senjata utama.

Jika kekerasan adalah sesuatu yang salah, maka negara harus dihukum karena melegitimasi tindakan kekerasan untuk melindungi hubungan bilateral dan pejabat.

Jika perampokan — mencetak uang sendiri dalam jumlah besar — yang dilakukan kelompok El Professor adalah kejahatan, maka negara juga melakukan kejahatan karena mencetak uang.

Secara satir, Alex Pina, berhasil menjadikan kelompok perampok sebagai kelompok yang lebih mulia daripada negara.

Sampai-sampai Inspektur Raquel Murillo, yang dianggap sebagai polisi terbaik di Spanyol memilih bungkam dan membantu perampok kabur di akhir cerita karena bersimpati.

Alex Pina tak hanya sukses mengatur simpati publik di dalam semesta Money Heist untuk berpihak pada perampok. Tapi ia juga sukses mengambil simpati pemirsa di dunia nyata.

Sejak tayang di Netflix di penghujung tahun 2017, nama Pedro Alonso, yang memerankan tokoh Berlin jadi aktor paling populer di dunia maya dibanding aktor lainnya.

Akun Instagram pribadinya diikuti tak kurang dari delapan juta penggemar. — sebelumnya kurang dari satu juta pengikut.

Padahal, Pedro Alonso yang memerankan tokoh Berlin merupakan penjahat paling bengis dalam semesta Money Heist.

Namun, laiknya sebuah ide manusia yang tak selalu sempurna, Money Heist juga memiliki kecacatan cerita di banyak tempat.

Komitmen untuk tak saling kenal secara pribadi langsung ditabrak oleh hubungan Moscow-Denver, yang merupakan ayah dan anak.

Dalam hal ini, kesalahan Alex Pina masih bisa dimaklumi karena seperti ingin menyamarkan hubungan El Professor dengan Berlin.

Namun, jelang kematian Moscow, di mana Tokyo ternyata memiliki hubungan dengan Moscow-Denver membuat ide sentimentil Alex Pina, jadi buyar.

Baca tulisan Suntama atau resensi lainnya di lppmkreativa.com

Related Articles