Film

Mr. Sunshine: Dimulai dengan Love Berakhir dengan Sad Ending

lppmkreativa-- Mr. Sunshine: Dimulai dengan Love Berakhir dengan Sad Ending

lppmkreativa — Korea masih dipayungi Gat, yang senantiasa menempel di kepala setiap laki-laki. Sementara Hanbuk, menyelimuti tubuh perempuan-perempuannya. Adalah Lee Eung-bok yang menggagas ide tersebut untuk merealisasikan keinginan Kim Eun Sok untuk menghadirkan serial drama sejarah dinasti terakhir di Korea, Joseon.

Berlatar keadaan masyarakat Korea di akhir abad 19, atau memasuki abad 20 yang dipenuhi pergolakan akibat gejolak sosial yang terjadi di seluruh dunia pada masa itu. Semangat angkatan muda campur baur dengan kekolotan golongan tua berupaya untuk menyelamatkan tanah airnya dengan cara masing-masing.

Emansipasi wanita, menjadi satu bumbu yang tidak dengan terang-terangan dimunculkan, tetapi nyata ikut mengambil bagian di dalam pusaran cerita. Dalam hal ini Go Ae-shin, yang diperankan oleh Kim Tae-ri, menjadi manifestasi dari keterlibatan perempuan Korea, dalam perjuangan bersenjata.

Kendati tidak terjadi pengambil alihan kekuasaan oleh bangsa asing (di dalam cerita tersebut), sebagai syarat untuk mengatakan terjadi penjajahan. T api, perubahan sosial yang terjadi di dalam cerita, mengindikasikan perjuangan sebuah bangsa, yang dilakukan untuk meraih kemerdekaan.

Dalam hal ini, perjuangan Joseon, adalah perjuanagan untuk menentukan nasib bangsa dengan tangannya sendiri. Gagasan ini timbul dari kaum terpelajar Korea, yang menganggap telah terjadi pelemahan pemerintahan yang diakibatkan oleh masuknya bangsa asing di semenanjung Korea.

Kehadiran Jepang yang tidak dapat dipungkiri, selalu hadir di dalam lingkaran politik Kekaisaran Korea, sejak berabad-abad lalu, menjadi satu telaah yang ditawarkan oleh Lee Eung-bok. Kendati tetangganya itu telah banyak membantu, namun keterlibatannya ke dalam pengambilan kebijakan dalam negeri, membuat Kekaisaran Joseon, tak ubahnya negeri boneka yang dikendalikan Jepang.

Kendati disadari sebagai bom waktu yang dapat menghancurkan, namun pemerintah Joseon yang banyak dihuni oleh pejabat-pejabat kotup, yang siap menghianati negara demi perut sendiri, tak punya nyali untuk melakukan perlawanan demi menyelamatkan negara. Akibatnya, kekuatan negara menjadi semakin lemah dalam mengambil kebijakan untuk rakyatnya sendiri, atau hubungan bilateral dengan negara lain.

Semuanya dikendalikan Kekaisaran Dai Nipon, melalui perwakilan-perwakilannya di Joseon, baik utusan Jepang, atau mereka yang menghambakan diri untuk Jepang. Selain mengangkat isu perjuangan sosial, Drama Korea, Mr. Sunshine juga menunjukkan revolusi pemerintahan ke arah modern. Selain itu, tendensi akan keberpihakkan untuk menjunjung nama baik Amerika Serikat sebagai negara sahabat Korea, tidak bisa dipungkiri muncul begitu kentara.



Adegan ketika Euguene Choi, mendayung perahu bersama Go Ae-shin

Diawali Love, Diakhiri Sad Ending

Diawali dengan pembunuhan budak, yang digambarkan sebagai “zaman dengan masyarakat bar-bar”, seorang anak budak berupaya melarikan diri dan diselamatkan oleh Misionaris gereja dari Amerika. Amerika Serikat datang sebagai penyelamat seorang anak kecil yang bahkan tidak dipedulikan hidup dan matinya oleh bangsanya sendiri. Sebagaimana dikutip dalam Al-Qur’an dan Injil, bahwasanya “Menolong satu nyawa, sama dengan menyelamatkan seluruh umat manusia,”

Dalam hal ini, Mr. Shunsine memropagandakan semangat humanisme yang menjadi dagangan Amerika untuk terlibat dalam berbagai pusaran konflik. Satu anak yang diselamatkan Amerika pun menjadi satu-satunya orang Joseon, yang kelak di episode-episode terakhir cerita, menjadi aktor utama dalam kemerdekaan Josean dan didaulat sebagai pahlawan secara tidak langsung.

Kendati demikian, bumbu drama percintaan yang mengambil alih perhatian penonton selama jalannya cerita menunjukkan kejeniusan Kim Eun Sok, sebagai penulis naskah dalam menyelami bawah sadar. Penonton diajak untuk menertawakan kepolosan seorang gadis Timur, yang dibesarkan dengan budaya leluhurnya, ketika dikadali saat menemukan kosakata asing, Love.

Pada akhirnya, makna dari kata itulah yang melunakkan pendiriannya yang keras. Ia yang sebelumnya menjadi manifestasi dari perjuangan bersenjata kaum perempuan, terjebak dalam tragedi romantisme yang absurd. Kendati Love, secara bentuk di dalam cerita tak memengaruhi perjuangan, justru sebaliknya, Love memerteguh perjuangan adalah keberhasilan sutradara dalam memutar balik logika penonton.

Penonton seperti digiring untuk memaklumi tindakan Amerika, dalam mencampuri urusan sebuah negara, sebaliknya hal yang demikian tidak berlaku jika yang bertindak adalah Jepang. Padahal, di dalam cerita, kedudukan kedua bangsa “Super Power” di awal abad ke-20 ini adalah sama, menjadi tamu di negeri asing, Joseon.

Namun begitu, bahasa, sebagai manifestasi dari masuknya budaya, atau bangsa asing di dalam cerita Mr. Sunshine,mulai menunjukkan perannya sebagai alur cerita. Kata kedua, yaitu Gun, yang berarti senapan, atau senjata api, atau alat yang digunakan untuk membunuh, kemudian memulai tragedinya. Ketika moncong senapan mulai banyak muncul ke dalam adegan, Love, menjadi satu batu sandungan untuk memahami, mencapai dan memertahankan kemerdekaan, yang sebelumnya berjalan tanpa hambatan, ketika Love belum muncul.

Akhir dari rangkaian cerita yan tendensius, dan percobaan untuk melakukan penggiringan opini pun ditutup dengan kalimat asing ketiga, Sad Ending. Sebagaimana definisi di dalam kamus Inggris-Indonesia online, Sad Ending menutup drama Mr. Sunshine dengan akhir yang menyedihkan.

Baca KOLOM di lppmkreativa.com atau tulisan PERMADI SUNTAMA lainnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

To Top