Soliloqui

Musim Semi 1988

ANAK MUDA itu belum punya gambaran yang jelas tentang dirinya. Ia hanya ikut ke dalam arus huru hara di negerinya yang sedang kacau.

Sebenarnya, ia tak tahu mengapa anak muda seperti dirinya mesti memerjuangkan masa depan sebuah bangsa, sedang ia tak tahu bakal jadi apa ia kelak.

Namun, tiap kali ia berpikir tentang kesia-kesian, ia kembali teringat saat ia berdiri di tepi Sungai Han, dan mengambil sebuah keputusan.

Saat itu musim semi, namun ia tak benar-benar ingat apakah Cherry Blossom sedang mekar. Bahkan ia tak ingat, apakah bunga musim semi itu ada di sekitar Sungai Han.

Tetapi satu yang masih ia ingat (atau ia pura-pura selalu ingat) dan selalu mengganggu pikirannya. Bahwa ia punya gairah yang bersemi di dalam jiwanya.

Gairah yang rupanya terus tumbuh sampai usianya yang ke-50. Saat ia berdiri ribuan mil jaraknya dari Sungai Han, tempat ia memulai dongeng ini.

DUNIA yang ia tinggali setelah musim semi 1988 itu tak pernah sama dengan dunia yang ia tinggali sebelumnya. Ia mulai masuk ke dalam lingkaran yang asing, tetapi serasa dekat dengan dirinya.

Maka ia mulai mencari pijakan untuk berdiri, dan tujuan yang bakal jadi alasan ia melangkah. Dan sekali lagi ia merasa punya gairah, pada sesuatu yang tak dikenalinya.

Ia mulai tertarik pada gambar, bagaimana itu dihasilkan dengan sekotak kodak. Bagaimana ia terekam dan di abadikan ke dalam rol film.

Segalanya terasa samar baginya. Begitu pula dengan ingatan pada seorang remaja yang berdiri di tepi Sungai Han. Cherryl Blossom yang tumbuh atau sebetulnya tak pernah ada.

Tetapi ia tetap kukuh pada sesuatu yang tak lagi diingatnya. Sesuatu itu yang rupanya mampu membawa menerbangkannya ke sebuah Gedung Teater di Los Angeles, tetapi bukan untuk menonton sebuah pertunjukkan.

Ia hanya melihat mata yang tertuju padanya. Sementara matanya sedang memanggil ingatannya yang kabur untuk kembali.

SEORANG PEMUDA yang berdiri di tepi Sungai Han, pada satu musim semi itu sebetulnya adalah ingatan yang ia buat-buat. Itu hanya sebuah mimpi yang ia buat untuk mengisi bagian-bagian dari hidupnya yang ia lupakan.

Bahwa ia sedang melatih dirinya untuk mencipta dunia yang seolah-olah ada sekaigus tak ada. Bahwa ia sedang melahirkan kehidupan di satu tempat untuk dapat disaksikan di tempat lain.

Ia sedang belajar untuk memindah kehidupan yang berlari di dalam pikirannya. Dunia yang kadang melaju begitu saja, namun tampak lebih nyata dari kenyataan itu sendiri.

Maka, ia mulai melihat dengan jelas pada dirinya. Mengapa di dalam dunia yang ia ciptakan, ia memilih menjalani hidup yang sia-sia. Alih-alih membuat dongengan yang indah, penuh kebahagiaan di dalam dunia semu itu.

Ia mulai belajar, bahkan di dalam dunia khayal yang dapat ia kendalikan ia memilih untuk jadi manusia yang sia-sia. Hal ini mengajarinya untuk melihat segala sesuatu dengan lebih kompleks.

Bahwa ikatan antar manusia tak bisa terjalin penuh kesemerta-mertaan. Bahwa cinta kasih tak akan tumbuh tanpa suatu tradisi yang diwariskan.

Sedang untuk mengubahnya, manusia perlu mencipta atau meniru tradisi baru. Semuanya tak bisa berubah dengan sendirinya, bahkan keajaiban pun butuh Tuhan untuk menjadi keajaiban.

– – –

Baca SOLILOQUI atau tulisan Suntama lainnya

Click to comment

Terbaru

To Top