Klenengan

Ospek Ditutup, Jalan Lain Terbentang

Namanya Deta. Sepertinya dia penghuni tetap lantai 3 Gedung PKM.

Hari penutupan Ospek. Saya tidak bisa ke kampus. Padahal, saya ingin melihat keramaian acara penutupan. Tentu berbeda dengan penutupan Ospek saya tujuh belas tahun silam – betul, tujuh belas tahun silam. Jelas jauh lebih ramai dan heboh, setidaknya karena jumlah mahasiswanya jauh lebih banyak sekarang.

Entah bagaimana adik-adik mahasiswa baru tahun ini memaknai Ospek dan penutupannya. Saya sendiri, jujur saja, sudah benar-benar lupa apakah saya ikut acara penutupan Ospek saya dulu atau tidak. Tapi, secara keseluruhan, saya pribadi memaknai Ospek saya itu sebagai gerbang maha penting yang menunjukkan jalan yang sama sekali lain dari dunia anak muda sebelum saya lolos UMPTN.

Mabuk, dolan, kebut-kebutan, ngeband, ngisruh: masa SMA yang belum sepenuhnya dilepaskan. Lalu setelah Ospek: jalan kesenian dan sastra “serius”, organisasi, perkuliahan di kelas, belajar pronounciation bahasa Inggris dengan benar, politik, rebel with a cause, kritis terhadap segala sesuatu, dan yang paling menentukan hidup saya: membaca, menulis, dan menerjemahkan.

Juga jujur: saya belum bisa melepaskan diri dari euforia sebagai mahasiswa. Selalu merasa masih menjadi mahasiswa (dan memang sudah mahasiswa abadi). Enggan menjadi tua. Ingin selalu bergelut dengan buku – dalam konteks zaman gawai ini: bahan bacaan apa pun. Tetapi juga ingin selalu menghasilkan tulisan sastra – core kreatif saya – yang jauh lebih baik lagi.

Dan FBS. Hingga sekarang pun lidah saya masih hampir terpeleset menyebut fakultas ini sebagai “fakultas ungu ke**e”. Di fakultas inilah saya belajar mematuhi disiplin perkuliahan di kelas – yang gagal total: sungguh, saya lebih sering masuk hanya di kelas adik angkatan, itu pun kalau ada adik kelas yang sudah bikin saya susah tidur berhari-hari.

Tapi di luar kelas, saya sering dianggap sebagai teladan, terutama dalam hal-hal yang nyeleneh: sampai-sampai kelakar saya (“tipis-tipis”) menjadi kelakar khas di FBS Timur dulu. Baca puisi sambil pegang gelas galak. Naik genteng dan sok-sokan menantang Tuhan. Masalahnya, atau mungkin untungnya, saya lebih rajin kuliah di luar kelas seperti itu.

Itu semua setelah saya melalui Ospek – yang saya lupa apakah saya ikuti penutupannya atau tidak itu. A life changing experience, walaupun tentu ada masalah dengan penutupan Ospek saya dulu sehingga ingatan saya menyembunyikannya. Mungkin dulu saya jatuh cinta pada teman satu kelompok tapi ditolak. Entahlah.

Selamat datang, mahasiswa baru FBS UNY 2017.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Terpopuler

To Top