Cerita Pendek

Penjual Koran

Ilustrasi cerpen penjual koran

Aku duduk di ruang makan sambil menikmati kopi seperti biasa. Pagi itu, aku mendapat telepon dari Komandan untuk menangani kasus pencurian yang terjadi tadi malam. Sepagi itu, otakku sudah berputar karena sebelumnya aku sudah menghubungi Pak Sidik. polisi jaga yang menerima laporan warga. Berkasnya sudah ada di meja kerjaku di kantor.

“Tring… tring.”

Seperti biasa, sepagi itu bel sepeda  Pak Kardi sudah berbunyi. Di usia senjanya, dia masih mengantar koran dari satu rumah ke rumah lain. Ayah dan ibuku selalu senang dan menunggunya di depan.

Ilustrasi cerpen penjual koran

Ilustrasi: Della

Dari zaman kakekku, Pak Kardi sudah menjadi orang paling ditunggu di kampungku. Dia adalah “koran” bagi warga kampung. Dialah dulu yang menyampaikan berita sebelum adanya koran masuk kampung. Dia selalu membawa “berita”, baik dari kampung ini maupun kampung sebelah. Kadang, dia hanya menyampaikan apa yang didengarnya lewat radio. Semua orang percaya pada apa “berita” yang disampaikannya karena selalu terbukti benar.

Setelah koran masuk kampung, Pak Kardi yang selalu mengantar koran itu ke rumah warga yang berlangganan. Di samping mengantar koran, terkadang dia menyampaikan berita seperti biasa. Ini kali, diselipi dengan pendapatnya jika ada kasus yang sedang naik daun. Kakek, ayah dan ibuku terkadang ikut menimpali bahkan sampai adu pendapat. Meskipun begitu, mereka tampak bahagia dengan hadirnya sosok Pak Kardi.

Aku terkadang hanya ikut mendengar ketika melihat keramaian di depan rumah. Aku juga sangat menghormati Pak Kardi karena aku juga suka mendengarkan berita yang beliau sampaikan.

“Kita hidup itu harus berguna juga bagi orang lain. Jangan malah membuat kerusuhan dan gangguan. Nak Reno kalau sudah besar harus jadi orang besar dan orang yang berguna bagi orang lain,” ucapnya di sela-sela menyampaikan berita. Kata-kata itu masih terngiang di otakku. Kata-kata itu membuatku bersemangat untuk meraih impianku menjadi polisi.

Kudekati pintu depan rumah menuju teras. Kulihat ayah dan ibuku asyik mengobrol dengan Pak Kardi.

“Eh Nak Reno, selamat pagi,” kata Pak Kardi sambil mengembangkan senyum ramah di wajahnya yang sudah keriput.

Dia memakai baju koko dan celana hitam serta peci hitam yang sudah lusuh. Tak lupa kaca mata minus tebal bertengger di hidung mancungnya. Untuk usia Pak Kardi yang hampir 70-an, beliau masih tergolong kuat karena masih sanggup bisa berkeliling desa dengan sepedanya.

“Selamat pagi, Pak. Apa kabar?”

“Baik, Nak.”

“Ayah dan Ibu kayaknya dari tadi asyik mengobrol. Ada berita apa hari ini?”

“Itu… Anaknya Juragan Jono yang dari kota katanya mau pulang,” jawab Ayah

“Iya, Ren. Kata Pak Kardi, dia pasti cantik dan pakaiannya bagus. Siapa tahu jodoh,” tambah Ibu dengan tersenyum.

“Ibu seneng banget nggodain anaknya. Aku masih belum kepikiran, Bu,” ucapku menjawab seadanya.

“Eh, benar apa yang ibumu katakan, Nak. Si Rima pasti jadi yang tercantik di kampung ini. Bapak dengar perawatan kecantikan di kota sudah canggih. Bapak dapat fotonya di majalah,” kata Pak Kardi seraya merogoh saku.

Pak Kardi membuka selembar kertas yang terlipat. Ternyata itu adalh sampul sebuah majalah. Terpampanglah wajah putih yang sedang tersenyum di bawah tulisan judul pada sampul itu. Lesung pipitnya dan pakaian yang menampilkan lengan putihnya memancarkan aura seorang artis terkenal yang sedang naik daun di kota ini. Pasti tidak ada yang menyangka kalau artis ini berasal dari kampung ini.

Ayah dan ibuku masih selalu menggoda. Mereka mengatakan aku tak berkedip melihat wajah gadis itu. Aku menghindar dan langsung masuk kembali ke rumah untuk melanjutkan sarapan. Aku sampai lupa dengan Pak Kardi yang tadi menyapaku dan juga jam kerja yang menuntutku agar tak terlambat.

***

Bak tersambar petir saat kudengar perintah Komandan pagi itu. Aku harus menangani kasus di kampungku sendiri.

TKP sudah ramai. Ini adalah rumah orang paling kaya di kampungku. Rumah ini kini banjir darah. Mayat-mayat yang sudah memutih dimasukkan ke dalam kantong mayat dan dibawa ke rumah sakit untuk diotopsi. Aku dan timku melakukan olah TKP yang mungkin bisa mendapatkan petunjuk. Kami menyisir segala sudut rumah.

Namun, tidak ada yang mencurigakan di rumah itu. Hanya ada bekas seretan darah dari dapur, lantai atas, dan ruang tamu. Barang pun tidak ada yang hilang dan kondisi rumah tampak rapi.

Aku menatap mayat terakhir yang dimasukkan kantong. Mata indah itu kini terpejam untuk selama-lamanya. Kini tubuh indah dan wajah cantiknya bermandikan darah. Hari ini menjadi kepulangannya menuju alam yang abadi. Aku penasaran, siapa yang membunuh satu keluarga itu?

***

Aku mendengar kesaksian beberapa orang. Mereka mengatakan bahwa Mandor Sarwo, Pak Edi, dan Bi Minah adalah orang-orang terakhir yang menemui keluarga Juragan Jono. Aku pun menginterogasi mereka. Alibi mereka tidak jelas. Mereka pun memiliki motif dalam kasus ini. Pak Edi dan Mandor Sarwo baru saja dipotong gajinya, padahal mereka sedang butuh uang. Bi Minah selalu mendapat perlakuan kasar dari keluarga Juragan Jono.

Salah satu anak buahku berhasil menemukan senjata yang diduga digunakan untuk membunuh. Senjata itu ditemukan di kediaman Mandor Sarwo. Akan tetapi, dia menyangkal. Dia malah mengamuk dan memaki keluarga Juragan Jono. Mandor Sarwo ditetapkan sebagai tersangka.

***

“Pak, ada yang aneh!” ucap salah satu anak buahku

“Ada apa?”

“Kami memeriksa tumpukan koran di bawah meja ruang tamu. Ada edisi koran yang hilang. Kira-kira tiga edisi yang hilang.”

“Coba cari dan periksa edisi semua koran yang hilang!”

“Siap!”

Setelah koran itu, aku mengingat kata-kata saksi bahwa Juragan Jono sangat membenci berita. Namun, mengapa dia memiliki banyak tumpukan koran? Kenapa juga dia berlangganan koran? Saksi itu juga mengatakan bahwa ada seseorang yang suka menatap rumah Pak Jono lama sekali, tetapi saksi tak mengenalnya. Aku pun bertanya ciri-cirinya. Aku sama sekali tak menduga sosok orang itu dan harus memeriksanya.

***

“Kau memang benar. Aku yang membunuhnya. Dia telah membunuh anakku. Dia mengambil perusahaan anakku padahal anakku membangun perusahaannya dari nol. Perusahaan itu adalah mimpinya. Lebih tepatnya mimpiku. Aku selalu melihat gedung-gedung mewah di gambar koran yang kubaca dan kujajakan. Aku ingin bermimpi andai aku punya gedung seperti itu. Di antara anak-anakku, Rusdi yang sangat tertarik dengan ceritaku tenang gedung-gedung tinggi. Dia sedari kecil bekerja dan menabung. Dia benar-benar pintar berdagang. Dia membiayai sekolah dari hasil tabungannya itu. Aku saja yang ingin membantunya dilarang olehnya.”

Pak Kardi menghela napas sejenak kemudian meminum air putih yang kusediakan di ruang interogasi. Wajah keriputnya memendam banyak perasaan. Marah, sedih, rapuh, dan ekspresi takut.

“Dia meninggalkan rumah dan meminta izin padaku untuk bekerja di kota dan membangun perusahaan yang diimpikannya. Dia berjanji akan bekerja keras hingga nama dan fotonya akan selalu ada di koran agar aku bisa selalu melihatnya.”

Laki-laki tua itu menangis histeris sebentar. Tapi, dia tetap terlihat bangga dengan putranya.

“Beberapa bulan yang lalu, aku mendapat surat dari anakku bahwa dia sedang bekerja sama dengan seseorang yang berasal dari kampung kita. Aku mencari tahu siapa orang dari kampung kita yang hendak bekerja sama dengan anakku. Aku mendengar nama Juragan Jono. Aku ingat, sejak kecil anakku dan Jono sering bermain walau tak terlalu dekat karena dia orang kaya dan kami orang miskin. Anakku bercerita dengan bahagia karena bisa bertemu dengan kawan satu kampungnya.”

“Hingga aku mendengar darinya melalui telepon milik Pak RT. Perusahaannya kena tipu dan terancam bangkrut. Dia menjual saham perusahaannya kepada Juragan Jono dengan harga rendah. Istrinya meninggalkannya karena salah paham dan mengira dirinya selingkuh. Dia sangat tertekan hingga mengalami serangan jantung. Aku benar-benar sedih tak bisa membawanya pulang dan dimakamkan di sini karena biaya perjalanan yang jauh. Aku hanya bisa mendoakannya.”

“Baru aku mengetahui kalu Juragan Jonolah yang membuat perusahannya bangkrut dan anaknya itu membuat menantuku salah paham. Aku benar-benar membenci dan mengutuk keluarga itu. Aku selalu memandang rumahnya dan aku berharap gadis itu cepat datang ke kampung ini. Tuhan ternyata mengabulkan doaku. Dia kembali ke kampung ini. Setiap saat, kulihat rumah besar itu. Untungnya, Juragan Jono pelangganku walau aku tahu dia sangat membenci berita. Dia memiliki harga diri yang tinggi sehingga ndak ingin kalah dengan orang kampung yang suka baca koran. Namun, aku belum jadi membunuhnya. Awalnya, aku berpikir untuk memaafkannya karena dia sering memberi uang rokok kepadaku.”

Pak Kardi sebentar untuk menghela napas panjang.

“Malam itu, aku bertamu dan kulihat koran edisi anakku yang dicorat-coret dengan warna merah. Dia menghina anakku dan membuatku benar-benar marah. Saat itulah kesempatanku membunuhnya dan seluruh keluarganya. Aku membunuhnya demi membalas kematian anak kesayanganku.”

“Cukup, Pak! Kau tak seharusnya mengatakan bahwa kau membunuhnya demi anakmu. Kau telah menodai gambar wajah anakmu dengan darah pembunuhan yang kau lakukan,” kataku tegas.

***

Pak Kardi telah membuat berita utamanya sendiri. Dia muncul di koran yang dijajakannya. Dia menjadi kepala berita dengan wajahnya tercetak besar dan status sebagai tersangka pembunuhan keluarga Juragan Jono. Dia harus mengubur mimpinya menjadi wartawan ketika dia memutuskan untuk membunuh.

***

“Kau membuatnya jadi tersangka?”

“Aku tak membuatnya jadi tersangka. Memang dia yang membunuh Jono itu,” kata seorang laki-laki acuh tak acuh seraya mengisap rokok.

“Tapi kamu yang menembaknya! Bodohnya, aku mau ikut-ikutan!” terdengar nada tinggi.

“Sudahlah, lupakan saja. Lagi pula belum ada yang tahu juga. Aku cukup senang Jono dan keluarganya yang bodoh itu sudah mati. Dia terlalu serakah dalam bisnis.”

“Kau benar. Dia hanya perampok berkedok pebisnis.”

Keduanya terdiam lalu tertawa puas.***

Yogyakarta, 7-3-2017

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Terpopuler

To Top