Teras

Pentas Ketoprak “Jaka Endhol-endhol”: Sebuah Proyek Kebersamaan

Foto: LPPM Kreativa

Yogyakarta – Pentas ketoprak dosen dan mahasiswa yang bertajuk “Jaka Endhol-endhol” digelar di Gedung Pertunjukkan (Performance Hall) Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta pada Selasa malam (05/03). Pentas ketoprak ini diadakan dalam rangka tasyakuran atas didirikannya Gedung Pertunjukan di Fakultas Bahasa dan Seni.

Foto: LPPM Kreativa

Pentas yang berlangsung lebih kurang empat jam itu diaktori oleh sejumlah guru besar, dosen, staff karyawan, serta mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni. Turut pula dalam pementasan tersebut Rektor UNY, Sutrisna Wibawa, sebagai salah satu yang memegang peran penting. Sutrisna memerankan tokoh Prabu Sri Kuncara, raja dari negara Kanda Manyura. Dekan Fakultas Bahasa dan Seni, Endang Nurhayati, juga ikut andil memeriahkan pementasan dengan berperan sebagai Garwa Prameswari.

“Jaka Endhol-endhol”  yang merupakan naskah garapan baru, bercerita tentang penantian Dewi Mijil Sulastri (putri Prabu Sri Kuncara) terhadap  Pangeran Laras Maya. Sang putri begitu setia menunggu kedatangan pujaan hati yang sekian lama telah meninggalkannya. Di tengah penantian panjang untuk bertemu Pangeran Laras Maya, datang para pelamar sebagai penggoda, hendak merengkuh Sang Putri ke dalam pelukan angkara.

Foto: LPPM Kreativa

Sang Putri kemudian mengajukan persyaratan bagi para pelamar yang mustahil dipenuhi, yaitu meminta mahar pernikahan berupa putri kembar yang mumpuni dalam bahasa dan seni. Namun tanpa disangka, seorang pelamar bernama Jaka Endhol-endhol dapat memenuhi permintaan Sang Putri. Oleh karenanya, sebagai konsekuensi Prabu Sri Kuncuro meminta kesediaan Dewi Mijil Sulastri menikah dengan Jaka Endhol-endhol.

Dewi Mijil Sulastri menolak, dirinya hanya ingin bersanding dengan Pangeran Laras Maya, maka saat Jaka Endhol-endhol menghadap di kedaton, sang putri berlari meninggalkannya. Di luar dugaan, ternyata Jaka Endhol-endhol adalah jelmaan dari Pangeran Laras Maya. Dengan menyamar menjadi Jaka Endhol-endhol, Pangeran Laras Maya sebenarnya hendak menguji kesetiaan cinta Dewi Mijil Sulastri.

Penonton dapat menangkap bahwa garis besar cerita mengenai romantisme. Kendati demikian, sutradara pementasan, Suminto A. Sayuti, mengaku jika tidak ada tema besar dalam pentas kolosal ini. Ia memaparkan bahwa pementasan ketoprak ini merupakan proyek kebersamaan, sehingga tidak memerlukan sebuah tema khusus.

Naskah yang ditulis pun mengalir seiring berjalannya waktu. Bahkan, nama para tokoh dalam “Jaka Endhol-endhol”, seperti Prabu Sri Kuncoro, Garwa Prameswari, diambil dari nama-nama Gendhing Jawa. Suminto berharap agar suasana kejiwaan tokoh dapat seperti suasana gending yang dijadikan sumber nama mereka. Sedangkan, untuk persiapan pentas, para aktor sebelumnya telah rutin mengadakan latihan.

“Proses latihan sendiri memakan waktu hampir satu bulan,” ungkap Teguh, pemeran tokoh Laras Maya ketika diwawancarai.

Auni Candra, mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi, memberikan pendapatnya tentang pentas ketoprak dosen mahasiswa tersebut.

“Pementasannya seru dan lucu,  karena lebih ke dagelan. Jadi, banyak penonton yang sering tertawa setiap adegannya. Walaupun banyak aktor yang lupa naskah,” papar Auni.

Auni juga mengomentari terkait dengan durasi pementasan, ia merasa  bahwa acaranya terlalu lama sehingga baru selesai saat larut malam.

Foto: LPPM Kreativa

Harapan Suminto atas pementasan ketoprak “Jaka Endhol-endhol” diserahkan sepenuhnya kepada para penonton. Ia berprinsip bahwa kesenian mampu membawa orang-orang dalam kebersamaan tanpa membedakan derajat dan pangkat. Hal itu dibuktikan dengan diundangnya sutradara oleh pemain untuk muncul dalam pementasan. Padahal, kejadian seperti itu tidak direncanakan sebelumnya, tidak ada dalam skenario.

Baca TERAS di lppmkreativa.com atau tulisan Sri Kadarsih lainnya.

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Pentas Ketoprak “Jaka Endhol-endhol”: Sebuah Proyek Kebersamaan – Persma Jogja

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

To Top