Persma

Penutupan Festival Persma UNY: Diskusi Framing Media dalam Konflik Agraria

Festival Persma UNY yang berlangsung sejak tanggal 17 September lalu telah ditutup kemarin (21 September) dengan “Diskusi Framing Media dalam Konflik Agraria”, bertempat di alua PKM FT UNY.

Ada dua pembicara dalam diskusi itu. Yang pertama Kamil Alfi Arifin, kontributor Remotivi sekaligus dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Respati Yogyakarta. Yang kedua Valentina Sri Wijiyati, Staf Advokasi dan Pendidikan Komunitas di Combine Resource Institution (CRI).

Dalam diskusi tersebut, Kamil memberikan paparan terkait analisisnya terhadap framing pemberitaan media lokal Yogyakarta, utamanya Kedaulatan Rakyat, yang menurutnya begitu banal dalam menyokong proyek New Yogyakarta Interational Airport (NYIA) dengan pemberitaan-pemberitaannya.

Kamil mengungkapkan bahwa hal tersebut disebabkan salah satunya oleh tidak diperhatikannya perspektif lingkungan. Ia menganggap, KR gagal memaknai bagaimana seharusnya media memosisikan diri. Menurut Kamil, gerak pemberitaan media juga ditentukan oleh soal afiliasi.

“Saya tidak tahu saham proyek pembangunan NYIA itu milik siapa. Saham tunggalkah, atau milik bersama,” aku Kamil.

“Banyak perusahaan-perusahaan sekarang ini, terutama yang berkaitan dengan proyek NYIA, yang berusaha membangun relasi baik dengan media. Membuat acara, mengundang media, tujuannya membangun pencitraan. Apakah itu tidak berpengaruh terhadap pemberitaan media? Saya curiga, berperngaruh,” lanjutnya.

Berdasarkan penelitian Kamil terhadap 130-an berita yang tayang di portal daring KR (krjogja.com), menurutnya, hampir keseluruhan narasumber berita-berita tersebut adalah pihak-pihak yang mendukung proyek NYIA. Kamil berkesimpulan bahwa KR adalah media yang mendukung proyek NYIA.

Sementara pembicara kedua, Valentina, menyampaikan materi presentasi mengenai Hak Asasi Manusia (HAM). Secara panjang lebar ia memaparkan hal-hal terkait HAM, baik hak untuk hidup, hak mendapatkan informasi, juga hak untuk mendapatkan keadilan.

Valentina mempertanyakan, kenapa lahan di pesisir yang sudah dikonversi menjadi lahan pertanian yang produktif itu justru dikorbankan? Siapakah yang sesungguhnya mendapatkan keuntungan?

Berikutnya, Valentina menyepakati apa yang sebelumnya dipaparkan oleh Kamil soal proyek NYIA yang kontroversi itu. “Ternyata KR memberi ruang narasumber kepada yang bukan korban. Suara korban tidak ada,” ujarnya.

Dengan tegas, ia berpesan kepada seluruh audiens yang hadir dalam diskusi itu, “Ketika mendedikasikan diri ke dalam persma, kemudian menjumpai konflik, teman-teman harus mengenali, siapa yang menjadi korban di sana, siapa yang menjadi kelompok paling menang di sana.”

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

To Top