Sastra

Per-JALAN-an

Saya ingin menulis tentang perjalanan. Tapi, saya tidak dalam perjalanan. Maka menjadi dusta bila saya masih tetap menulis tentang perjalanan sementara saya tidak dalam perjalanan. Begitu juga, ketika saya bilang ingin menetap di suatu tempat. Tapi, saya tak pernah tinggal bahkan mampir sejenak di tempat itu. Apa mau saya? Saya juga tidak tahu. Sudah sekian kali saya bertekad ingin menulis, tapi yang saya buat hanya sebaris setelah itu habis. Banyak yang ingin saya tulis tapi tak sanggup tertulis.

Hari itu saya melihat orang lain menulis tentang perjalanan. Di hari esoknya saya membaca puisi tentang perjalanan. Di masa lampau, saya juga diceritakan seseorang tentang perjalanannya. Lalu, apa yang akan saya ceritakan? Saya masih tidak tahu. Saya ingin melakukan perjalanan. Tapi, kemana? Jika orang bilang “jalani saja dulu” , apa itu berarti akan ada tujuan? Mungkin akhir memang tentu ada. Tapi apakah tujuan yang dimaksud akan sampai? Tidak, bukan tujuan yang dimaksud. Apakah tujuan utama yang diharapkan akan sampai? Apakah akhir dari jalan itu sudah berarti tujuan? Bukankah tidak selalu? Seperti saya ini, ingin berjalan tapi tak tahu arah tujuan. Apakah ini benar jika hanya berdiam sebab tidak tahu? Tentu tidak. Lalu, apa yang perlu diperbuat? Saya juga masih mencari tahu.

Hari berikutnya sudah berlalu, saya masih mencari tujuan dari perjalanan saya. Apa saya berjalan? Tidak. Apa sudah benar saya menunggu saja? Tentu tidak kan.

Saya ingin bagikan sedikit tentang cerita perjalanan seseorang yang pernah diceritakan kepada saya. Dia bukan pencerita yang baik, itu katanya. Dia tak pandai bercerita, itu juga katanya. Dia hanya ingin saya tahu, itu masih katanya. Dia pernah melakukan perjalanan panjang. Menyusuri padang luas tanpa penghuni, tak ada seorang pun hanya ada dia dan suara pekikan jangkrik. Isinya kesunyian, senyap, sepi, pedih. Dia terus berjalan sampai ditemukannya sebuah pintu tanpa dinding. Dibukanya pintu itu. “Ini keramaian” katanya. Semua orang berinteraksi, semua berbicara, semua berlakon, semua bising! Dia tak suka. Hanya mengamati lalu mencari jalan untuk pergi. Tidak ada jalan lagi. Kebuntuan dan tak ada jalan kembali. Dia terpetak. Dia sesak. Dia(?)

Itu perjalanannya. Kalian percaya itu perjalanannya? Saya tidak. Awalnya memang tidak, tapi ternyata itu benar perjalanannya. Tidak sepenuhnya dia ceritakan. Itu sebab cerita tak ada akhir yang jelas.

Saya juga ingin bercerita tentang perjalanan. Maka itu saya ingin melakukan perjalanan. Kemana saya berjalan? Saya masih mencari. (Anggita Istiqomah)

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

To Top