OPINI

Pesan dari Balkan

Rangkaian peristiwa yang terjadi di dalam negeri akhir-akhir ini saya kira telah melampaui batas kewajaran. Demontrasi besar lewat semboyan keagaamaan, menciptakan berbagai tanggapan di masyarakat. Akibatnya, tatanan masyarakat yang belum begitu kokoh menghadapi guncangan permasalahan pun menjadi tidak menentu. Ada yang menganggap situasi yang ada saat ini merupakan satu hal yang serius, sementara yang lain beranggapan bahwa ini hanya soal politik, hanya sekadar perebutan kekuasaan yang diperebutkan segelintir orang saja.

Pun demikian, terlepas dari keadaan yang ada saat ini, sudah saatnya masyarakat kita untuk saling menghormati dan memaafkan satu sama lain. Sebagai orang yang hidup di masyarakat yang plural, sudah bukan suatu kewenangan bagi siapa pun untuk mengajari toleransi dan cara menjaga kerukunan satu sama lain. Sebab, sebagai orang yang hidup di negara yang dihuni berbagai ras, suku, agama, dan perbedaan lain, kita sudah membuktikan selama puluhan tahun, bahwasanya perbedaan yang ada di dalam tatanan masyarakat kita bukanlah suatu masalah. Apabila kita masih terus seperti ini, bukan suatu hal yang mustahil, di masa depan Republik Indonesia tidak lagi menjadi negara kepulauan.Dan negeri yang memiliki keragaman ras, suku, budaya dan banyak keragaman lainnya ini, hanya akan menjadi sebuah dongeng nan romantik.

Inilah yang tidak diinginkan oleh semua orang yang masih mencintai negeri ini. Jangan sampai kerukunan yang sudah kita jaga di tengah beragamnya perbedaan masyarakat kita, runtuh begitu saja. Pun dengan politik yang acapkali justru menciptakan pertikaian di masyarakat. Sudah seharusnya, masyarakat kita menjaga kerukunan di tengah bermacam perbedaan, karena bila tidak, bukan tidak mungkin peristiwa yang melanda Eropa Tenggara seabad lalu, bakal dialami negeri ini.

Balkan dan Sejarah Panjang yang Hilang

Peristiwa di Eropa Tenggara yang saya maksud adalah rangkaian kisah pilu di semenanjung Balkan. Sebuah wilayah yang konon memiliki lingkungan geografis amat kaya di benua Eropa. Iklim pegunungan yang subur, telah menumbuhkan bibit-bibit anggur yang menghangatkan penduduk sekitarnya di musim dingin. Pun dengan kandungan sumber daya alam di dalamnya, batubara, lignite, tembaga, seng dan sebagainya. Membuat balkan nampak kaya raya di antara daratan eropa yang umumnya miskin sumber daya alam. Di saat bangsa-bangsa eropa pada umumnya, sibuk mencari tanah jajahan untuk memenuhi kebutuhan negeri mereka, bangsa-bangsa di semenanjung Balkan terus menetap di tanah leluhur mereka dan melanjutkan peradaban yang telah di bangun sejak masa lampau.

Balkan hadir dan hidup dengan masyarakatnya yang damai, walau bermacam etnis berada di wilayah Balkan. Mereka hidup berdampingan, bersama-sama menjaga harta peninggalan nenek moyang mereka. Etnis minoritas yang ada di wilayah Balkan pun, dapat hidup tentram bersama dengan etnis mayoritas semacam orang-orang Turk.

Akan tetapi segala kisah indah di semenanjung Balkan itu pun telah sirna. Hari ini kita tinggal mendengar kisah pilu, dari semenanjung nan kaya raya itu. Kita melihat Yunani hari ini yang berada di ambang kehancurannya sebagai Negara. Sebelumnya, kita telah melihat federasi Yugoslavia yang hancur, juga Cekoslovakia yang terpecah sebagai suatu negara, menjadi dua negara yang ingin berjalan menentukan nasibnya masing-masing. Rentetan peristiwa yang menimpa Balkan hari ini adalah akibat dari ketidakmampuan masyarakatnya menghadapi serangan politik dari bangsa-bangsa Adi-kuasa yang memaksa mereka untuk terlibat ke dalam persoalan yang seharusnya dapat mereka hindari.

Kedamaian wilayah Balkan menjadi sirna, ketika Frans Ferdinand (pewaris tahta Austria-Hongaria), dibunuh seorang berkebangsaan Serbia yang menjadi titik awal dimulainya Perang Dunia I. Semenanjung yang damai itu mulai bergejolak. Tanah mereka yang dipenuhi perkebunan anggur menjadi poranda. Sejak saat itu, wilayah Balkan yang damai itu berubah menjadi tempat yang tidak aman untuk ditinggali mayrakatnya. Balkan segera menjadi wilayah dengan segudang kisah pilu, sampai hari ini.

PascaPerang Dunia I, yang dimenangkan Italia, kondisi sosial, ekonomi, politik dunia, khususnya Eropa segera berubah. Masyarakat di wilayah Balkan yang sebelumnya hidup damai, terus dihantui bayang-bayang peperangan yang mengerikan.Selanjutnya, sejarah tentang Balkan yang damai pun berubah menjadi rangkaian perang sipil yang juga melanda hampir seluruh Eropa. Wilayah Balkan yang aman bagi semua ras, etnis dan agama, menjadi saksi bisu pembantaian oeh Gereja Katholik Yunani dan Ortodoks Romania yang membantai etnis minoritas seperti Gipsi.

Dan rangkaian peristiwa indah nan romantik di semenanjung Balkan, mendadak sirna, bahkan orang-orang yang sekarang hidup di wilayah tersebut, barangkali tidak akan percaya dengan kisah masa lampau yang mereka dengar pernah ada di tempat tinggal mereka. Sebab orang-orang yang masih memiliki kenangan manis itu telah meninggalkan Balkan, manakala perang sipil dan pembersihan etnis minoritas turut mengiringinya. Masyarakat berbondong-bondong meninggalkan Balkan, dan menghapus segala kenangan yang melekat di benak mereka.

Balkan dan Sebuah Refleksi

Ketika bangsa-bangsa Eropa bergerak, meninggakan zaman kegelapan menuju ke zaman pencerahan (renaisance) bangsa-bangsa di wiayah Balkan justru mengalami peristiwa yang sebaliknya. Abad delapanbelas yang menandai awal dimulainya pencerahan, adalah masa di mana Balkan mencapai puncak kedamaiannya. Tetapi selanjutnya, Balkan terus menerus mengalami penurunan dalam hal kedamaian. Puncaknya, di abad dua puluh, Balkan menjadi tempat dimulainya konflik berkepanjangan di Eropa. Sebagaimana dijelaskan pada bagian sebelumnya, di semenanjung Balkan inilah Perang Dunia I dimulai.

Dari kisah indah di semenanjung nan kaya raya, yang kemudian justru menjadi tempat dari segudang kisah pilu, Balkan adalah refleksi terbaik untuk menyaksikan keadaan masyarakat kita hari ini. Sebab, rangkaian peristiwa yang terjadi di dalam masyarakat kita pun pernah terjadi di semenanjung ini, seabad yang lalu. Balkan adalah wilayah yang memiliki keberagaman budaya, etnis dan agama, sebagaimana negeri kita. Dan dua wilayah ini juga mengalami permaslahan yang sama. Perbedaannya, Balkan mengalami permasalahan beda etnis dan kepercayaan di masa lampau, dan mereka hancur sebelum sempat mempelajari cara menyelsaikannya. Sementara bangsa ini mengalami masalah perbedaan itu hari ini dan memiliki kesempatan untuk belajar dari peristiwa serupa di masa lampau.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Terpopuler

To Top