Teras

Pulang ke Rumah untuk Membentangkan Seribu Jalan Baru

Tidak bisa dimungkiri bahwa apresiasi masyarakat dalam ranah seni rupa tidak mudah didapatkan, seperti seni yang lainnya. Sejauh ini, pameran seni rupa masih saja dinikmati oleh kalangan seni sendiri. Apalagi, jika dilakukan di tempat yang belum populer.

Seorang perupa muda bernama Aditya Dwi Putra, atau kerap disapa Adit menuturkan hal demikian.
“Kalau kita pameran di gedung Jogja National Museum kita mendapatkan pengunjung yang lebih banyak, karena di sana sudah tenar sebagai gedung pameran,” ungkapnya ketika ditemui di gedung Galeri Lama, FBS, UNY pada Kamis 14 Desember 2018.

Foto: Nursaid

Insan seni rupa di FBS sendiri belum memiliki kepercayaan diri untuk mempertontonkan karyanya di rumah sendiri. Pasalnya gedung pameran di FBS atau disebut Galeri Lama ini hanya digunakan untuk pameran Tugas Akhir mahasiswa saja.

Adit sangat menyayangkan hal ini. Di samping itu, Adit dan kawan-kawannya yang tergabung dalam komunitas seni Aligator juga merasakan keresahan akan pandangan masyarakat terhadap diri mereka.

Sebagai insan seni rupa yang berlatarbelakang pendidikan, mereka dipandang sebelah mata dalam hal seni rupa. Mereka dianggap tidak mampu berkesenian layaknya mahasiswa seni murni. Atas keresehan itu, perkumpulan yang berdiri sejak tahun 2016 itu gencar untuk berkarya dan berkontribusi dalam pameran di luar UNY.

Dimulai dengan mengikuti pameran mahasiswa Pedidikan Seni Rupa angkatan 2015 yang diselenggarakan diJNM (Maret 2016), dilanjutkan pameran kelompok yang bertempat di Jogja Contemporary (Desember 2016), kembali melakukan pameran angkatan 2015 yang ke-2 di JNM taun 2017, dan pameran-pameran kolaborasi lainnya pada tahun 2017-2018.

Foto: Nursaid

Kali ini, Adit dan kawan-kawannya yang tergabung dalam komunitas Aligator kembali mengadakan pameran seni rupa dan kriya. Mengusung tajuk “Balik Kandang”, Adit mengungkapkan, “Kami ingin menceritakan perjalaan kami selama 3 tahun berkolektif dan berkesenian.”

Selama ini, tambahnya, “Kami merasa lebih dominan berkegiatan di luar kampus. Setelah sekian lama, kami ingin pulang ke rumah, balik kandang.”
Perhelatan ini digelar pada tanggal 14 hingga 21 Desember 2018 di Galeri Lama FBS. Sebelum pameran dilangsungkan, mereka merenovasi tempat ini menjadi gedung yang layak untuk pameran.

Melalui pameran ini, Adit dan kawan-kawan ingin menunjukkan bahwa mahasiswa Pendidikan Seni Rupa juga mampu bergelut di dunia seni rupa secara masif. Di samping itu, gedung di rumah sendiri juga mampu untuk menjadi ruang pameran bagi mereka. Pameran Balik Kandang ini pun tampak setara dengan pameran yang diadakan oleh kampus seni lain.

Dengan terbentuknya ruang-ruang seperti Aligator pun, Adit berharap mahasiswa seni mampu terus berkarya secara inisiatif dan mampu membangun nama sebagai perupa. Kampus seni pun tidak dianggap sebelah mata oleh kampus jurusan lain.

“Ya semoga akan banyak jalan-jalan baru yang tercipta dengan inisiatif-inisiatif yang terlaksana. Semoga mahasiswa FBS mau untuk melangsungkan pameran di rumah sendiri,” tandasnya sambil menyapa beberapa orang yang mengucapkan selamat di hari pembukaan pameran itu.

Adit mengakui, setelah perjalanan berkarya dan berelasi di luar selama 3 tahun, Aligator mampu meraih cukup banyak apresiasi saat mengadakan pameran di gedung kampus yang tidak begitu terkenal.***

Baca TERAS di lppmkreativa.com atau tulisan Apriliasa lainnya.

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Pulang ke Rumah untuk Membentangkan Seribu Jalan Baru – Persma Jogja

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

To Top