Buku

RANAH 3 WARNA: ANTARA RELIGIUSITAS DAN REALITAS

Judul Ranah 3 Warna
Seri Negeri 5 Menara
ISBN / EAN 9789792263251 / 9789792263251
Author Ahmad Fuadi
Publisher Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Publish 23 Januari 2011
Pages 488
Weight 175 gram
Dimension (mm) 130 x 200
Tag Fiksi,

Satu lagi novel inspiratif, Ranah 3 Warna, bercerita mengenai perjuangan seseorang untuk meraih mimpinya. Alif, tokoh utama dalam novel ini, yang baru saja menyelesaikan studinya di Pondok Madani (PM) kembali ke kampung halamannya, Maninjau. Alif masih dengan mimpinya untuk kuliah di ITB dan menjadi seperti Habibie. Ia juga bertahan dengan mimpinya untuk bisa pergi ke Amerika.


Sayangnya Alif hanya lulusan pondok, tidak memiliki ijazah, sehingga harus mengikuti ujian persamaan SMA. Randai, sahabat kecil Alif, yang sudah lebih dahulu diterima di ITB menjadi motivasi terbesarnya. Ia belajar keras seperti orang kesetanan, tapi ia memang lebih menonjol di bidang bahasa daripada ilmu pasti cukup banyak mengalami kesulitan saat menghadapi soal ilmu pasti.

Menghindari kelemahannya, ilmu pasti, Alif memilih jurusan IPS saat UMPTN. Pilihannya jatuh pada jurusan Hubungan Internasional Universitas Padjajaran, dengan mantera man jadda wajada dan usaha kerasnya ia akhirnya diterima.

Diceritakan Alif mengalami berbagai masalah ketika memasuki perkuliahan. Puncak permasalahan Alif adalah sang Ayah meninggal dunia. Sebagai anak lelaki tertua ia merasa memiliki kewajiban untuk mmbantu Amaknya membiayai sekolahnya dan adik-adiknya.


Alifpun mencoba bekerja se-rabutan, prestasi akademiknya berantakan. Ia hanya bermodal Man Jadda Wajada waktu itu. Namun kemudian ia teringat satu mantera lagi yang diajarkan sewaktu dirinya di PM. Mantera itu adalah Man Shabara Zhafira. Barang-siapa yang sabar, akan ber-untung.

Mantera ini terbukti sangat manjur. Kehidupan berat yang dialami-nya di tanah rantau Alif lewati dengan sabar, ia pun beruntung. Sedikit demi sedikit permasalahan yang ada terselesaikan. Berkat kegemarannnya sejak di PM, jurnalistik, di kampus Alif bertemu Togar, redaksi senior pers di kampusnya. Togar memberikan banyak ilmu dan latihan super keras untuk Alif, hasilnya tulisan Alif dimuat di media kampus bahkan media lokal Bandung. Mulai dari sana Alif  tidak lagi bekerja serabutan, ia hanya perlu menulis untuk menghidupi dirinya.


Diceritakan di tengah banyak hal yang ia alami, Alif masih terobsesi untuk pergi ke Amerika. Hingga pada akhirnya ia bisa mengalahkan Randai pada seleksi pertukaran mahasiswa ke luar negeri. Alif pun terbang ke Kanada. Di Kanada Alif pun beruntung karena bisa bekerja magang di salah satu stasiun televisi di Quebec, salah satu kota kecil di sana. Berbagai pengalaman ia dapatkan selama di Kanada. Mendapat teman serta keluarga baru. Sampai ia kembali pulang ke tanah air dan menyelesaikan studinya di Unpad.


Tak ada kehidupan yang sempurna, meskipun banyak impiannya terpenuhi, Alif harus berbesar hati dengan mengakui kekalahannya dari Randai dalam merebut hati Raisa. Randai yang lebih dulu lulus dan telah bekerja lebih dulu melamar Raisa, dan Raisa  menerimanya. Alif berusaha tegar, bagaimana pun Randai adalah Sahabatnya sejak kecil dan Raisa adalah sahabatnya saat di Kanada.


Beberapa orang berpendapat novel ini kalah bagus dari novel sebelumnya. Namun tidak terlepas dari pendapat pribadi beberapa orang, Novel ini masih bisa menginspirasi pembacanya. Inspirasi dan motivasi untuk bisa mengejar mimpi dan cita-cita. Dari novel ini kita kembali diingatkan dalam bermimpi yang dibutuhkan bukan hanya kerja keras dan usaha, tapi juga kesabaran.


Novel ini disajikan apik dan menarik, mungkin ini juga karena Ahmad Fuadi seperti bertutur mengenai nostalgia kehidupannya. Patut dibaca, selain nuansa religiusitas yang dibangun tergarap secara matang, pengarang menyampaikan relitas sosial yang dihadapinya secara nyata.
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Terpopuler

To Top