Resensi Novel Kubah: Sastra Mencatat Sejarah

Kubah adalah salah satu novel karya penulis ternama Indonesia, Ahmad Tohari. Nama Ahmad Tohari tentu tidak asing lagi di dunia kesusastraan Indonesia. Ia banyak melahirkan karya-karya besar yang berkiblat dalam sejarah. Salah satu karya besarnya adalah novel Kubah . Penasaran bagaimana isi dari novel tersebut? Berikut resensi novel Kubah karya Ahmad Tohari.

Novel Identitas

Judul novel: Kubah

Penulis : Ahmad Tohari

Penerbit : Pustaka Jaya

Tahun Terbit : 1980

Kota Terbit : Jakarta

Jumlah Halaman : 184

isi

Novel ini menceritakan pengalaman hidup seorang mantan narapidana. Kubah mengambil latar belakang peristiwa pelarian dan penangkapan para anggota PKI setelah tragedi 1965, pemberontakan sadis yang menelan korban setidaknya enam jenderal dan satu perwira. Novel ini memulai dari segelintir peristiwa pratragedi yang terjadi di Pegaten hingga peristiwa pascatragedi.

dimulai dari masa pratragedi, peristiwa sejarah yang tergambar dalam novel ini menjadi pemicu timbulnya konflik yang dialami tokoh utama bernama Karman. Karman diberitahu sebagai seorang pemuda dari sebuah desa bernama Pegaten. Ia dikenal memiliki kecerdasan di atas rata-rata dibanding orang-orang desanya. Kehidupan Karman mulai berubah semenjak ia mengenal Margo yang merupakan seorang aktivis Partai Komunis Indonesia. Margo menjadi anggota yang paling aktif dalam kegiatan anggota PKI. Berkatnya, banyak orang kemudian bergabung dengan partai komunis tersebut. Hal itu membuat nama PKI semakin mentereng di kancah politik Indonesia.

Selain merekrut anggota, Margo juga andal dalam mencari bibit unggul yang dirasa mampu mempertahankan elektabilitas partainya, kemudian terpilihlah Karman sebagai target mereka. Orang politik tentu mahir dalam bermain strategi, berbagai siasat halus dirancang detail dan dijalankan. Doktrin-doktrin perlahan merasuki diri Karman. Kecerdasan Karman ternyata tidak mampu membentengi dirinya dari doktrin dan siasat Margo. Akhirnya ia pun bergabung dalam keanggotaan PKI dan ditandai sebagai calon kader unggul partai.

Digambarkan pula bahwa orang-orang PKI ternyata banyak bersembunyi di balik penyamaran seperti yang ditunjukkan melalui tokoh Triman. Di samping menjadi anggota PKI, ia juga tergabung ke dalam Partindo (Partai Indonesia). Partindo kala itu menjadi partai yang mendapat kepercayaan besar dari masyarakat. Bahkan, sebagian besar yang menempati kursi pejabat berasal dari orang-orang anggota partai tersebut. Berangkat dari alasan itu, PKI mencoba memanfaatkannya sebagai sarana melancarkan siasat. PKI mendatangkan orang dalam dari Partindo untuk bekerja pada PKI atas kepentingan tertentu. Hal inilah yang membuat identitas seorang anggota PKI terkadang sulit untuk digali dan dibuktikan.

Derita yang dialami Desa Pegaten terus berlanjut disusul dengan pegerakan mempertahankan kemerdekaan yang praktis berlangsung sampai awal tahun lima puluhan. Kala itu tengah terjadi pergolakan yang melibatkan tiga kekuatan sekaligus yakni laskar pimpinan Ahmad Juhdi, laskar yang bersembunyi di balik topeng Ahmad Juhdi, dan alat-alat keamanan negara. Kesemuanya menaruh kepentingan atas wilayah Pegaten dan sekitarnya. Ketika itu, pergolakan tak henti-hentinya menghantui Desa Pegaten. Hari-hari mencekam dilalui dengan rentetan peristiwa perampokkan dan pembunuhan.

Setelah usai dengan masa pratragedi, novel Kubah memperlihatkan sejumlah penggambaran peristiwa pascatragedi 1965. Penggambaran pertama adalah mengenai peristiwa pelarian anggota PKI. Perekrutan anggota besar-besaran yang dilakukan di masa pratragedi, membuat alat-alat keamanan negara harus susah payah menuntaskan keanggotaan PKI hingga ke akar-akarnya. Alhasil, penangkapan dan pembantaian pun tidak bisa terelekkan. Adanya tindakan penangkapan yang dilakukan alat-alat keamanan negara tersebut, membuat tokoh Karman—salah satu anggota PKI—harus mengasingkan dirinya dalam beberapa minggu pelarian. Para pembesar dan anggota PKI yang lain diketahui telah ditangkap, hanya tinggal Karman yang masih bertahan dalam pelariannya.

BACA JUGA: Review Novel dan Hujanpun berhendu

Penggambaran peristiwa pascatragedi yang kedua yaitu memperlihatkan penangkapan seorang anggota PKI bernama Karman. Berbagai cara telah dipikirkannya untuk dapat membebaskan diri dari kejaran aparat. Ia hanya perlu menunggu satu atau dua bulan hingga situasi di Pegaten kembali kondusif. Ternyata belum sampai satu bulan, rencana Karman itu menjadi sia-sia setelah ia jatuh sakit. Gerak-geriknya pun mulai diketahui orang dan sampai ke telinga aparat. Karman ditangkap dalam keadaaan sakit parah, kemungkinan itu yang membuat aparat tidak tega untuk menghabisinya. Ia kemudian dijebloskan ke dalam penjara pengasingan selama dua belas tahun di Pulau Buru.

Ahmad Tohari dalam novel Kubah ini begitu kental memperlihatkan rekaman peristiwa sejarah. Rekaman tersebut berupa gambaran masa pratragedi dan pascatragedi terkait peristiwa pemberontakan G30SPKI tahun 1965. Penggambaran peristiwa pratragedi meliputi perekrutan besar-besaran yang dilakukan PKI dan pergolakan yang terjadi di Pegaten. Sementara peristiwa pascatragedi meliputi pelarian seorang anggota PKI, serta penangkapan dan pengasingan anggota PKI.

Kelebihan

Novel ini terbilang berhasil untuk menjawab gambaran peristiwa apa yang terjadi pada tahun 1965. Penggambarannya pun cukup rapi dengan menunjukkan peristiwa pratragedi dan pascatragedi. Segi bahasa juga menjadi kelebihan novel ini, di mana bahasa yang digunakan mudah dipahami dan membuat pembaca turut mengalir dalam alur cerita.

Kekurangan

Meskipun berhasil dalam menjawab gambaran tragedi 1965, novel ini masih terlalu sempit untuk merepresentasikan peristiwa pergolakan yang terjadi. Bisa dikatakan novel ini merepresentasikan secuil saja dari peristiwa yang terjadi dalam tragedi 1965.

Rekomendasi

Buku ini sangat direkomendasikan untuk dibaca, khususnya bagi pembaca yang menyukai novel-novel historis. Di dalamnya selain berisi gambaran sejarah, juga memuat nilai-nilai kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Previous post Di Balik Isu Pembelian BBM dengan MyPertamina
Next post Saman: Liar dalam Pemikiran