Saman: Liar dalam Pemikiran

Novel Saman karya Ayu Utami adalah salah satu novel yang membutuhkan fokus lebih ketika membacanya. Ngeri, merinding, unik, menyentuh emosi, bimbang, juga tegang dengan imajinasi berkecamuk liar adalah kesan merupakan ketika membaca novel ini. Dengan mengangkat tema yang tidak jauh dari latar belakang masa delapan puluhan sampai sembilan puluhan yaitu mengenai pemerintahan otoriter dan sosial budaya saat budaya barat masuk ke Indonesia. Hal ini menjadikan dunia percintaan dan kebiasaan seks lumrah adanya, kehidupan yang masih diselubungi oleh kekuasaan di atas nilai kemanusiaan, serta politik yang secara kejam merenggut hak manusia tanpa belas kasih. Ayu Utami mengambil latar tempat pertama dalam novel berada di New York dengan tokoh Laila yang kerap dimunculkan pada awal-awal kisahnya. Novel ini juga menggunakan sudut pandang campuran, yaitu sudut pandang orang pertama “saya” dan sudut pandang orang ketiga serba tahu “ia atau dia.”

Baca selengkapnya: Resensi Novel Kubah: Sastra Mencatat Sejarah

Bahasa yang digunakan dalam novel ini tergolong kental dengan bahasa tahun sembilan puluhan. Namun, tidak menampik bahasa yang digunakan sangat vulgar apalagi saat mendeskripsikan mengenai unsur seksualitas yang tergolong frontal jelas diceritakan. Tidak dapat dipungkiri, beberapa kali pembaca terpukau, bahkan speechless akan imajinasi Ayu Utami yang begitu luar biasa. Beliau mampu mengangkat dua masa yang bertolak belakang, antara zaman modern yang kental dengan pergaulan bebas dan tidak mempercayai tahayul. Zaman yang erat hubungannya dengan makhluk halus, bahkan kehidupan manusia kala itu mampu menjalin komunikasi langsung dengan makhluk tak kasat mata. Penulis juga mengangkat dua agama sekaligus dalam kisahnya yakni Islam dan Katolik dengan menghadirkan tokoh Saman yang sebagai pastor. Setiap tindak tanduk tokoh dijelaskan secara detail melalui latar tempat dan suasana yang membangun menambah sensasi mistis, erotis, serta menguras emosi terangkum jelas di dalamnya. Nama “Saman” merupakan nama samaran dari Athanasius Wisanggeni, seorang pribadi yang tangguh, peduli sesama, dermawan, dan bertanggung jawab.
Bisa dikatakan novel ini mengisahkan empat sahabat, yaitu (1) Laila si gadis lugu, rela berkorban demi cinta, tetapi sangat membenci lelaki sebelum mengenal cinta; (2) Yasmin si gadis serba bisa, punya segalanya dengan penguasaan wawasan luas, tetapi sangat membenci guru Er; (3) tokoh Cok, gadis periang, ringan hati, dan tidak membenci siapapun; dan (4) Shakuntala, gadis penuh kebebasan, tetapi sangat membenci orang tua, khususnya ayahnya. Deskripsi watak tokoh tersebut dibuktikan pada halaman 150–153.

Terlepas dari hal di atas, ada sebuah kutipan yang menarik perhatian pembaca.
“Meskipun uang tak pernah bisa menggantikan manusia.”

Dalam kutipan tersebut, terungkap jelas bahwa masih ada nilai-nilai kemanusiaan di tengah kebengisan pada masa pemerintahan. Kutipan singkat tersebut sederhana. Namun, benar adanya. Novel ini juga dapat diambil nilai moral mengenai arti persahabatan, saling tolong menolong antar sesama. Novel ini berkisah tentang pemogokan buruh, kolusi pengusaha perkebunan dengan militer lokal, penyiksaan aktivis, fenomena gaib, sekaligus mempertanyakan iman katolik, dominasi laki-laki atas perempuan, serta seksualitas dan cinta. Ayu utami membalut setiap rangkaian peristiwa dengan bahasa yang indah dan eksploratif. Beberapa pembaca mungkin akan merasa bingung hingga perlu membaca berulang-ulang untuk memahami setiap alur kejadiannya menjadi secuil kekurangan novel. Bisa dikatakan bahwa novel ini tidak cocok dibaca oleh kalangan remaja karena terlalu banyak mengandung unsur seksualitas di dalamnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Previous post Resensi Novel Kubah: Sastra Mencatat Sejarah
Next post Love Story Of Gavan: Cinta dan Luka