Kolom

Senandika Malam

Barangkali aku yang terbawa rasa.

Barangkali aku yang terlampau lelah.

Barangkali aku monster yang bernama skeptis ini memang sudah menang.

Atau barangkali memang mereka penyebabnya

Bagi engkau yang merasa hidupmu hanya kumpulan dari kicauan opini yang kau balut dengan sebutan hak asasi, aku berhutang kisah padamu.

Detik-detik jam terdengar malam itu, bak mesin waktu untuk mengajak jiwa untuk berkelana, menapaki sejuta rasa yang barangkali pantas untuk dirindukan atau malah terasa hambar untuk dirasakan. Ah tidak, aku tidak sedang mengajakmu bernostalgia, kau sendiri terlalu sering menengok kebelakang, hingga lupa bagaimana menyapa sesuatu yang ada di depanmu. Aku hanya sedang merenung, barangkali juga bingung, bahkan kebingungan itu kini menjelma menjadi arus pertanyaan yang menyeretku dengan kotornya kejurang skeptisisme ini. Sedikit demi sedikit mengoyak keyakinan yang barangkali bentengnya terlau lemah untuk diterjang arus sedahsyat ini. Betapa benar dan salah itu seperti jaring laba-laba, tipis dan menjebak.

Pernahkah kau mendengar begitu banyak suara sumbang yang bahkan menjelma monster yang siap melahapmu? Suara-suara manusia yang nuraninya dipertanyakan, manusia-manusia yang tak punya “kaca diri” untuk bisa merefleksi apa yang sedang dia perbuat dan apa akibat dari apa yang dia perbuat. Apa manusia saat ini pada fase lupa? Lupa dengan apa hakikat manusia itu sebenarnya, lupa bagaimana mengenal diri sendiri, lupa bagaimana memanusiakan manusia.

Seorang penulis cerita fiksi pernah mebuatku merasa begitu tersadar betapa sesuatu yang menurut kita sepele saja bisa memberikan dampak yang begitu besar bagi orang lain. Tulisan itu kurang lebih seperti ini, dia bertanya padaku, “Kamu tau soal butterfly effect? Sebuah kepakan sayap kupu-kupu di belantara Brazil yang meghasilkan tornado di Texas beberapa bulan kemudian. Teori itu kurang lebih sama dengan mulutmu, kalimat tak berguna yang keluar dari sana, bisa jadi akan menimbulkan kehancuran hidup seseoang suatu hari nanti, begitupun sebaliknya (wildy)”. Ini bukan masalah benar atau salah dengan apa yang kau ucapkan karena selama itu manusia, tidak ada yang paling benar di dunia ini. Ini adalah persoalan menyakit atau tidaknya dengan ucapanmu itu.

Kau harusnya tahu bahwa yang kau punya hanya segudang opini, masih berdebu dan kusam, tapi jika kau menyadari itu maka tak apa, kau masih bisa membersihkannya. Akan tetapi jika kau tidak sadar, maka itu hanya akan mengotori orang lain, untuk itulah aku nengatakan bahwa “kaca diri” itu perlu. Dalam sengakrut persoalan ini, aku hanya ingin diam sejenak. Tak perlu lagi menambah badai kata-kata, gagasan maupun ambisi yang toh hanya akan tengelam dilautan opini. Anggap saja ini bentuk pesisimisme sebab ketidakmampuan dalam menghadapi realitas.

 

Dian Nita Pangesty

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Terpopuler

To Top