Interview

Seni yang Menghidupi Seniman, atau Seniman yang Menghidupkan Seni

seni teater

Kreativa – Bicara mengenai kesenian dewasa ini, seringkali kita dihadapkan pada permasalahan yang memilukan, meteri. Bagaimana tidak, dalam berkesenian (khususnya seni sastra dan seni teater), seringkali seorang yang mengaku sebagai seniman, pegiat seni atau sebutan lain bagi orang-orang yang berkecimpung dalam dunia kesenian, mengabaikan idealisme mereka sebagai orang yang berkesenian.

Untuk membahas masalah kesenian yang kompleks ini, reporter kreativa mewawancarai Muhammad Shodiq (pendiri salah satu unit kegiatan mahasiswa yang bergerak di bidang kesenian, khususnya seni teater di Universitas Negeri Yogyakarta). Dan berikut beberapa nukilan wawancara dengan Muhammad Shodiq.

Menanggapi kesenian akhir-akhir ini, misalnya seorang yang pada awalnya telah mendedikasikan hidup untuk berkesenian, tetapi dalam perjalanannya banyak dari mereka yang kemudian melupakan idealismenya demi mendapat materi (uang), bagaimana tanggapan anda?

Setiap orang (juga seniman) memiliki pilihan masing-masing. Dan seorang seniman, memiliki pilihan untuk pertama, dengan tidak menjual kesenian yang kamu punya (ciptakan –red) secara professional. Ya sudah, lakukan itu wong itu tidak merugikan siapapun. Kemas dengan bagus (kesenian yang diciptakan) kemudian disampaikan pada umum.

Kedua, hidup dari kesenian dan melakukan sebuah ruang pengabdian, dan ruang pemberdayaan pada sisi tertentu, selesai. Apakah salah? Tidak ada yang salah bung. Kalo orang berbicara seni itu sebuah jalan nabi, eh entar dulu kan seperti itu kita harus melihat, memangdang kesenian dari ruang yang mana? Kalau kemudian seniman itu melakukan sebuah jalan nabi, tetapi ia tidak bisa bertanggung jawab terhadap dirinya dan keluarganya, yang mau bertanggung jawab sama dia siapa? Apakah kita kemudian menyalahkan proses dia? Tidak juga. Tetapi, selama ini saya melakukan jalan kesenimanan walaupun orang menganggap saya seniman atau bukan, saya melakukan jalan kesenimanan. Karena saya percaya diri, dengan itu (melakukan jalan kesenimanan) maka saya masih bisa hidup. Dan saya selalu mencoba untuk memberikan harga pada setiap karya yang saya punya. Saya tidak mau menganggap seni itu adalah suatu yang remeh temeh dan sepele itu saja.

Ketika seorang seniman tidak lagi menempuh jalan kenabian dalam hidupnya, tetapi disisi lain masyarakat tidak tahu, bahwa si seniman ini sudah tidak melakukan jalan kenabian. Dalam kasus yang seperti ini, bagaimana tanggapan anda?

Oke, orang yang menganggap seniman sebagai jalan kenabian bagi saya adalah apologi. Sebenarnya dia tidak mampu menghasilkan kesenimanan sebagi hidup dia karena kalau dia fokus, dia serius, dia mateng dengan yang dia lakukan dan kemudian dia menghasilkan karya yang luar biasa, saya yakin karya itu akan direspon orang dan diapresiasi. Nah, problemnya yang tidak dimiliki oleh seniman-seniman dewasa ini adalah bagaimana dia mampu mengemas keseniannya, karya seninya, menjadi sesuatu yang bisa diakses dan diapresiasi masyarakat.

Kita bayangkan kalau kamu bikin tahu bulat kemudian kamu bikin tahu bulat itu dirumah. Kamu goreng, jebret! Terus kamu meresa nggak percaya diri. Ah ini Cuma bahan tepung saja buat apa sih iya kan? Yasudahlah, buat makan sederhana saja. Pasti itu (tahu bulat yang digoreng di rumah) nggak akan menghasilkan uang. Tapi kemudian ada yang kreatif, tahu bulat itu dibikin sama dia kemudian dikemas “tahu bhulat digoreng dadakan” pakai pick up percaya diri banget. Ddari hal yang sepele, sederhana, tapi akhirnya bisa menguntungkan. Misalnya lagi snak. Apa sih yang dijual dari snak-snak itu? Cuma micin sama tepung. Tapi dibungkus dengan bungkus yang sangat menarik. Nah ketika seniman tidak mempunyai logika bagaimana menghidangkan sebuah gagasan yang dia punya itu dalam bentuk yang indah, maka bagi saya seniman itu tidak mampu memberikan satu hal yang bermanfaat bagi masyarakat.

Mengenai tahu bulat yang anda jadikan perumpamaan, menurut anda apa yang menjadi masalah utama seseorang untuk berkesenian? Apakah melulu materi, atau ada hal yang lain?

Dulu pernah begini, teman saya sangat susah sekali berbicara untuk hidup dengan mengandalkan teater. Dia berbicara begini, “Gimana ya caraku bisa bertahan hidup dengan teater?” Banyak sekali seniman-seniman teater yang kebingungan terhadap dirinya terutama, dan juga seniman-seniman sastra yang juga bingung terhadap dirinya. “Terus pie carane aku bertahan hidup dengan kesenianku ini?”

Nah akhirnya saya berbicara begini, “Kita tidak pernah percaya diri dengan perteateran kita, sehingga kita menganggap bahwa teater adalah proses yang remeh-temeh, dan ketika kita membantu proses perteateran orang. Misalnya, mendampingi mereka membikin setting, orang cukup berkata terimakasih mas, selesai. Tanpa merasakan adanya beban apapun. Bahkan sampai tidak berfikir pada ruang penghormatan secara pribadi, tidak hanya penghormatan secara materiil. Proses penghormatan ini, tidak ada proses penghargaan,” nah, saya mengatakan begini pada temen saya, “Kita harus percaya diri dengan sastra dan teater. Kita harus percaya diri denga kesenian teater. Kita harus percaya diri dengan kesenian.

Kita liat saja orang tua yang jualan tahu bulat. Bayangin, orang bikin tahu bulat itu dia hanya membikin dari tepung yang sudah ada resepnya begitu saja kemudian tinggal di bentuk terus dimasukkan ke dalam tempat. Dikelilingkan ke pick up, terus dia hanya bilang tahu bulat lima ratuasan di goreng dadakan. Dalam satu hari, mereka bisa mendapatkan penghalisan bersih Rp 500.000, minimal Rp 300.000 per hari. Artinya, mereka bisa hidup dari itu.

Dia sangat percaya diri, sangat luar biasa. Tahu bulat yang barang sepele, barang sederhana bisa menghidupi dirinya. Nah, problemnya kenapa kita yang seniman, bisa menciptakan sebuah karya seni yang luar biasa, justru tidak percaya diri. Bayangkan bung, membuat sebuah puisi itu bukan remeh-temeh, langsung bisa nulis dan jadi puisi. Kamu harus membaca banyak buku, kamu harus berfikir, bahkan kamu harus kuliah jurusan sastra, kamu harus berdiskusi mati-matian dan sebagainya. Untuk membuat sebuah karya puisi, dengan proses lebih panjang dari pada orang bikin tahu bulat, kok kita tidak percaya diri?

Apakah kemudian puisi ini harganya lebih murah dari pada tahu bulat? Bagi saya dititik tertentu, tidak. Nah, artinya bagaimana seorang seniman itu harus percaya dengan karyanya. Sekarang bagi saya sudah tidak zamannya, kita harus menciptakan karya maestro yang baru kemudian di publishkan tidak. Setiap orang punya hak untuk mempublishkan karyanya, apakah itu bagus atau tidak. Seniman harus mulai belajar untuk percaya diri.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

To Top