Home ResensiFilm Serial Friends: Pertemanan Tanpa Gawai

Serial Friends: Pertemanan Tanpa Gawai

by Ave Angela
387 views

Saat ini, orang cenderung membuka gawainya ketimbang berkomunikasi secara langsung dengan orang lain di sekitarnya. Percakapan lewat gawai terasa lebih menarik daripada percakapan tatap muka.

Serial Friends mampu mengajak kita, orang-orang yang tidak bisa lepas dari gawai, untuk merasakan interaksi antarmanusia pada tahun 90-an, masa di mana smartphone belum menjamur.

Lewat sitcom karya David Crane dan Marta Kauffman ini, penonton akan belajar untuk membangun percakapan dengan orang di sekitarnya. Serial Friends yang terdiri dari 10 season menampilkan interaksi antarenam sahabat yang tinggal dalam satu apartemen di New York.

Cerita bermula saat seorang wanita berbaju pengantin menemui seorang perempuan usia 20-an yang bersama empat temannya di sebuah kedai kopi. Ia adalah Rachel Green, yang melarikan diri dari pernikahannya dan menemui Monica Geller, teman masa sekolahnya yang berprofesi sebagai chef.

Monica menerima Rachel yang melarikan diri untuk tinggal di apartemennya. Di bangunan itu, ia mengenal empat teman Monica yang lain, yaitu Ross Geller, saudara Monica yang berprofesi sebagai ahli palaentologi; Joey, seorang aktor gagal; Phoebe, seorang terapis; dan Chandler seorang eksekutif perusahaan.

Mereka sering berkumpul dan bercakap-cakap di kedai kopi atau di ruang apartemen Monica yang besar. Interaksi mereka selalu terasa mengasyikan dan tidak canggung walau tanpa kehadiran smartphone seperti saat ini.

Kisah setiap karakter utama digarap dengan porsi yang seimbang, tidak ada kisah karakter yang mendominasi. Berbagai kisah mereka mengenai keluarga, karier, seks, cinta yang Dead on Arrival (D.O.A) atau kandas, dikemas menjadi jokes yang jenius dan dibawakan dengan sangat baik oleh para pemainnya sehingga penonton bisa menikmati dan menertawakan kisah-kisah mereka yang sebenarnya sadis.

Berbagai lelucon tersajikan dalam serial ini, mulai dari slapstik hingga yang menggunakan sarkasme seperti yang biasa dilontarkan oleh tokoh bernama Chandler.

Serial ini mampu mengingatkan penonton tentang arti pertemanan yang sesungguhnya. Enam sahabat ini memahami dan menerima kepribadian satu sama lain seperti Ross yang terobsesi dengan dinosaurus, Chandler yang humor sarkastiknya, atau Monica yang mengidap OCD (Obsessive-Compulsive Disorder) yang membuatnya tergila-gila dengan keteraturan.

Mereka juga tetap bersama dan saling mendukung di saat senang maupun susah seperti saat Rachel tidak punya penghasilan, Monica kehilangan pekerjaan, atau saat mantan istri Ross menikah dengan seorang lesbian. Sama seperti penggalan lirik lagu pembuka serial ini:

I’ll be there for you when the rain starts to pour.
I’ll be there for you like I’ve been there before.
I’ll be there for you cause you’re there for me too
.

[redaksi/ Pandan]

– – – – – –

Baca resensi di lppmkreativa.com atau tulisan Ave lainnya

Related Articles