Home Resensi Si Putih: Konspirasi Pandemi dalam Novel Fantasi

Si Putih: Konspirasi Pandemi dalam Novel Fantasi

by Renny Wulandari
586 views

“Aku paham sekarang. Ada yang juga penting dibanding berkumpul lagi dengan ayah dan ibuku. Hewan. Tumbuhan. Mereka juga penting. Dunia ini tidak semata-mata tentang manusia.“ (Tere Liye, 2021: 315)

Pada masa pandemi Covid-19 banyak orang merasa bosan saat di rumah. Untuk itu, para pecinta buku tentunya akan memilih membaca buku sebagai rutinitas wajib. Umumnya, orang akan lebih suka membaca cerita fiksi daripada nonfiksi. Nah, pada hal ini ada banyak genre cerita, salah satunya fantasi.

Bagi penggemar cerita fantasi tentu tidak asing dengan novel yang berjudul “Si Putih“ karya Tere Liye. Novel ini menyuguhkan cerita tentang petualangan yang fantastis melalui pilihan-pilihan kata. “Si Putih“ sendiri merupakan salah satu karya Tere Liye dalam serial dunia paralel yang terbit pada tahun 2021 oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama.

Ada hal yang menarik dalam novel ini. Tere Liye mampu mengemas kejadian pada saat ini ke dalam novelnya, yaitu masalah pandemi. Si Putih merupakan seekor kucing milik Raib, salah satu petualang dunia paralel. Siapa sangka, rupanya Si Putih adalah hewan dengan kekuatan terbesar di dunia paralel.

Kucing yang bernama Si Putih ini memiliki masa lalu yang menarik. Ia telah melewati kehidupan yang panjang, salah satunya melewati pandemi virus yang mematikan. Diceritakan seorang anak yang bernama N-ou terpisah dengan kedua orangtuanya karena ia telah terinfeksi virus.

Tanpa diduga N-ou justru bertemu dengan Si Putih dan mereka pun saling membantu, sehingga menjadi sahabat yang terikat pada suatu kekuatan besar. Mereka pun menjelajahi klan-klan yang tidak pernah diduga keberadaannya. Pada awalnya mereka ingin menembus dinding untuk menemui orang tua N-ou. Namun, mereka pun memilih menjelajahi klan di dunia paralel dan menemukan jati diri.

Baca Juga: The Gifted: Setiap Sekolah Memiliki Rahasia

Mengapa harus novel “Si Putih?“

Dari segi covernya saja buku ini sudah menarik. Warnanya yang putih keabu-abuan dengan lustrasi kucing dan naga mampu menggambarkan isi novel. Pertarungan Si Putih dan naga menjadi hal yang ditonjolkan dalam cerita ini.

Hal ini dikarenakan cerita ini juga menyuguhkan konflik perebutan kekuasaan yang mampu memakan banyak korban. Perebutan keekuasaan di tangan para pemilik kekuatan menyebabkan adanya konspirasi pandemi agar banyak orang yang mati. Tujuannya hanya agar bisa menguasai klan bahkan dunia paralel.

Tidak jauh dari isu-isu awal kemunculan Covid-19, pandemi virus pernah dikabarkan merupakan sebuah konspirasi dari para pemimpin dunia untuk memusnahkan sebagian manusia. Tere Liye seolah-olah ingin menggambarkan kejadian serupa dalam kisah fantasinya.

Terlepas dari hal tersebut, Tere Liye berhasil membuat pembaca seolah-olah berada di dalam cerita. Hal ini tentu salah satunya disebabkan oleh persamaan penderitaan atau kejadian, yaitu pandemi Covid-19. Selain itu, karakter yang ditampilkan dalam novel ini mampu menghidupkan cerita, seperti tokoh Pak Tua yang humoris.

Petualangan yang penuh menegangkan mampu dideskripsikan dengan sangat apik. Hal-hal yang terlihat tidak mungkin menjadi nyata jika sudah berada dalam novel ini. Hal itu dapat ditemukan dengan adanya interaksi antara manusia dan hewan serta tumbuhan yang mampu membangkitkan imajinasi tanpa kesan memaksa.

Memang, di masa pandemi seperti saat ini, pembicaraan mengenai virus sangat menarik untuk dibaca. Terlebih, di akhir cerita Tere Liye menutup kisah Si Putih dengan sangat menarik dan membuat pembaca penasaran dengan kisah selanjutnya. Setiap lembar kisah dan kerumitan yang disuguhkan melalui gaya kepenulisan Tere Liye yang khas juga membuat pembaca tidak bosan.

Di samping hal tersebut, ada nilai-nilai yang bisa diambil dari novel ini, seperti kita harus memahami jika dunia ini bukan hanya dihuni manusia saja, melainkan ada hewan dan tumbuhan juga. Pada hal ini, kita akan belajar mengenai kehidupan, di mana selalu ada pihak yang serakah dan ingin menang sendiri. Namun, meskipun demikian kebenaran akan selalu menang. Setelah membaca novel ini kita akan lebih memahami mengenai kehidupan dari sudut yang berbeda.

Related Articles