Home Resensi Squid Game: Pertaruhan Nyawa dalam Permainan Anak-Anak

Squid Game: Pertaruhan Nyawa dalam Permainan Anak-Anak

by Aninda Yusrina
169 views

Semasa kecil pasti kita mengalami masa-masa asik memainkan berbagai macam permainan anak-anak. Namun, bagaimana bila kita memainkan permainan tersebut ketika sudah beranjak dewasa? Beginilah alur cerita serial Netflix terbaru berjudul Squid Game yang berasal dari Korea Selatan. Ratusan orang yang terlilit hutang rela bertaruh nyawa dalam survival game berhadiah uang 45,6 miliar won.   

Kisah berawal dari karakter utama bernama Seong Gi Hun (Lee Jung Jae) yang sedang mengalami masalah ekonomi. Ia adalah seorang laki-laki dewasa yang sudah bercerai dengan istrinya dan memiliki satu orang anak. Akhirnya ia hidup sangat sederhana bersama ibunya. Gi Hun bekerja sebagai sopir dan terkadang mengikuti taruhan balap kuda. Di usia yang sudah tak muda lagi, Ibu Gi Hun masih ikut mencari penghasilan hingga ia jatuh sakit. Nyatanya, semua usaha itu belum dapat mencukupi kebutuhan ekonomi mereka, ditambah dengan hutang-hutang yang melilit.  

Suatu ketika, saat Gi Hun berada dalam titik terendah, ia bertemu dengan lelaki asing di stasiun bawah tanah yang menawarinya untuk mengikuti sebuah game berhadiah uang. Singkat cerita, Gi Hun menyetujui ajakan tersebut.  

Di lokasi permainan yang tampak seperti ruang isolasi, Gi Hun bertemu dengan 455 peserta lainnya. Laki-laki dan perempuan, dari yang berusia lansia hingga anak muda ikut menjadi peserta yang sama-sama membutuhkan uang. 

Mereka dimintai persetujuan untuk mengikuti permainan tanpa diberikan petunjuk sama sekali. Pada mulanya mereka menganggap enteng hal tersebut hingga tibalah dalam permainan pertama yang merenggut banyak nyawa para peserta. 

Baca Juga: Alzheimer Disease Educational Park: Inovasi Taman Edukasi Alzheimer Karya Mahasiswa UNY

Permainan Masa Kecil Bertaruh Nyawa 

Sejak adegan pembuka episode pertama, serial ini sudah menggambarkan sosok Gi Hun dan Sang Woo (teman masa kecil yang juga ikut dalam survival game) sedang bermain di tengah lapangan. Benar saja, pada permainan pertama bernama “lampu merah, lampu hijau” yang kerap dimainkan anak kecil di Korea, para peserta dikumpulkan di sebuah lapangan besar untuk mengikuti game tersebut.  

Tepat di bagian pojok depan lapangan, terdapat sebuah boneka raksasa yang dapat mendeteksi pergerakan. Ketika boneka mengatakan “lampu merah” sembari berbalik badan maka para peserta harus berdiam diri dan menghentikan pergerakan. Jika terdeksi bergerak maka peserta itu akan tereliminasi dan langsung ditembak mati.  

Setiap kekalahan dan nyawa tersebut akan menyumbang uang lebih banyak untuk pemenang. Begitu pula dalam 7 ronde permainan lainnnya yang harus mereka lewati.  

Gambaran Sifat Realistis Manusia 

Serial ini menghadirkan banyak karakter tokoh yang bermacam-macam. Setelah para peserta menyadari bahwa setiap orang yang tereliminasi akan menambah uang yang disediakan, maka mereka berusaha mencelakai satu sama lain bahkan hingga rela membunuh. 

Dari sinilah mulai terlihat sifat asli masing-masing tokoh. Gi Hun merupakan karakter utama dengan sifat protagonis, ia membantu dan melindungi peserta lain agar tidak tereliminasi. Namun, tak bisa dipungkiri ia juga berlaku egois pada ronde game kelereng. Pada game tersebut Gi Hun menipu tokoh kakek yang menderita demensia sehingga mudah dikelabuhi. Gi Hun terpaksa melakukan hal tersebut agar tetap hidup dan dapat melanjutkan ke ronde berikutnya. 

Di sisi lain, tokoh Sang Woo juga menipu rekannya, Ali. Padahal Ali sudah menaruh kepercayaan yang begitu besar padanya, tetapi berakhir dikhianati hingga akhirnya tereliminasi. Banyak penonton yang sangat geram pada bagian ini. Tetapi, di sisi lain beginilah gambaran manusia yang sebenarnya, egois untuk melindungi dirinya sendiri. 

Wajibkah Masuk ke dalam List Tontonan? 

Jawabannya adalah iya, jika anda sudah berusia lebih dari 18 tahun. Ada beberapa adegan dalam serial ini yang tidak pantas ditonton oleh anak-anak. Ditambah tidak sedikit ditampilkan adegan berdarah yang mengenaskan. Namun, di luar itu semua, nilai moral dan kehidupan yang disajikan dapat menjadi pembelajaran bagi penonton. Jumlah episode yang tidak begitu banyak dan keseruan dalam setiap ronde permainan dapat menjadi hiburan yang menyenangkan. 

 

Related Articles