Home Resensi The Murder of Roger Ackroyd: Saksi Palsu

The Murder of Roger Ackroyd: Saksi Palsu

by Paryanti
372 views

Judul               : The Murder of Roger Ackroyd

Penulis             : Agatha Christie

Tahun              : 2017

Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama

Tebal Buku      : 352 pages

ISBN               : 9789792292145

Agatha Cristhie. Siapa sih yang tidak tahu penulis yang satu ini? Dia penulis luar negeri yang karyanya setara dengan novel legendaris “Sherlock Holmes.“ Namanya sangat dikenal di kalangan pecinta buku bergenre detektif dan pembunuhan. Banyak karyanya yang diterjemahkan dalam berbagai bahasa di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Bagi kamu pecinta genre detektif, serial pembunuhan karya Agatha Cristhie sangat direkomendasikan seperti yang satu ini. “The Murder of Roger Ackroyd“ mengisahkan tentang misteri pembunuhan Roger, seorang dermawan terpandang di daerahnya. Namun, kali ini tokoh utama dalam cerita bukanlah detektif tercinta, yaitu Mr. Hercule Poirot. Dia adalah dr. Sheppard, satu-satunya dokter di daerah itu dan sahabat baik Roger.

Sinopsis

Cerita diawali dengan Roger yang meminta bertemu dr. Sheppard secara pribadi untuk membicarakan kasus bunuh diri Mrs. Ferras. Carroline, kakak dr. Sheppard, mengatakan bahwa kematian Mrs. Ferras karena perasaan bersalah telah membunuh suaminya, tetapi kebenarannya adalah wanita itu bunuh diri setelah diperas uangnya oleh seseorang. Roger mencurigai orang yang memeras kekasihnya itu adalah salah seorang anggota di Frankley, rumahnya. Akan tetapi, sebelum dia membaca surat dari Mrs. Ferras, dirinya terbunuh. Dokter Sheppard baru saja pulang ke rumah setelah makan malam di rumah Roger ketika salah seorang di Frankley menelponnya, mengatakan bahwa Roger telah meninggal. Orang yang menelpon itu adalah Parker sang kepala pelayan.

Dokter Sheppard segera kembali ke rumah sahabatnya untuk memastikan bahwa Roger telah meninggal. Penyebab kematiannya adalah tusukan pisau di tengkuk leher. Sementara itu, Parker tidak mengakui bahwa dirinya yang telah menelpon dr. Sheppard, ruangan terkunci dari dalam, dan jendela terbuka lebar. Jejak yang ada di balik jendela menunjukkan itu jejak sepatu milik Ralph, anak angkat Roger. Raymond, sang sekretaris mengatakan bahwa dia sempat mendengar suara Roger berbicara dengan seseorang tentang masalah keuangan. Secara kebetulan saat itu Ralph juga tengah mengalami kesulitan soal biaya pertunangan dirinya.

Baca Juga: Buku Latihan Tidur: Bukan Obat untuk Tidur

Kasus kematian Roger pun ditangani oleh polisi setempat, tetapi keponakan Roger tidak setuju, karena cara kerja polisi yang tidak meyakinkan. Miss Flora akhirnya memilih Mr. Hercule Poirot yang baru saja pindah ke daerah itu. Awalnya Poirot menolak menerima permintaan gadis itu, karena dia sudah memutuskan pensiun dan pindah ke daerah itu untuk menanam labu.

Seperti biasa, Agatha Christie sangat pandai dalam menjelaskan karakter tokohnya. Seorang detektif yang dalam benak setiap orang biasanya keren atau menyeramkan, justru digambarkan menjadi seseorang dengan kepribadian unik. Contohnya Poirot yang hobi menyemir rambutnya dibandingkan menyemir sepatu dan pensiun hanya untuk menanam labu.

Di daerah itu, Poirot menjadi tetangga dr. Sheppard. Dia memang menolak menyelidiki kasus kematian Roger, tetapi Poirot menemani dr. Sheppard sebagai saksi utama dalam penyelidikan. Lama-kelamaan Poirot merasa ada yang tidak beres dalam penyelidikan polisi. Dia tidak bisa mengabaikan kebenaran dan membiarkan orang tak bersalah dijadikan tersangka, karena pada saat itu semua bukti mengarah pada Ralph.

Pada akhirnya, Poirot bersedia melakukan penyelidikan dengan caranya sendiri dan mengabaikan bukti-bukti fisik yang ada. Dia menggabungkan hal-hal kecil, seperti pena bulu, potongan kain lap, cincin yang tenggelam di kolam, dan lainnya. Semua bukti itu membuat semua orang dalam Frankley terlihat mencurigakan. Masing-masing dari mereka menyembunyikan sebuah rahasia, tetapi pada akhirnya mau menceritakan pada Poirot. Hanya tersisa satu orang yang tidak jujur dan sangat pandai menyembunyikan sesuatu.

Dokter Sheppard, sahabat baik Roger, dialah sang pembunuh sebenarnya. Dokter Sheppard tetap tidak mau mengakuinya sampai Poirot menjelaskan hipotesisnya bagaimana cara tetangga barunya itu membunuh dan menyembunyikan bukti. Jika dr. Sheppard tidak mau mengakui sendiri, maka Poirot yang akan menjelaskan semuanya pada polisi besok pagi. Detektif itu juga memberi saran kepada dr. Sheppard karena kasihan terhadap Carroline, kakaknya. Di akhir cerita, dr. Sheppard meninggal dan semua orang di sana mengira karena penyakitnya.

Analisis

Novel ini membuat pembaca mengasah otak untuk menebak-nebak siapa pelaku pembunuhan yang sebenarnya. Sejak awal pembaca diarahkan untuk mencurigai orang di rumah Roger dengan bukti-bukti yang ada. Sungguh plot twist yang sangat keren. Tidak akan ada yang menyangka bahwa pembunuh sebenarnya adalah si tokoh utama itu sendiri. Artinya, di sini tokoh utama mendapat peran antagonis. Hal yang sangat jarang dijumpai di cerita mana pun.  Meskipun buku ini mengangat tema pembunuhan, di dalamnya ada sedikit unsur romantis yang membuatnya semakin menarik, tidak monoton.

Hanya saja, terlalu banyak tokoh yang tidak penting dalam cerita. Contohnya pelayan ruang duduk, komandan polisi, dan tetangga cerewet. Tokoh-tokoh ini tidak ikut mengambil peran dalam cerita sehingga malah membuat pembaca bingung dengan posisinya.

Meskipun begitu, novel ini merupakan sebuah karya yang luar biasa. Dari novel ini kita dapat mengambil beberapa pesan moral. Novel ini mengajarkan kita untuk tidak meremehkan hal-hal kecil, tidak menuduh seseorang sebelum terbukti kebenarannya, dan tidak peduli bagaimana menyembunyikannya, sebuah kebohongan pasti akan terungkap.

Satu lagi yang penting. Jangan terlalu percaya pada seseorang. Bisa jadi orang yang paling dekat dengan kita justru musuh kita sendiri. Terkadang, seseorang yang terlihat paling dapat dipercaya, baik, dan sama sekali tidak mencurigakan sebenarnya dialah orangnya.

Related Articles