Film

The Painted Bird: Sebuah Tragedi yang Tak Ingin Dilihat

lppmkreativa-- the painted bird

Penonton yang semula berbondong-bondong memasuki Bell Lightbox Theater 1, mulai berdiri dan meninggalkan gedung, ketika film The Painted Bird, mulai di putar. Padahal, Dorota Lech, programer sekaligus kurator Toronto International Film Festival, telah mewanti-wanti penonton agar tetap menyaksikan The Painted Bird, hingga selesai.

“[The Painted Bird] membawa kita terjun ke sudut-sudut paling gelap dari jiwa manusia. Kadang-kadang, memang sangat sulit untuk menonton kekejaman di layar, tetapi sangat penting untuk menjadi saksi [sejarah umat manusia],” tutur Dorota Lech, sebelum film diputar.

Kendati demikian, banyak penonton yang memilih berdiri dan meninggalkan gedung teater, karena tak sanggup melihat adegan demi adegan yang disajikan di layar. Bahkan, dilansir dari Hollywood Reporter, sudah ada yang meninggalkan gedung ketika film baru dimulai. Dan, ketika film selesai, gedung yang memiliki kapasitas 522 penonton itu telah kosong lebih dari separuhnya.

Hal ini ditengarai banyak penonton yang tidak sanggup melihat kekejaman yang disajikan sepanjang cerita. Film yang diadaptasi dari novel karya Jerzy Kosinski dengan judul sama itu, menceritakan seorang laki-laki Yahudi yang diperankan Petr Kotlar, hingga menjadi dewasa (diperankan Stellan Skarsgard). Ia mengembara di daratan Eropa Timur dan terjebak dalam konflik identitas setelah Perang Dunia 2.

Dalam perjalanannya, tokoh utama yakni laki-laki yang tak disebutkan namanya hingga bagian akhir film mengalami tragedi demi trgedi, melompat dari satu kepahitan ke kepahitan yang lain. Salah satu bagian yang membuat penonton senantiasa berdiri dan meninggalkan tempat duduk adalah saat  si anak laki-laki dikubur hidup-hidup dan disisakan kepalanya tetap di permukaan tanah.

Sementara anak laki-laki itu mulai membeku di tengah musim dingin Eropa, segerombol burung jalak mulai berbondong-bondong datang dan mematuk kepalanya. Alih-alih mati dan adegan kekejaman berhenti, sang anak tetap hidup hingga dewasa dan membawa penontonnya menyaksikan tragedi-tragedi lainnya.

Xan Brooks, kritikus film The Guardian, mengaku beruntung melihat film garapan Vaclav Marhoul, tersebut sekaligu tak ingin menyaksikan film yang sama di lain kesempatan. Menurut Brooks, yang menyaksikan The Painted Bird, di Venice Film Festival sukses menggambarkan kondisi Eropa Timur setelah Perang Dunia 2, yang porak-poranda.

Kendati menggunakan gambar hitam putih, namun Marhoul, sukses menunjukkan lanskap Eropa di zaman tersebut. Si anak laki-laki, terus tumbuh dan besar di tengah tragedi dan keputus asaan yang menimpa dirinya.

“Dia [tokoh laki-laki] adalah bagian dari Odysseus [yang terbaik], bagian dari Ayub dalam kisah yang membuatnya terperangkap dalam pusaran perang dunia kedua, tersapu dari satu episode mimpi buruk ke yang berikutnya. Marhoul merekam film selama beberapa tahun, sehingga kami menonton Kotlar menua,” tulis Xen Brooks, dikutip The Guardian.

Sementara Petr Kotlar, menua di tengah tragedi yang ia alami di dalam film, penonton yang semula memadati gedung Bell Lightbox Theater 1, telah pergi satu persatu. Xen Brooks, yang beruntung tidak berada di dalam gedung yang sama  pun menutup tulisannya dengan sebuah kesimpulan.

“Jiwa-jiwa tangguh yang tetap berada di jalur itu dihargai dengan secercah harapan terkecil yang dapat dibawa pulang. Setelah tiga jam di neraka (atau menyaksikan pernderitaan tanpa henti), remah-remah kepahitan itu meberi kenyamanan yang dapat mengisi jiwa mereka,” pungkasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Terbaru

To Top